kiyeomie

hanya sepersekian detik dari masuknya pesan dari seokmin, laki-laki yang sebelumnya terlihat suntuk bersama dengan kertas tugasnya langsung dengan sigap bangkit dari duduknya dan mengambil langkah cepat menuju balkon rumahnya untuk memastikan keberadaan seokmin.

dengan gegabah jisoo lantas membuka pintu berwarna putih yang sebagian tengahnya diisi dengan kaca bertekstur. satu tangannya meraih tepian balkon untuk menjaga tubuhnya tidak melewati batas dan cukup kepalanya yang memandang keluar.

and there he is. bersandar disamping motor sambil terus mengecek ponselnya, sedikit risau karena tanda dua centangnya belum juga berubah menjadi biru.

jisoo sedikit tersenyum setelah melihat seokmin dibawah sana. lagi-lagi dengan cepat ia bergegas untuk menghampiri seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

“sebentar,” ucap jisoo meninggalkan jeonghan yang masih sibuk dengan tugasnya, “lima menit.”

jeonghan bahkan tidak sempat bertanya saking cepatnya jisoo berlari menuruni anak tangga di rumahnya itu, terheran ada apa dengan temannya itu tiba-tiba.

sangat cepat jisoo lalu membuka pintu rumahnya, mendapati seokmin yang juga menoleh ke arahnya. keduanya saling melempar senyum, seakan sangat menanti kehadiran satu sama lain.

“hai” ucap jisoo dengan napasnya yang masih belum teratur.

seokmin lalu membenarkan posisi berdirinya menjadi lebih tegak dihadapan jisoo, “kenapa ngos-ngosan gitu? lari-larian ya?”

“hm?” tanya jisoo dengan matanya yang membulat menatap seokmin, “enggak”

sudah tidak tahu kali ke berapa seokmin mendapati jisoo ini sangat lucu. terdengar jelas napasnya yang saling memburu, pelipisnya yang sedikit bercucuran keringat, tetapi masih saja mengelak. gemas.

dan karena tidak ingin menjadi menyebalkan, seokmin mengangguk tanda ia menyetujui pernyataan jisoo barusan.

“ini aku ada beli cendol di jalan,” ucap seokmin sambil memberikan jisoo satu plastik es cendolnya. tidak ada alasan khusus mengapa es cendol. hanya karena di jalan tadi ia berpapasan dengan pedagang es cendol, maka dibelinya untuk jisoo, “mau?”

dengan senang hati jisoo menerimanya, “thank you,”

“sini aku bantu bukain, ini mau diminum sekarang?”

jisoo mengangguk.

“seger, ya? malem-malem minum es cendol.”

jisoo mengambil kembali plastik es cendol yang sudah dibantu seokmin untuk dibuka ikatan karetnya dan mengangguk lagi karena benar kata seokmin, segar sekali rasanya setelah suntuk yang dihadapi jisoo ketika mengerjakan tugasnya tadi.

“seokmin,” ucap jisoo yang kini di samping seokmin ikut bersandar dengan sepeda motornya, “emang gapapa kamu kesini?”

yang ditanya tadi sebelumnya hanya memandang lurus kedepan menikmati dalam diam kehadiran seseorang di sebelahnya, sesekali melirik dia yang sibuk sekali berusaha meraih cendol dengan sedotan plastik yang sama sekali tidak sekuat itu untuk menampung beberapa cendol untuk bisa sampai ke mulutnya. menambah lagi momen lucu hong jisoo dalam memorinya.

“ya gapapa, emangnya kenapa?”

“katanya jeonghan, kamu lagi main sama mingyu.”

“iya, betul. tapi kata aku kan apa coba?”

“apa?”

“aku mah gak kaya si mingyu-mingyu itu atuh. aku inget kamu terus, makanya kesini.”

“gombal.”

“ih bener. kan katanya jisoo gak enak tadi, sekarang udah enak belum?”

“hmm,” jisoo diam sejenak dan tatapannya berpindah ke arah seokmin, “gak tau, sih. harusnya udah.”

senyumnya seokmin kembali merekah, sedikit lega mendengar ucapan jisoo. meskipun masih menyisakan kejanggalan.

“kapan-kapan, ya? aku mampir lagi. gak malem-malem gini, gangguin jisoo lagi ngerjain tugas.”

“iya. lain kali semoga gak batal lagi, ya?”

“iya, semoga yah.”

kemudian keduanya hanyut merasakan hembusan angin malam. suara yang terdengar hanya bising dari jalan raya yang padahal cukup jauh dari dalam perumahan jisoo. diterangi cahaya dari beberapa rumah yang masih menyala terang, lampu jalan, dan sorot bulan yang malam itu hanya setengah lingkaran terlihat keberadaannya.

tiba-tiba ada pertanyaan-pertanyaan yang mengusik mereka;

apa sebenarnya tujuan seokmin malam ini berada di depan rumah jisoo membawa satu plastik es cendol?

mengapa jisoo merasa terganggu karena hampir batal pertemuannya dengan seokmin?

dan sebenarnya mereka ini apa?

“udah abis lima menitnya!!! hong jisoo, kerjain tugasnya lagi!!” jeonghan memecah keheningan diantara keduanya dengan berteriak dari atas balkon rumah jisoo.

keduanya terkekeh, tidak sadar kalau lima menitnya sudah berlalu.

“makasih ya es cendolnya. seger!”

“sama-sama, jisoo. semangat ngerjain tugasnya, ya!”

“iya.”

“pulang ya, aku?”

take care!”

“pasti, dong.”

“seokmin,”

“iya?”

“kabarin aku kalau udah di kost-an, ya.”

“siap!”

sebaik-baiknya manusia berencana, tetap bukan kuasanya untuk menentukan kemana arah langkahnya bertujuan.

maksud hati ingin menghindari seseorang yang sekarang malah berdiri beberapa langkah dari dirinya. laki-laki yang tingginya bertambah sejak terakhir kali mereka bertemu di bandara, dengan kaos putih dibalut kemeja flanel dan celana jeans, dilengkapi dengan senyum manis yang sangat familiar.

and oh that lips, bet jeonghan still remembers how it tastes, though.

“gondrong?” begitu kata pertama yang diucap ketika jeonghan mendekat, masih dengan seringai yang tidak mau lepas karena terlalu bahagia.

“males potong rambut,” jawab jeonghan yang memang benar begitu alasannya, “gak sempat.”

lawan bicaranya hanya mengangguk dan kemudian memimpin langkah mereka selanjutnya.

“nginep disini?” pertanyaan yang sudah mengganggu benak jeonghan sejak membaca pesan masuk dari yang bersangkutan.

“disuruh jisoo, katanya biar gue gak kabur.”

“kabur kemana?”

“ke bandung.” jawabnya yang tentu saja bercanda.

jeonghan terkekeh kecil, “ngapain, di bandung gak ada laut.”

“iya, adanya cilok, kan?”

“iya. sama cuanki.”

tawa kecil keduanya mengiringi pemberhentian langkah mereka untuk duduk di salah satu bean bag yang tersedia di pinggiran pantai. bersiap-siap dengan seksama menyaksikan tenggelamnya matahari.

“hyungwon,” ucap jeonghan kepada seseorang di sebelahnya, yang menjadi alasan ia berencana sedemikian mestinya, tetapi ternyata pertemuan mereka harus terlaksana lebih dulu dari acara utamanya.

“hm?” matanya turut berpindah fokus kepada jeonghan. karena menurutnya, yang lebih indah bukan ada lurus didepannya.

“aneh,” jeonghan memberi jeda sejenak, “ketemunya kaya gini.”

“emang harusnya gimana?”

“gak tau”

hyungwon tergelak sedikit mendengar jawaban yang sangat yoon jeonghan, “kenapa? katanya gak mau ketemu gue? what did i do? beneran, deh, han.”

“because you are bunda’s favorite.”

“terus, masalahnya adalah?”

“bunda jadi minta gue pulang.”

“ini, sekarang udah pulang?”

“iya, tapi maksud bunda for good.”

“and?”

“gak bisa.”

“why?” hyungwon mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, ia benar-benar ingin tahu jawabannya.

“because it’s not you anymore, hyungwon.”

“okay,” hyungwon berusaha memahami, “terus?”

“terus, sekarang i hurt someone.”

“your boyfriend?”

“iya.”

jawaban jeonghan turut memberi perih dalam hatinya. setidaknya ia mengerti keadaan antara dirinya sekarang dengan mingyu—the boyfriend he hurt.

dan tanpa disadari, mataharinya sudah tidak terlihat. langit mulai gelap. riuh ombak bersahutan semakin kencang terdengar. angin malam menyelimuti tanpa memberi kehangatan.

jeonghan masih dipenuhi dengan kebingungan. sebab itu, tindakan-tindakannya menjadi tidak selaras dengan jalan pikirannya. persis seperti kejadian yang sempat terlupakan, ketika kali pertama mencicipi minuman beralkohol yang membuatnya berucap sesuka hati, kini jeonghan melabuhkan kepalanya untuk bersandar pada bahu yang menganggur di sebelahnya. bedanya, kali ini ia dalam keadaan sadar sepenuhnya.

“han, the past stays in the past. if it’s not me anymore, i understand. temenan aja, gak papa-papa, han.” hyungwon mengusap lembut pundak jeonghan yang ia tahu sedang lelah menanggung semuanya sendiri.

“bunda will never understand.”

“ngerti, coba dulu aja ngomong.” hyungwon memberi keyakinan, “atau, mau gue bantuin? ngomong ke bunda? i can just tell her, gue udah punya pacar, terus mau nikah.”

jeonghan sedikit terhibur dengan jawaban itu. seandainya memang semudah itu untuk meyakinkan bundanya, “percaya gak?”

“enggak kayanya.”

keduanya tertawa miris, tahu betul kalau hal itu tidak akan menyelesaikan masalah antara jeonghan dan bundanya.

“yaudah, i’ll take care of it later. gak usah dipikirin.”

“gak bisa, lah. kan, kita temenan.” hyungwon meledek jeonghan.

“shut up.”

malam yang semakin larut menjadi saksi bisu antara jeonghan dan hyungwon yang tidak pernah bisa bersatu, namun saling memberi kenyamanan. mereka masih dalam pelukan yang enggan terlepas. meski seperti terdengar sebuah rintihan dari yang sedang diam-diam menunggu dengan sabar, sendirian.

“tell me, about your boyfriend.” pinta hyungwon, “are you happy?”

“emang keliatan kaya gak bahagia?”

“bukan, bukan gak bahagia, han. tapi, i'm just wondering, what is it about him yang bikin lo gak mau pulang, terus nolak gue lagi?”

“lagi?”

“haha, iya, iya, bagian itu salah, deh. gak mau terima banget, sih.”

“gue yang ditolak.”

“diterima, tapi lo mabok.”

“lupain, deh.”

“yaudah, ceritain. gimana?”

masih dalam sandaran ternyaman, jeonghan berusaha menyusun setiap kata yang tepat untuk mendeskripsikan tentang mingyu yang ia cintai, “i love him, hyungwon.”

“hm?”

“how to love and feel loved.”

“you get it from him?”

“iya. everything.”

“good for you.”

namun teringat lagi bagaimana akhir-akhir ini hubungannya terasa tidak baik-baik saja. seandainya jeonghan tahu bagaimana caranya untuk memahami setiap perasaan, baik yang ada dalam dirinya, maupun orang lain. seandainya juga, ada pemikiran panjang sebelum melakukan sesuatu yang tidak pernah ia tahu akan melukai orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

“mingyu, namanya.” jeonghan berusaha sekali untuk menahan genangan yang mulai menutupi pandangan matanya itu jatuh ketika menyebut nama itu, “i don’t know how to tell him about us, because it is complicated. me, i’m complicated.”

“he mad?”

“as he should. he read our conversation.”

“everything?”

“uhm. he refuses to talk to me now.”

“i’m sorry, han. seharusnya, that conversation never happened dan beneran should have stayed in the past.”

“udah kejadian. salah gue.”

“don’t blame yourself like that, han. kebiasaan, nih.”

“it is, my fault. mau nyalahin siapa lagi? bunda?”

“han,”

“it’s fine, hyungwon. yang ini juga, i’ll take care, later.”

“you sure, you okay?”

“no. but at least, udah cerita semuanya. i need to pour out my thoughts. it’s suffocating.”

“you always have me, han. talk to me every time you need to. i’ll listen.”

“thank you, best friend.”

“sama-sama, best friend.

yoon jeonghan adalah manusia dengan segala usahanya untuk mengenali dirinya sendiri. yang sepanjang perjalanan hidupnya baru satu kali mengenal cinta sesungguhnya. yang tidak pernah punya pilihan akan jalan cerita hidupnya. dan hanya bertumpu pada dirinya sendiri.

mungkin memang di setiap prosesnya banyak kesalahan dan sama sekali bukan inginnya untuk menyakiti setiap hati yang hidup. isi kepalanya pun selalu dipenuhi kata maaf, walau tidak tahu bagaimana menyampaikannya. terlalu banyak yang terluka.

malam itu mingyu akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. pulang kepada kekasihnya, yoon jeonghan. setelah malam-malam sebelumnya ia memilih untuk mengasingkan diri sementara di rumah sahabat kecilnya, seokmin.

“a, pulang aja kali, ya.” gelisah mingyu sepanjang malam.

seokmin sudah lelah sekali terus-menerus mendengar keluhan mingyu, “terserah kamu, lah, ming. jujur, aing capek banget denger kamu uring-uringan gini. sok, sana pulang.”

“iya, dah. balik aja, gua. makasih udah nampung.”

“iyah, sama-sama. balik lagi, gapapa, kalau diusir.”

“kaga, lah. anjir, masa gua diusir.”

“siapa tau, ming.”

———

apabila jeonghan adalah sebuah buku, maka mingyu adalah seorang pembaca yang mempelajari setiap kata nya. semakin dibaca, semakin mingyu bisa memahami makna tersembunyi yang tertulis didalamnya.

melebihi siapapun, mingyu lah yang paling mengerti jeonghan. setidaknya menurut dirinya sendiri dan ia percaya diri akan hal itu.

mingyu tahu betul kalau saat ini jeonghannya sedang tidak mengerti tentang dirinya sendiri—untuk kesekian kali. jeonghannya dihadirkan seseorang dari masa lalu, yang mungkin sebelum ada mingyu, seseorang ini lah yang paling mengerti jeonghan lebih dari siapapun.

bohong apabila mingyu bilang ia tidak marah ketika dengan sengaja mengamati percakapan antara jeonghan dan si masa lalunya. merelakan hatinya terus terluka dengan memilih diam dan membiarkan kedua insan itu terus mengenang cerita lamanya.

bahkan ketika secara tiba-tiba dengan mudah jeonghan mengucap kata ‘sayang’. tidak seperti biasanya. sejuta tanya dalam benaknya, apakah memang diucapkan tulus atau hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya mingyu menjadi tidak percaya diri.

selalu, mingyu berusaha untuk memahami apa yang terjadi dan bukan tanpa alasan mingyu memilih untuk mengasingkan diri sementara dari jeonghan. keputusannya untuk tidak mengganggu jeonghan beberapa hari belakangan pun atas dasar usahanya membantu jeonghan menyusun pikiran-pikirannya dengan rapi terlebih dahulu, seperti pintanya setiap kali mereka sedang menghadapi suatu masalah.

tetapi yang terjadi malah semakin gundah saja hatinya ketika membiarkan jeonghan harus menghadapi semuanya seorang diri. tidak sampai hati membayangkan jeonghan menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti, bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan.

apalagi ketika jeonghan berusaha memberi tahu hal kecil seperti yang ia bilang pada percakapan terakhirnya di whatsapp, “ga makan mie dua hari.” ada senyum bangga merekah dibibir mingyu namun sesak dalam hatinya.

mingyu tahu, jeonghan juga sedang berusaha sebisanya.

lalu, diambilnya langkah-langkah kecil ketika ia sampai, di sebuah unit apartemen yang sudah ia tinggali bersama jeonghan dalam kurun waktu belakangan. sampai-sampai mingyu merasa rindu ketika jauh, sebab yang ia tahu, setiap pulangnya adalah selalu ke tempat ini.

rencana-rencananya sirna begitu yang pertama ia lihat adalah jeonghan sedang tertidur di sofa ruang tamu mereka yang berwarna putih. dibalut luaran berbahan rajut warna soft pink kesayangannya, tubuhnya mengecil karena tidurnya yang meringkuk menyesuaikan dengan panjang sofa. di salah satu tangannya, jeonghan masih menggenggam handphone miliknya. mingyu menyimpulkan bahwa mungkin jeonghan sedang menunggunya pulang, kembali kepadanya.

mungkin juga sebaiknya, untuk kali ini mingyu tidak boleh egois dan membiarkan rasa cemburu mengambil alih dirinya.

mungkin sebaiknya, mingyu harus mengalah. dengan berat hati.

mingyu mengusap lembut wajah kekasihnya yang masih tertidur lelap, tidak menyadari kehadirannya. dalam hatinya berteriak, “aku sayang kamu” sekencang-kencangnya. bukan karena ragu dan semata hanya untuk meyakinkan dirinya, mingyu tulus. dan ia berharap didengar, berharap tersampaikan, berharap dapat dirasa.

perlahan jeonghan membuka matanya setelah merasakan sentuhan di wajahnya. lalu senyum manis menyambut mingyu yang masih fokus memandangi jeonghan.

“tidur nya di kamar, jangan disini.” ucap mingyu ketika yakin jeonghan sudah benar-benar tersadar dari tidurnya.

“baru sampe?” tanya jeonghan yang sama sekali tidak mengindahkan perkataan mingyu. ia sendiri pun tidak ingat mengapa bisa ia tertidur di sofa.

mingyu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan jeonghan, “aku mandi dulu, abis itu packing. kamu lanjutin lagi aja tidurnya.”

bagaimana bisa?

justru jeonghan kembali bertanya-tanya, mengapa sampai saat ini mingyu belum bertanya, mengapa seolah menghindarinya, dan bertingkah seperti semuanya baik-baik saja.

di dalam kamar mereka, kini jeonghan duduk bersila dengan satu koper cukup besar yang terbuka di depannya, yang sebagian sisinya sudah terisi beberapa baju dan kebutuhan-kebutuhan yang akan mereka bawa pergi ke lombok nanti untuk menghadiri pernikahan jisoo, sahabat lama jeonghan.

salah satu pakaian yang sudah terlipat rapi itu, yang sengaja ia taruh paling terakhir, adalah pakaian yang jeonghan beli dengan segala pertimbangan. berkali-kali mingyu dipusingkan karena pakaian itu.

“batik, atau kemeja, ya? apa suit?”

“terserah, yang.” selalu begitu jawab mingyu.

“celananya mau apa?”

“sepatunya yang mana?”

“ini cocok, gak?”

“atau yang ini aja?”

segala isi lemarinya dikeluarkan, dipasangkan dibadannya satu-persatu, mencari yang cocok dan terlihat bagus.

setelah diputuskan, akhirnya terpilih satu kemeja, yang saat ini sedang ia seka perlahan. membayangkan bagaimana kekasihnya dibalut kemeja ini. tidak sulit bagi jeonghan untuk memahami selera pakaian mingyu setelah bersama cukup lama.

yang seharusnya mingyu tahu, adalah bukan tentang untuk siapa dan karena siapa jeonghan begitu serius perihal mencari sepasang pakaian.

jeonghan terlalu bersemangat membayangkan ia menghadiri hari bahagia sahabatnya yang dikenal tidak pernah serius setiap menjalin hubungan dengan seseorang, membayangkan memperkenalkan mingyu yang selama ini membuatnya merasa dicintai kepada kedua sahabat lamanya, membayangkan dirinya kembali ke rumah yang sebenarnya sudah lama ia rindukan.

jeonghan tidak pernah sebahagia itu akhir-akhir ini. sebelum cerita-cerita masa lalu yang tidak pernah diketahui akhirnya terungkap. sebelum perasaan yang tidak pernah terbalas itu kembali menyeruak. sebelum orang yang dulu selalu menemaninya mencari jati diri itu kembali setelah pergi begitu saja.

sampai akhirnya, ada hati yang terluka disini.

“kamu udah?” mingyu kembali setelah mandi, dengan masih menyeka rambutnya yang basah dengan handuk, “segini doang yang mau dibawa?”

jeonghan mengangguk, “iya.”

masih dalam diam, mingyu melanjutkan gilirannya untuk mengemas barang-barang yang akan dibawa.

sesak sekali bagi jeonghan. kalau boleh memilih, lebih baik sekarang mingyu berteriak, menyumpah serapahi dirinya, apapun itu, asal tidak diam.

mengapa tidak bertanya, tentang hyungwon, tentang bunda, apa saja. jangan diam seperti ini.

meskipun jeonghan sendiri tidak pernah tahu, apakah ia sudah menyiapkan segala jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.

“mingyu.” ucap jeonghan lirih.

“hm?” jawab mingyu yang masih sibuk merapikan pakaian dan barang keperluannya.

“beneran gapapa?” sekali lagi jeonghan memastikan untuk kesediaan mingyu pergi menemaninya pulang ke lombok.

ada senyum pahit di wajah mingyu, “gapapa, sayang tiket pesawatnya.”

atau dengan kata lain, mingyu memang senang menantang diri. ingin sekali lagi menguji dirinya sendiri, sejauh mana batas kepercayaan dirinya itu dan seberapa kuat cintanya kepada jeonghan.

seketika pun semuanya telah siap.

tetapi tidak dengan setengah hati mingyu dan jeonghan yang dipenuhi dengan ragu dan takut.

masih ragu, apakah harus benar-benar pergi?

takut, tidak sekuat yang diperkirakan untuk menghadapi yang akan terjadi.

dan untuk malam ini saja, biarkan jeonghan yang memeluk mingyu dalam tidurnya. tidak apa kalau mau dibilang—sekali lagi—untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau benar-benar yakin bahwa ia sangat mencintai mingyu.

untuk malam ini saja, biarkan mingyu merasakan hangat peluk jeonghan dan merasa dicintai meski dalam perasaan yang sedang bimbang. mungkin ini cukup untuk memberinya sedikit kekuatan.

terakhir, do’a mingyu malam ini adalah; semoga malam ini sedikit lebih panjang.

yoon jeonghan tidak pernah tahu apa itu cinta. tidak ada satu orang pun yang mengenalkan cinta kepadanya, tidak terkecuali ayah dan bunda. tidak pernah juga ada rasa ingin tahu tentang apa itu cinta. rumah yang ditinggali hanya sebagai tempatnya berlindung dari panas dan hujan. tidak pernah ada cinta yang terucap, terlihat, dan terasa olehnya.

terus begitu sampai ia dipersatukan semesta bersama jisoo dan hyungwon sebagai sebuah kelompok belajar. awalnya memang pertemuan mereka adalah untuk menyelesaikan tugas salah satu mata pelajaran, tetapi seiring berjalannya waktu, justru mereka lebih nyaman berada di rumah jeonghan dibanding jeonghan sendiri.

bahkan sudah bukan sesuatu hal yang aneh lagi ketika jeonghan mendapati jisoo tiba-tiba sedang menangis tersedu-sedu di pelukan bundanya. tentu teman perempuannya itu akan lebih memilih untuk mencurahkan perasaannya kepada bunda setiap kali ia dihadapi dengan permasalahan percintaan, dibanding kepada yoon jeonghan yang sering kali tidak mengerti tentang perasaannya sendiri.

terkadang juga ia mendapati hyungwon yang membahas bisnis dengan kedua orang tuanya. menurut jeonghan, sungguh bukan pembahasan yang seharusnya dibicarakan dengan anak sma.

dan tentu saja jeonghan takjub dengan kedua temannya itu. bagaimana bisa mereka lebih dekat dengan orang tuanya dibanding ia sendiri, bagaimana mereka bisa menjadi teman bicara yang baik sementara dirinya butuh keberanian lebih untuk sekedar bilang tidak atas segala permintaan ayah dan bundanya.

satu lagi, yoon jeonghan tidak pernah punya kuasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. semua nya sudah diatur berdasarkan ingin dan ambisi kedua orang tuanya.

kehadiran jisoo dan hyungwon setidaknya sedikit memberi warna di kehidupannya. banyak sekali hal yang akhirnya jeonghan tahu dan pelajari dari mereka. terlebih tentang cinta.

jisoo yang berkali-kali terluka karena ia selalu saja salah dalam memilih seseorang untuk dikencaninya, tidak henti-hentinya ia memberi pesan kepada jeonghan, “han, pokoknya, lo gak boleh pacaran sama orang yang mulutnya manis gini, biasanya di awal doang. abis itu lo pasti dibuang, dicuekin.”

jeonghan catat dalam benaknya; tidak boleh pacaran dengan orang yang bermulut manis.

lalu hyungwon yang berbeda dengan jisoo. hyungwon mengajari jeonghan bagaimana menjadi jujur dengan diri sendiri. apa yang ia mau, tujuan hidupnya, mimpinya, yang membuatnya senang, apapun itu.

“han, gue pengen jadi arsitek. nanti, gue bikinin lo sama jisoo rumah yang bagus.” begitu kata hyungwon di suatu hari ketika mereka telah selesai dengan tugas sekolahnya dan dilanjut dengan obrolan asal ketiganya.

hyungwon selalu membantu jeonghan untuk berbicara terlebih tentang apa yang mengganggu pikirannya, “tapi menurut aku sendiri ya, bun, kalo kitanya gak seneng, nanti malah gak enak kedepannya. iya, kan, bun? jadi mendingan bunda tanya dulu aja, han mau atau enggak, bun. ” jawabnya ketika bunda menyampaikan keinginannya terhadap jeonghan untuk melanjutkan bisnis keluarga.

dengan begitu jeonghan telah jatuh cinta.

ia merasa resah ketika tidak bertemu hyungwon meski satu detik. ia tersenyum lebih banyak karena hyungwon selalu meyakinkan jeonghan kalau suatu hari nanti ia pasti punya mimpi untuk diwujudkan. jeonghan tidak lagi terlalu khawatir karena hyungwon percaya bahwa ia akan baik-baik saja meskipun dihadapkan dengan ekspektasi tinggi dari kedua orang tuanya.

namun yoon jeonghan tetaplah yoon jeonghan yang terlalu naif untuk mempercayai perasaannya sendiri. masih terlalu muda juga untuk memahami kalau itu cinta. terlebih lagi, jeonghan terlalu takut kehilangan apa yang ia punya saat ini, pertemanannya dengan hyungwon lebih berharga dari perasaan yang ia sendiri tidak mau mengakuinya. dan akhirnya memilih orang lain untuk menjadi kekasihnya.

semua baik-baik saja, tidak ada satu pun yang berubah. sampai tiba saat dimana mereka merayakan hari kelulusan dengan usia yang sudah legal.

dengan baik hati, bunda mengizinkan mereka memakai salah satu villa milik keluarga untuk merayakan hari bahagianya. saat itu juga, bertepatan dengan hari patah hati jisoo yang kesekian kali, dan jeonghan yang juga baru putus cinta.

dua insan itu sudah melayang tinggi akibat minuman beralkohol yang terus mereka tegak.

“jeonghan, kan udah gue bilang, lo.. jangan pacaran… sama yang… gak baik… liat sekarang… lo… kita… jadi sedih… harusnya kita happy, party…” ucap jisoo susah payah.

“gue juga gak tau… kalo dia putusin gue… ya.” jeonghan masih bisa menjawab meskipun saat ini matanya sudah berat sekali.

“lagian… lo… harusnya… cari pacar, tuh… yang baik… yang kaya hyungwon…”

hyungwon yang masih dalam keadaan sadar hanya terkekeh melihat kedua temannya yang sedang patah hati itu.

jeonghan yang duduk disebelah hyungwon mulai meracau, “iya… hyungwon… lo… harusnya… lo… yang jadi pacar gue… kalo lo… yang jadi pacar gue… lo pasti bakal perlakuin gue lebih baik kan? lo… pasti… gak bakal ninggalin gue, kan, hyungwon? jawab, dong… jangan diem aja…”

kemudian hyungwon membawa jeonghan mendekat, sampai kemudian ia bersandar padanya, “iya jeonghan, harusnya kita pacaran, ya?”

“iyaaa….lo… gak tau, ya? gue tuh…. suka… sama lo, hyungwon. tapi… kayanya bertepuk sebelah tangan…”

lucu sekali pikir hyungwon. pipinya merah merona akibat terlalu mabuk, tak kuasa untuk tidak diusapnya perlahan, “yaudah sekarang kita pacaran aja, deh. biar gak bertepuk sebelah tangan. mau gak?”

“hmm… mau, hyungwon…”

“sekarang pacaran, ya, kita? hm?”

“iya…” jeonghan semakin merapatkan tubuhnya kepada hyungwon. mencari kehangatan karena angin malam terus menyapa mereka yang masih di halaman belakang villa.

jisoo ikut bersuara setelah kehilangan kesadaran beberapa menit lalu, “iya, pacaran aja… lo berdua.”

“hyungwon… cium…”

sontak membuat hyungwon terkejut, “hm?”

“cium, hyungwon..”

karena hyungwon adalah teman yang baik, ia selalu menuruti apa pinta jeonghan. dan dengan begitu keduanya kini bergulat dalam sebuah ciuman.

“yah… mau difoto… lagi, ciumannya…” jisoo yang bersusah payah mencari ponsel genggamnya harus kecewa karena melewatkan yang baru saja terjadi.

“hyungwon…” jeonghan bersuara lagi, “jangan pergi, hyungwon…”

“iya, gak pergi, han.”

“disini… ya…”

“iya”

“hyungwon… nanti… bikinin gue rumah…”

“iya, han. nanti gue bikinin.”

“hyungwon… janji ya?”

“janji apa, han?”

“janji… dulu… selamanya kita… ya… hyungwon”

“iya, han. selamanya.”

“sampe mati”

“hahaha, iya, sampe mati.”

“janji… hyungwon”

“iya, janji, jeonghan”

kemudian satu kecupan mendarat dikepala jeonghan seraya membawanya ke alam mimpi. tanpa menyadari kalau hyungwon bisa saja bersungguh-sungguh atas apa yang ia katakan.

kemudian, yang jeonghan ingat hanya ketika ia berdiri di bandara untuk mengantar hyungwon. temannya, cinta pertamanya, akan pergi ke benua lain, jauh darinya. ia tidak pernah siap akan ini.

di sebelahnya, jisoo sudah menangis tersedu-sedu menanti gilirannya untuk berpamitan dengan hyungwon. sementara jeonghan masih mematung dan berusaha mencerna apa yang terjadi beberapa hari belakangan.

sampai giliran jeonghan, “hyungwon.”

“nanti gue pulang, han.” satu dua pat pat mendarat di kepala jeonghan, “baik-baik di bandung.”

ah, bandung.

diantara ketiganya, jeonghan adalah orang terakhir yang kemudian memutuskan untuk mendaftar ulang di kampus yang sudah menerimanya, di bandung. tentu bukan pilihannya sendiri untuk melanjutkan kuliah disana. berat langkahnya untuk pergi dari rumah, tetapi alasannya untuk bertahan pun sudah tidak ada disana lagi.

hyungwon yang mengajarinya tentang cinta pun tidak pernah benar-benar memberinya cinta yang nyata.

so, is it true that first love never dies?

suara tertawa abang pun terdengar sampai ke lantai 2 rumah mereka, kamar papa dan daddynya—jeonghan dan mingyu. secara tidak langsung memanggil mingyu untuk mencari tahu apa yang membuat anaknya itu tertawa begitu lepas.

“apaan, sih, bang? pagi-pagi rame amat.” ucap mingyu ketika ia mendapati kedua anaknya sedang mengamati sebuah kotak yang berisi kue.

good morning, daddy. ini, beli kue tapi tulisannya salah.” adek menjelaskan apa yang membuat abang tertawa.

kemudian abang yang masih tertawa memperlihatkan tulisan yang tertera di kue yang ia beli tadi, “happy birthday father’s day, dad”

“lah, gimana, sih,” mingyu lalu ikut tertawa melihat tulisannya, “bang, besok les bahasa inggris, dah.”

“bukan salah abang, dad. ini.. ah gimana ya jelasinnya. ngakak banget, sih, asli.” abang seperti sudah tidak sanggup lagi menjelaskan yang terjadi sebenarnya. masih terasa sangat menggelitik perutnya kejadian ini.

“ini ceritanya buat siapa?” tanya mingyu yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

“ya buat daddy sama papa. happy father’s day. maaf adek sama abang cuma kasih ini.” ujar adek yang langsung disambut peluk dan kecup dipuncak kepalanya oleh mingyu.

tidak peduli hadiah apa yang diberikan, mingyu sudah merasa lebih dari cukup akan kehadiran kedua anaknya ini. bagaimana mereka turut melengkapi dan menemani perjalanan hidupnya bersama jeonghan. sebelumnya tidak pernah terlintas dibenaknya sedikitpun, the idea of being a father of two, a husband. life is just full of surprises yet so beautiful. he's so thankful for that.

kemudian abang menyadari kalau ayahnya yang satu belum ada diantara mereka, “mana papanya, ini masa daddy doang jadinya.”

“sini dulu, bang,” mingyu menghampiri anak laki-lakinya yang sedang berada disisi lain meja makan tempat mereka berada sekarang, untuk dipeluk dan dihadiahi cium ditempat yang sama seperti adiknya, “makasih, ya, bang.”

“sama-sama, dad.”

yang dibicarakan pun muncul dari kamarnya. masih dengan piyamanya yang berupa kaus kebesaran, celana warna-warni yang entah sejak kapan jeonghan mulai mengoleksinya—pagi ini warnanya kuning terang.

happy father’s day, papa. ini tulisan kuenya gak usah dibaca, soalnya gak jelas.” anak perempuan satu-satunya di rumah itu langsung menyambut hangat kehadiran jeonghan.

“waah, thank you.” ucap jeonghan yang sama sekali tidak peduli dengan kesalahan tulisan disana.

“dicium papanya, bang, dek.” perintah si daddy mingyu kepada kedua anaknya.

salah satu privilege menjadi jeonghan di keluarga ini adalah ia akan selalu dihujani banyak cinta, kasih sayang, dan juga cium, baik dari anak kembarnya, maupun suaminya. tidak terhitung sudah kebahagiaannya dan seberapa sering ia mengucap syukur setiap kali hak istimewanya sedang dipergunakan.

thank you, ini kapan belinya? papa gak tau,” tanya jeonghan yang saat ini sedang mencicipi dekorasi kue yang ada dihadapannya.

“baru, abang yang pesan, pa. makanya tulisannya gak jelas.” lagi-lagi adek masih belum bisa membiarkan begitu saja perihal kesalahan tulisan pada kue untuk kedua ayahnya itu.

“kan, terus aja abang lagi disalahin.” abang mengelak.

“emang abang yang salah.”

“yang nulisnya!”

“abang juga!”

“berantem teruusss... masih pagi, ini juga baru romantis dikit,”

“duduk, abang sama adek. kita potong kuenya ya.”

“yah, sarapannya masa kue. bubur ayam kali enak.”

“beli dah sendiri, gih. keluar komplek.”

“males.”

budak cinta sudah resmi menjadi nama tengah kim mingyu semenjak ia menjabat sebagai kekasih dari yoon jeonghan. tidak ada protes dari mingyu sendiri. ia justru merasa terhormat dengan nama tengahnya itu.

malam itu, langkah demi langkah ia ambil dengan perasaan bahagia yang menjulang tinggi. meskipun begitu, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

semua karena pesan manis yang dikirim jeonghan beberapa saat lalu. sungguh dibuat tidak karuan perasaannya kali ini. hebat sekali yoon jeonghannya.

sampai di unit yang sudah sangat familiar. ada sedikit ragu, harus kah mingyu membuka pintunya—jelas ia punya akses untuk itu—atau mengetuk dan menunggu disambut oleh seseorang yang katanya rindu akan dirinya.

namun kemudian diputuskan untuk mengetuk. dengan harapan setelah pintu ini dibuka, mingyu bisa dengan segera memberikan peluk yang diminta kekasihnya itu.

“sebentar.” ucap yoon jeonghan samar dari dalam apartemennya.

mana bisa seorang kim mingyu diminta untuk sabar. detik ini juga, didepan pintu yang tidak kunjung terbuka itu ia mulai tidak tenang. maunya segera bertemu.

diketuknya lagi benda penghalang antara mingyu dan jeonghan ini.

sampai akhirnya pemilik tempat tinggal itu menyambut baik ketukan-ketukan di pintunya, “kamu, tuh, gak bisa sabar, ya?”

“abisan lama. aku, kan, kangen juga, yang!” jawab mingyu sedikit merengek.

“yaudah masuk dulu.”

“gak jadi mau dipeluk?”

“di dalem aja.”

“nanti nambah..”

jeonghan hampir saja menutup kembali pintu apartemennya, tetapi tentu saja ditahan oleh lelaki yang tenaganya lebih besar dari dia.

“iya, bercanda.” senyum jahil turut merekah di bibir mingyu, “masuk, nih?”

“iyaaa..”

lalu disusul oleh keduanya yang kini sudah di dalam unit apartemen yang sudah mingyu hafal sekali setiap sudutnya.

“kamu jadi gak, sih, yang?” tanya mingyu yang terheran sebab jeonghan masih terbalut dengan kaos kebesarannya dan celana pendek, “katanya mau ke warbir?”

bukannya menjawab, jeonghan justru menghampiri mingyu untuk kemudian melabuhkan dirinya—meminta peluk.

kalau sudah begini mingyu hanya bisa terdiam, untuk mencerna apa yang baru saja terjadi dan kemudian merasakan hangat yang ia terima dari tubuh jeonghan.

dibanding mingyu, tubuh jeonghan jauh lebih kecil, sehingga seperti tenggelam ia kini di pelukan mingyu.

“gak usah kemana-mana” jeonghan berbisik di dalam pelukannya, “disini aja.”

bagai tidak bertulang, kedua kaki yang menopang tubuh mingyu kini melemas. sendi-sendinya seperti akan terlepas. otot-ototnya pun tidak sanggup lagi menahan tubuhnya.

tidak banyak jawaban yang mingyu keluarkan, “iya... udah.”

sesaat itu juga kesadarannya mulai kembali. sambil dibalas pelukannya, mingyu mulai menepuk-nepuk punggung kekasihnya. untuk diberikan sayang yang nyaman.

“ini salam tempelnya jadi juga, gak?” tanya mingyu dengan sedikit menggoda jeonghan.

jeonghan lalu melepas sedikit pelukannya untuk menatap mingyu yang lebih tinggi dari dirinya. diberikan salam tempel yang mingyu sebut-sebut sedari tadi, seperti anak kecil yang tidak akan berhenti meminta sebelum ia mendapatkan apa yang dimintanya.

karena julukannya adalah malaikat, tentu dikabulkan permintaan bayi besarnya ini.

satu salam tempel mendarat di bibir mingyu.

“udah?” ucap jeonghan setelah memberikan yang diminta kekasihnya.

senyum kemenangan lagi-lagi mekar disana—di tempat salam tempelnya. meskipun sejujurnya mingyu masih ingin lebih, “beneran nempel doang.”

“kamu mintanya salam tempel, kan?”

“ya iya, lebihin dikit, kek.”

“nanti keterusan.”

“emangnya kenapa? bagus, lah.”

satu tamparan gemas mendarat di kening mingyu. “aw!”

hadiah dari jeonghan karena tidak merasa cukup atas apa yang ia dapat.

“orang mah dicium ini bukan ditabok, katanya kangen.” mingyu mengeluh sambil mengusap-usap keningnya yang tidak sakit itu.

“udah, kangennya.”

“lah, sebentar amat.”

“udah peluk.”

“lagi, dong. sini, peluk lagi.” mingyu lalu membawa jeonghan kembali ke pelukannya.

dan dengan senang hati jeonghan menyambut baik peluknya.

selain punggungnya, kini puncak kepala jeonghan turut diusap lembut sambil sesekali dikecup untuk membalas rindunya.

rindu itu baik, rindu itu tanda cinta, rindu juga yang memperkuat mereka ketika bertemu menjadi hal yang sulit. dan untuk malam ini, meskipun keduanya berada dalam satu tempat yang sama bahkan tidak ada jarak lagi yang memisahkan, mingyu mau jeonghan merindukannya sedikit lebih lama—untuk peluk yang lebih lama.

“mingyu…” jeonghan berbisik dalam peluknya, “kamu sayang aku, kan?”

“iya, lah. kalo gak sayang aku gak disini sekarang, yang.”

jeonghan mengangguk tanda ia mengerti apa yang dimaksud mingyu, “kalau gitu, kamu mau, kan? buatin aku indomie?”

mingyu terkekeh tidak percaya akan apa yang baru saja diucapkan jeonghan dan malah semakin mengeratkan pelukan keduanya. gemas.

“mingyu, sakit!” ucap jeonghan yang terhimpit tubuh besar mingyu.

dilonggarkan lagi peluknya oleh mingyu, “kirain udah gak pengen indomie.”

“masih mau.”

“yaudah, nanti aku bikinin.”

“sekarang.”

“iya.”

kontradiktif dengan apa yang dikatakan. tidak ada satu dari mereka yang enggan melepas peluknya. Bergerak satu senti meter pun tidak dilakukan.

“mingyu,”

“apa.”

“udah.”

“sebentar, masih nyaman, yang.”

-

ada kaki-kaki yang berlarian di halaman dengan rumput yang belum kering pasca diguyur hujan tadi. tidak kenal lelah mereka mengejar satu sama lain. gelak tawanya menggelegar, menyerukan rasa bahagia.

“abah!” teriak anak laki-laki yang peluhnya bercucuran di pelipis. dengan binar matanya yang berkilauan, ia masih gigih mengejar yang ia panggil dengan sebutan abah itu.

“tangkep sini kalau bisa!!!” pria yang sudah tidak muda lagi ini pun tidak mau kalah dengan si kecilnya, buah hatinya. berusaha untuk tidak tertangkap, ia berlari-lari mengitari halaman rumah mereka yang bisa dibilang cukup luas untuk keduanya sering menghabiskan waktu sebagai ayah dan anak.

bahagia turut menyelimuti satu lagi anak adam yang saat ini hanya terduduk di teras yang berhadapan langsung dengan halaman rumah mereka. senyumnya merekah seraya dengan damai menyaksikan ayah dan anak itu berkejar-kejaran. sambil menghirup aroma hujan yang masih segar terasa di indra penciumnya.

dibalut dengan cardigan rajut dan celana panjang, cukup untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin setelah hujan. sementara kehangatan hati dan jiwanya ada di depan sana, sedang bermain-main, saling menggelitik, berlarian sambil tersenyum dan tertawa.

selanjutnya, sang anak yang sudah terlampau lelah mengitari halaman rumah itu kini semakin melemah langkah kakinya. sehingga dengan mudah sang ayah dapat mengejar untuk kemudian dipeluk hangat anaknya itu, disambut pula dengan tawa geli dari keduanya. tangan yang lebih besar menggenggam penuh anak semata wayangnya, membuat mereka tergeletak diatas rumput dan tanah yang basah, akibatnya, pakaian mereka sedikit basah dan kotor.

“hahaha, seru banget ya, bah. papuy gak mau ikutan, sih.” anaknya menggerutu.

“iya, ya.” kata si abah yang kemudian menoleh kepada yang sedari tadi hanya duduk menyaksikan mereka dari teras, “atuh sini, sayang.. ini ada pelangi, nih, bagus banget.”

samar-samar memang terlihat pelangi yang baru saja muncul dari sembunyinya itu. sangat jarang mereka dapat melihat warna-warni menghiasi langit yang perlahan-lahan mulai kembali cerah.

lantas yang dipanggil menjawab, “iya, dari sini aku bisa liat, kok, pelanginya.”

bahagia dan hangat.

persis seperti ini kebahagiaan yang ia mau.

menghabiskan hidup bersama pria pilihannya. lalu kemudian dihadiahi titipan dari Tuhan berupa wujud seorang anak laki-laki, yang tawanya membuat perasaan cukup untuk tidak lagi mengemis kebahagiaan lebih dari apa yang sudah ia miliki saat ini.

semuanya terasa sangat indah, terasa seperti nyata terjadi dikehidupannya.

sampai ia terbangun dari mimpinya.

sampai ia tersadar, kalau bahagianya semu.

sampai yang tersisa hanya air mata.

malam itu, di hari ulang tahun jisoo, ada beberapa keluarganya yang turut hadir untuk merayakan. mereka datang dengan utuh, dalam artian keluarga yang sesungguhnya—ayah, ibu, dan anak-anaknya.

setelah selesai dengan prosesi potong kue serta nyanyian-nyanyian untuk menyelamati hari lahir laki-laki dengan senyum manis itu, kini mereka memutuskan untuk bernyanyi-nyanyi ria. setiap keluarga yang hadir dengan kompak menyanyikan lagu yang mereka pilih. saling merangkul seakan memamerkan ke seluruh dunia bahwa keluarga mereka lah yang paling kompak malam itu.

lalu sampai pada giliran jisoo dan maminya. lagu yang dipilih sedikit lebih syahdu dibanding dengan lagu-lagu yang dipilih keluarga sebelumnya. mereka dengan khidmat saling berpandang, dan melafalkan setiap lirik seakan saling mengucap rasa sayang satu sama lain.

sementara itu, ada seokmin yang sedari tadi ikut memandangi dari kejauhan. sengaja memutuskan untuk menyendiri sejenak untuk membiarkan acara keluarga ini berjalan dengan sebagaimana mestinya. atau dengan kata lain, ada hal-hal yang mengganggu pikirannya saat itu.

ada perasaan perih ketika seokmin menyaksikan penampilan jisoo dan maminya. merasa bahwa kekasihnya itu berhak merasakan kehangatan keluarga seutuhnya, terlebih lagi malam itu adalah hari paling bahagianya.

tepukan dan sorai bersambutan ketika ibu dan anak laki-laki tersebut selesai dengan penampilannya. dan mungkin semua sudah terlampau lelah, sebab selanjutnya mereka berhamburan kesana-kemari. ada yang kembali duduk di sofa, pergi ke kamar mandi, mengisi ulang gelas minumannya, atau kembali menyantap makanan yang sudah disajikan di meja.

detik selanjutnya, jisoo mengambil langkah untuk menghampiri seokmin. baru menyadari ada yang kurang di dalam ruangan tamu tadi.

“kok sendirian?” tanya jisoo.

“seru banget kamu. aku liatin aja dari sini.” jawabnya sambil menegak gelas yang sedari tadi hanya dipegang tangan kanannya.

jisoo lantas tertawa kecil mendengar jawaban kekasihnya itu. ia tahu kalau seokmin memang masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan keluarga besarnya, “sepi ya pas aku nyanyi tadi? cuma berdua sama mami.”

deg

dadanya serasa dipukul saat itu juga, “enggak, ah. serasi gitu kamu sama mami… top lah pokoknya.”

seokmin memang selalu juara satu dalam hal berucap kata-kata yang menenangkan. meskipun jisoo tahu betul kalau perkataannya tersebut hanya untuk membuatnya tidak merasa kecil di tengah keluarga besar yang hadir lengkap dengan seluruh anggota keluarganya.

keduanya berbalik badan untuk kemudian memandangi hamparan langit malam. sepi sekali, tidak ada bintang yang turut meramaikan malam ulang tahun jisoo kali ini. seperti keramaian satu-satunya hari ini hanya ada di ruang tengah lantai 2 rumah jisoo.

lalu mereka pun tenggelam dengan pikirannya masing-masing. seokmin yang masih berkutat dengan keraguan-keraguan yang mengusiknya beberapa waktu belakangan ini. ragu akan masa depan ya bersama jisoo yang akan berakhir seperti apa. ada atau tidaknya masa depan mereka saja, seokmin masih belum yakin sepenuhnya.

sementara jisoo yang akhir-akhir ini mulai mempertanyakan ada apa dengan hubungan mereka. setiap percakapan terdengar hampa, bahkan sosok yang disebelahnya kini tidak terasa nyata. diam-diam ia selalu berharap kalau lebih baik ada pertengkaran, dari pada harus merasa kosong seperti yang ia rasakan kini.

“bisa gak ya?” tanya jisoo yang membuyarkan semua pikiran tidak baik, yang seharusnya tidak mengganggu, khususnya hari ini.

“hm?” seokmin lalu menoleh.

“punya keluarga utuh lagi? maunya cuma itu, kok.” katanya jisoo dengan penuh harap.

seokmin tersenyum miris. dalam hatinya berbisik, ‘ada aku, jisoo. aku sudah menawarkan itu sejak lama. aku pernah gak, ya? kamu pertimbangkan untuk bantu mewujudkan mimpinya kamu itu? kenapa masih bertanya-tanya…”

tanpa menjawab, seokmin hanya menawarkan telapak tangannya, dengan maksud untuk meminta disambut oleh milik jisoo. dan tentu saja jisoo membalas permintaan genggaman tangannya. sesekali dipandangi dan dirasa lagi hangatnya.

jisoo tentu tahu, ajakannya ini bukan sekedar untuk saling menggenggam, tetapi juga tawaran dari seokmin untuk mewujudkan mimpinya itu bersama. memang tidak diungkapkan, ia hanya merasa sudah terlalu banyak menuntut kekasihnya itu. padahal, seokminnya hadir di hari lahir dan di antara keluarga besarnya saja sudah dirasa lebih dari cukup.

“kamu jadi gak bisa, ya? ikut aku? udah lama banget gak ketemu papi. aku kangen.”

satu lagi permasalahan mereka.

“belum aku pikirin kalau itu, sayang. nanti, yah… aku ngobrol dulu sama atasan. abis gitu, baru aku kasih tauin kamu, yah?”

“jerman, ya?

“iyaa… jauh, ya?”

jisoo mengangguk pelan. menggenggam lebih erat lagi tangan yang mungkin beberapa waktu lagi akan sulit digapai. berusaha sekuat hati menahan apa yang ia punya untuk tidak pergi meninggalkannya apapun yang terjadi, lagi.

berat juga untuk seokmin memutuskan pergi ditengah hubungan mereka yang terasa sedang tidak baik-baik saja. sebab itu pula, ia tidak bercanda ketika ditanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini, adalah ‘sibuk mempertahankan hubungan’.

dan malam hampir habis. hampir selesai juga perayaan hari ulang tahun jisoo.

“udah mau selesai, deh, ulang tahunnya.” kata seokmin sambil menengok jam tangannya.

jisoo masih belum bisa mengeluarkan bahkan satu kata pun. satu sisi, ia sangat bersyukur dengan semua orang yang masih turut memeriahkan hari lahirnya dengan bahagia, tetapi jisoo juga tidak pernah tahu kapan itu semua akan hilang, dan lagi.

seokmin menghadapkan jisoo kepada dirinya, menangkup wajah cantik itu, kemudian satu hadiah diberikan di keningnya. kecupan yang sedikit panjang untuk menutup hari bahagia ini. “selamat ulang tahun, yah, yang paaaling aku sayang... aku mau nya kamu bahagia terus, sama mami, sama papi, nanti ketemu, yah? jangan sedih-sedih. aku nanti sama, sedih juga. sehat-sehat jangan sakit. semoga selalu dikelilingi orang-orang baik, karena kamu baiiik sekali. yah?”

jisoo mengangguk paham dan kini berlabuh ke dalam pelukan seokmin. “aku bahagianya kalau sama kamu.”

“iya sama aku. kita sama-sama terus, sayang. jangan khawatir pokoknya.”

terlepas dari segala risau, hanya satu permintaan mereka malam ini.

untuk selalu bersama.

dimanapun mereka berada, dan apapun kondisinya.

maunya untuk tetap saling memiliki satu sama lain.

-

malam ini, ditemani hening, di apartemen tempat tinggal kekasihnya itu, mingyu masih menunggu dengan perasaan hati yang tidak tenang. di ruang tamu, bersama para furnitur yang seakan menatapnya tanpa arti, mingyu terduduk sembari terus melihat ponsel pintarnya menanti-nati pesan dari jeonghan—seseorang yang ia tunggu kehadirannya saat ini.

satu jam, dua jam, tiga jam…

belum juga ada tanda dari kepulangan jeonghan.

masih bersama sunyi, mingyu sedikit terhempas kepada masa-masa kali pertama ia bertemu jeonghan, berbagai hal ia lakukan untuk lebih dekat dengannya, bagaimana akhirnya mingyu meluluhkan hati jeonghan yang sama sekali tidak peka akan kehadirannya, dan saat indah ketika tempat dimana ia berada sekarang ini diisi dengan obrolan ringan keduanya, senda gurau, bahkan berbagi kecupan hangat.

sangat berbeda dengan malam ini, dimana hanya ada suara jarum jam yang terus berdentang menemani berisik di kepala mingyu.

terlepas dari kenangan manisnya itu, ada sedikit rasa hampir putus asa tentang bagaimana kelanjutan kisahnya dengan jeonghan. hampir menyerah untuk mengembalikan semua kenangan indah itu seperti semula. sebab apa yang terjadi pun mingyu tidak pernah mengerti. harus apa dan bagaimana lagi menghadapi yang tersayangnya itu.

namun menurut mingyu, ceritanya belum boleh selesai sampai disini. masih ada banyak yang ingin ia tulis bersama.

tetapi entah menurut jeonghan.

lalu semuanya buyar sesaat mingyu mendengar suara dari pintu masuk, yang ia yakini bahwa sang pemilik tempat tinggal ini sudah kembali. penantian panjangnya telah usai—setidaknya untuk saat ini.

“kamu harusnya bilang dulu kalau mau kesini,” sambutan pertama dari yoon jeonghan seraya ia memasuki huniannya dan mendapati mingyu sudah bersiap diri untuk menjalani maksud dan tujuannya menunggu jeonghan sedari tadi.

mingyu berdiri dari duduknya, berusaha untuk tetap tenang menghadapi kekasihnya itu. “kita ngobrol ya, han.”

jeonghan sedikit terkejut karena mingyu tidak seperti biasanya. langkahnya terhenti dan sedikit terpaku. bingung kemana ia harus menempatkan dirinya. pun untuk menatap mingyu jeonghan tidak sanggup.

“mingyu… aku gak tau—“

“yaudah, aku yang ngomong duluan,”

ada cukup jarak diantara keduanya sekarang. mingyu yang masih berdiri tepat di depan sofa tempatnya menunggu tadi, menatap jeonghan yang kini bersandar pada dinding ruang tamunya dengan tangan yang terlipat dan terus menatap ke seisi ruangan, kecuali mingyu.

“han, aku bingung sama kamu. bingung banget… gak ngerti aku, mau kamu apaan. kamu tiba-tiba marah sama aku, tau juga enggak permasalahannya apa. tiba-tiba juga kamu gak mau ketemu, segala macem...”

ada jeda yang diambil mingyu, paham kalau sedikit lagi dirinya akan meledak.

sementara jeonghan masih terdiam berusaha mencerna apa yang mingyu ucapkan. merenungi perilakunya selama beberapa waktu belakangan ini.

“aku udah berusaha, han, buat tanya kamu kenapa. kamu jawabnya ‘gapapa, gapapa’ terus, tapi aku tetep dicuekin. aku gimana bisa ngerti? tolong, han, coba kamu ngertiin aku sekali aja. bilang aja ke aku, kenapa? aku ada salah apa? aku tanya karena wonwoo juga kamu bilang ‘enggak’ tapi tiba-tiba minta pulang. aku harus gimana, sih, han? kasih tau aku.”

“mingyu, ini bukan tentang wonwoo, gak usah bawa-bawa dia di setiap permasalahan kita lagi.”

“iya, oke. terus jadinya karena apa? han, bunda khawatir sama kamu. aku setiap ditanya bunda, tuh, bingung mau jawab apa. aku gak tau kamu ngapain, dimana, sama siapa. aku jadi kaya gak tanggung jawab sama omongan aku ke bunda, han. padahal kamu yang terus menghindar.”

“hmm...”

“han, aku gak mau kaya gini terus. ngomong ya, han? kasih tau aku harus gimana…”

untuk mingyu, tentu apa yang terjadi di antara dirinya dan jeonghan ini sangat melelahkan. mungkin itu juga yang menyebabkan ia hampir menyerah.

dan tanpa disadari, air mata jeonghan sudah tidak lagi bisa terbendung. mau seberapa cepat disapu pun mingyu tahu kalau kekasihnya menangis.

ini kali pertama bagi mingyu melihat jeonghan menangis. ada keinginan untuk segera membawanya ke dalam pelukan, menghapus air matanya, dan berharap agar semuanya segera menemukan titik terang.

“kamu pergi aja, mingyu. maaf. aku juga gak mau kaya gini. tapi aku gak tau harus gimana.”

“han, ini bukan soal kamu aja, jangan egois.”

“iya, maaf.”

mingyu lantas menghampiri jeonghan untuk sedikit memohon agar tidak begitu saja menyudahi pembicaraan mereka, “aku bisa dengerin kamu, han. jangan kaya gini lagi, tolong...”

sayangnya, jeonghan memilih untuk berlalu menuju kamar tidurnya meninggalkan mingyu, lagi-lagi seorang diri diruang tamunya.

harapan terakhir untuk mengembalikan semuanya hampir pupus.

dan disini lah mingyu, sekali lagi berteman sepi. memijat dahinya yang sudah terasa penat yang teramat sangat, seraya menenangkan dirinya dengan bersandar di sofa.

memikirkan lagi, apa yang sebaiknya ia lakukan.

harus kah benar-benar pergi, dan membiarkan kisah mereka berakhir seperti ini.

bagi jeonghan, kepergiannya dengan jisoo tadi, merupakan persiapan yang ia lakukan untuk memberanikan diri menjadi lebih jujur tentang apa yang ia rasakan, setidaknya kepada dirinya sendiri. sementara apa yang terjadi beberapa menit lalu, sangat menguras segala energinya.

awalnya, jeonghan merasa bahwa mengungkapkan kegundahannya kepada mingyu, akan sama mudahnya ketika ia banyak bercerita kepada jisoo sebelumnya. tetapi setelah mendengar rintihan yang diucapkan mingyu tadi, meruntuhkan pertahanannya. yang jeonghan rasa setelah itu adalah kecewa terhadap dirinya sendiri. fakta bahwa ia melukai mingyu, membuatnya hanya bisa menangis dan memintanya pergi.

ada rasa kecewa kembali menjalar ke sekujur tubuhnya, setelah ia membaca kembali pesan dari bundanya. tentang permintaan bunda untuk selalu menghargai dan menjaga orang-orang yang tulus menyayanginya. tetapi nyatanya, yang jeonghan lakukan adalah yang sebaliknya.

kini ia terduduk di pinggir tempat tidurnya, berusaha mengusir air matanya yang tidak juga berhenti mengalir. jeonghan berulang kali mengatur napasnya agar lebih tenang dan bisa berpikiran jernih.

hingga perlahan hujan air matanya reda. kini tersisa keheningan dan redup cahaya dikamar tidurnya, seakan membantu jeonghan menemukan jawaban dari setiap rasa yang hilang itu.

namun, ketika saat ini jeonghan sudah mulai memahami yang terjadi, merasa jauh lebih tenang, dan sedikit bisa menata apa yang ingin ia ungkapkan, semuanya terasa seperti terlambat.

adalah penyesalan terbesar jeonghan meminta mingyu pergi begitu saja tanpa mendengar tentang kegundahannya.

belum selesai.

bagi mingyu belum selesai.

selama ia masih belum melangkahkan kakinya keluar dari apartemen jeonghan, kisahnya belum bisa dibilang tamat.

mingyu masih menginginkan jeonghan untuk menemaninya, bersama-sama menulis cerita-cerita baru setiap hari. sampai akhir yang ia inginkan, dan bukan seperti ini mingyu menginginkan ceritanya berakhir.

lalu ia mengetuk perlahan pintu kamar tidur jeonghan, sebagai tanda keberanian diri untuk mencoba kembali memperbaiki yang rusak dan mencari jawaban dari segala tanya.

“jeonghan, aku masuk ya?” tanya mingyu perlahan dari balik pintu.

tidak ada jawaban dari dalam sana.

mingyu lalu memilih untuk membuka sendiri pintu yang menghalangi dirinya dengan jeonghan saat ini dan membawa dirinya memasuki ruangan tersebut.

berjalan perlahan untuk lebih dekat dengan kekasihnya yang ia dapati sedang terlelap. ada senyum tipis terlukis di wajah mingyu, seakan sudah lama sekali tidak menyaksikan jeonghan yang sedang berada di dunia mimpinya itu.

melihat jeonghan tertidur dengan damai, ada perasaan hangat menyelimutinya setelah dingin yang menjadi teman sunyinya selama beberapa waktu lalu. ada butiran air mata yang tersisa di antara paras indahnya. belum sempat mingyu menghapusnya, kekasihnya itu lebih dulu tersadar akan kehadiran mingyu dan terbangun dari tidurnya.

“aku minta kamu pergi, mingyu.” ucap jeonghan dengan suara paraunya.

“aku gak bakal ninggalin kamu, han.” jawab mingyu yang kini menyamakan posisinya dengan jeonghan yang sudah terduduk lagi di pinggir tempat tidurnya.

“han, maaf tadi aku bilang kamu—”

“mingyu, sekarang boleh aku yang ngomong duluan, gak?”

mingyu menatap dalam benih indah jeonghan sembari menghapus air mata yang tersisa. pikirnya, mungkin jeonghan tertidur setelah lelah menangis tadi. “boleh, sayang.”

“oke..” jeonghan tersenyum tipis mendengar jawaban mingyu barusan, atau mungkin untuk menutupi fakta bahwa saat ini ia sangat gugup di hadapan kekasihnya itu.

“pelan-pelan, gapapa. aku dengerin…”

“hmm… aku minta maaf. aku bikin kamu bingung, aku nyebelin, rese, apalagi? semuanya ya?” keduanya terkekeh mendengar ucapan jeonghan, “aku gak bisa ngerti diri aku sendiri, mingyu. aku gak bisa jelasin apa yang aku pikirin dan yang aku rasa. aku gak tau gimana caranya bilang ke kamu.”

mingyu mengangguk tanda ia mendengar setiap kata yang jeonghan ungkapkan saat ini. tangannya saling menggenggam erat, sesekali diusap perlahan dengan ibu jarinya untuk memberikan ketenangan kepada jeonghan.

“aku suka kamu ada disini. aku juga nyaman sama kamu. aku merasa disayang. sama kamu, setiap harinya berharga buat aku. tapi, ada waktu dimana aku gak mau ditemenin. aku butuh sendiri…”

“oke,” mingyu berusaha untuk memahami.

“makanya aku kaya gitu ke kamu. maaf, sekali lagi, ya…”

yang mingyu rasakan justru adalah perasaan lega. karena selama ini, yang ia tunggu adalah apa yang baru saja jeonghan ucapkan. senyumnya kembali merekah. matanya belum bisa lepas dari keindahan di depannya, terlalu rindu untuk melepas bahkan satu detik pun.

“mingyu, jangan diem aja. aku telat, ya?”

“kangen.”

“aku juga.”

ditariknya jeonghan kedalam pelukan mingyu. dibiarkan sebentar untuk merasakan lagi kehangatan yang sangat keduanya rindukan.

“maaf, aku tadi bilang kamu egois. maaf aku selalu marah sama kamu, harusnya aku lebih sabar buat dengerin kamu. maaf ya, han.”

“yang kamu bilang semuanya bener, mingyu. aku yang gak ngerti diri sendiri.”

mingyu lalu mengecup puncak kepala jeonghan, lalu keningnya, sedikit lebih lama.

“kita coba lagi, ya, mingyu?”

mingyu mengangguk setuju.

senyum pun tidak dapat dibendung lagi untuk mekar di wajah jeonghan. ada kupu-kupu dalam perutnya kembali berterbangan selama mingyu berada di depannya berlutut, terus menatapnya tanpa henti. tanpa disadari, jeonghan jatuh cinta lagi, untuk yang kesekian kali..

“aku udah kabarin bunda.” ucap jeonghan bangga.

mingyu hanya mengangguk, ia tahu jeonghan masih berusaha untuk membagikan apapun yang sebelumnya terasa sangat sulit. maka saat ini akan mingyu jadikan sebagai kesempatan untuk mendengar lebih banyak.

“aku pergi sama jisoo, buat cerita,” ada jeda yang diambilnya sejenak untuk mengingat apa yang ia lakukan bersama jisoo tadi, “dia kasih tau banyak, dengerin aku. kamu juga… makasih ya, kamu gak pergi. meskipun tadi aku usir.”

dan tidak ada yang bisa mingyu ucapkan, selain ia pun bersyukur karena tidak benar-benar pergi meninggalkan jeonghan begitu saja. tanpa kejelasan dan akhir yang ia inginkan.

“aku sayang banget sama kamu, jeonghan.”

di pelukan mingyu lagi kini jeonghan berlabuh. “aku nyebelin banget, ya?”

“lumayan,”

“lumayan apa banget?”

“banget, deh.”

memang tidak bisa dibantah, jeonghan pun setuju.

“yang,”

“hmm?”

“i love you.”

“i love you too, mingyu.”

ada peluk yang panjang—dan kegiatan lainnya—menjadi penutup untuk cerita tidak menyenangkan mereka. tidak ada lagi sunyi yang dingin disana, hanya ada dua manusia berbagi kehangatan dan rasa sayang yang lama hilang.

I never liked that song, but once I knew it is your favorite, I listen to it on repeat and it becomes one of the best songs I’ve ever heard.

siang itu, seperti yang seokmin janjikan, ia akan dengan senang hati mengantar jisoo ke kantor maminya untuk memberikan file yang dibutuhkan dengan segera. tadinya, jisoo yang berinisiatif sendiri untuk mengantar file tersebut.

‘bosan dirumah terus’ katanya.

sehabis mengantar file, rencana awal jisoo sebenarnya adalah ia mungkin akan menghabiskan waktu di kantor untuk menunggu maminya selesai bekerja. entah dengan membaca buku di perpustakaan, bermain game komputer di ruangan kerja mami, atau sekedar berbincang dengan satpam di lobby kantor.

tetapi ternyata ada seokmin mengajaknya keluar disaat yang tepat. dan tentu saja jisoo sangat bersemangat. selain karena ia tidak harus menunggu—atau lebih tepatnya mengganggu—mami bekerja di kantor, si dia yang menawarkan diri itu sendiri yang membuat jisoo sangat menanti-nanti untuk akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama.

***

sekarang, di sepanjang perjalanan menuju kantor mami, tidak ada satupun diantara keduanya yang mampu untuk berhenti tersenyum. ada yang sambil malu-malu dan berusaha untuk tidak terlihat canggung karena ini kali pertama mereka berada di dalam satu mobil yang sama, ada yang kelewat bahagia sampai kepalang bingung bagaimana caranya untuk mengontrol detak jantungnya, sambil berharap agar yang di sebelahnya tidak mendengar suara degup yang cukup kencang ini.

seokmin lalu muncul dengan satu ide, untuk setidaknya ada yang membantunya tidak salah tingkah sendiri. ditekan seokmin satu tombol di mobilnya, sehingga kemudian terdengar suara penyiar radio sebagai orang ketiga diantara mereka kini.

“seperti biasa selama 2 jam kedepan gue bakalan menemani kawula muda yang sekarang lagi galau.. ataupun yg lagi seneng karena lagi jalan sama gebetannya. cieee..cieee..”

‘anying… maksud aing kan biar gak tambah salting, malah di cie-cie in gini.’ batin seokmin.

sekarang kita dengerin dulu satu lagu dari HiVi! – Mata ke Hati, nih, buat para kawula muda yang lagi naksir sama seseorang…”

seokmin sedikit melirik jisoo untuk mencari tahu apakah ia harus mematikan suara radionya atau membiarkannya tetap menyala untuk meledek atau mendukung mereka yang sedang dalam masa pendekatan ini.

tetapi sepertinya jisoo menikmati lantunan lagu yang sedang diputar tersebut. dengan lirik dan melodi yang sangat mudah ditangkap, baru beberapa saat mendengar, jisoo sudah bisa ikut bersenandung meskipun belum begitu hafal kata-per kata dari liriknya.

Oh, kasihku, kau membuat cinta… Jatuh dari mata dan turun ke hati… Tawamu buat aku tersenyum lagi… Oh, kasihku, kau membuat dunia… Indah dijalani, oh-oh… Kuyakini hati, kau paling berarti…

tentu saja seokmin sudah sering mendengar lagu tersebut dari setiap festival musik yang ia datangi. karena tidak jarang HiVi! turut mengisi panggung dan membawakan lagu andalannya tersebut, “bagus, yah, lagunya?”

jisoo mengangguk setuju, “iya, baru denger tapi langsung inget lagunya.”

seokmin tersenyum lega sebab jisoo turut menikmati lagu yang sedang diputar.

“seokmin, kamu selain suka dengerin lagu, sukanya apa lagi?” tanya jisoo yang ingin tahu lebih banyak mengenai laki-laki di kursi kemudi itu.

seharusnya jisoo sudah tahu jawabannya, bukan?

“aku perasaan udah pernah kasih tau, masa jisoo lupa?”

“masa, sih? kapan?”

“waktu kita video call itu... kecewa, ih, aku, mah.”

jisoo terdiam sejenak mengingat-ingat kembali maksud seokmin, “OOOH…”

“itu, udah inget?” tanya seokmin sesaat menangkap jisoo pipinya mulai memerah, malu.

“tapi maksudnya, suka yang lain… ada, gak? kaya menggambar, atau main alat musik, atau ngapain… terserah.”

“nggak ada, kalo sekarang, mah. sukanya itu aja, sih.”

sukses besar seokmin melukis senyum ear to ear diwajah manis hong jisoo.

***

“aku ikut anter, atau tunggu jisoo disini aja?” tanya seokmin setelah selesai memarkirkan mobilnya dengan sempurna.

jisoo di kursi penumpang sudah bersiap dengan file-file dalam genggamannya, “tunggu aja, deh. aku udah bilang mami nanti dititip ke receptionist aja.”

“oke, deh. hati-hati, yah.”

“oke,”

karena lokasi parkirnya saat ini tepat berhadapan dengan lobby kantor, membuat indera penglihat seokmin bisa mengikuti jisoo sampai tidak lepas sedikit pun. sangat terlihat sekali bagaimana seisi kantor ini sangat akrab dengan si anak tunggal salah satu petingginya. dari bapak satpam penjaga pintu masuk, petugas loket parkir, dan siapapun yang ada di lobby sana. semua menyapa jisoo dengan ramah dan penuh sopan santun. padahal bisa dilihat oleh seokmin kalau jisoo justru memperlakukan mereka semua dengan hormat, terlepas dari fakta bahwa ia adalah calon penerus di perusahaan ini.

kawasan kantor ini juga tidak asing bagi seokmin. ia tahu betul siapa-siapa saja yang bekerja disini, yaitu orang-orang yang memang terpandang. bahkan seokmin sama sekali tidak terkejut karena dari sejak kali pertama ia mengetahui lokasi tempat tinggal jisoo pun bisa ditebak kalau jisoo memang bukan orang ‘biasa’.

dari obrolannya beberapa waktu belakangan dengan jisoo, seokmin perlahan tersadar, mengapa banyak dari hal-hal yang bisa dibilang lumrah untuk beberapa orang, tetapi tidak untuk jisoo. mungkin memang karena dari keseharian mereka saja sudah berbeda. pantas saja jisoo tidak mengetahui lagu-lagu hits Indonesia saat ini, karena mana mungkin ia menonton acara inbox atau Dahsyat,. yang ia tonton di tv besarnya mungkin adalah acara Billboard Music Awards, Grammy Awards, dan lainnya.

yang terkadang membuat seokmin bingung—atau jatuh cinta lebih dalam—adalah bagaimana jisoo bersikap seakan-akan ia sama saja seperti orang-orang pada umumnya. tidak pernah sekalipun jisoo membuatnya merasa ‘kecil’. bahkan justru jisoo terlihat lucu dimata seokmin setiap kali mencoba hal baru yang belum pernah dicobanya.

seperti saat di perjalanan tadi seokmin sengaja melipir sejenak untuk membeli sebanyak lima ribu rupiah cilok untuk dicobanya. dan seorang hong jisoo yang sama sekali belum pernah mencoba cilok itu sedikit terkejut dengan rasanya. matanya membulat selagi mengunyah, sembari merasakan sensasi dari setiap gigitannya. “enak banget, seok. ini apa namanya?”

“cilok ini namanya, soo. ada banyak lagi jajanan yang lain, mau coba juga?”

“mau, dong. ini kalau mau beli dimana ya, seok?”

“ke pinggir jalan aja, ada banyak mamang-mamang yang jual. atau ke SD gitu juga suka ada.”

“ooh iya. terus berapa ini harganya?”

“terserah jisoo mau beli berapa. biasa, mah, aku beli lima ribuan aja, cukup buat iseng.”

“murah, ya. kalau sepuluh ribu, bisa?”

“bisa. tapi emangnya gak kebanyakan?”

“oh, iya, sih.”

akibatnya, sepanjang perjalanan tadi jisoo banyak minta berhenti untuk mencoba jajanan-jajanan yang menurutnya menarik. seokmin pun dengan senang hati menjadi kamus berjalan untuk menjelaskan segala komposisi dari setiap jajanan yang ditanya jisoo, ‘apa itu, isinya apa, pakai apa aja, rasanya seperti apa…”.

tidak lama kemudian, jisoo kembali dari tugasnya mengantar keperluan mami. dilihat seokmin senyumnya tidak putus sejak detik pertama ia menjemputnya.

“heran, apa otot-otot pipinya tidak pegal… tapi manis banget, jadi senyum aja yang lama, deh. saya pasti bisa tahan untuk nggak cubit pipinya yang gemas itu. ” batin seokmin.

“yuk, mau kemana kita sekarang?” tanya jisoo yang sekarang sudah siap melanjutkan perjalanan mereka dengan seat belt yang sudah terpasang sempurna.

seokmin masih sedikit terpana dan baru tersadar dari lamunannya, “hm? katanya tadi jisoo laper?”

satu fakta lagi tentang jisoo yang seokmin akan ingat terus, yaitu tentang porsi makan jisoo yang memang sedikit, tetapi makannya tetap banyak cenderung sering. sepanjang perjalanan tadi sudah mencoba cilok, cimol, telur gulung, dan kue cubit, tetapi masih lapar katanya. ternyata ada satu hal yang sedikit relateable tentang mereka. belum kenyang kalau belum makan nasi, hehehe.

“berarti ke McD, ya?” tanyanya dengan riang.

“boleh. oke berangkat, ya?”

let’s go!

***

selagi makan pun seokmin lagi-lagi tersihir oleh si hong jisoo ini. karena cara makannya yang lucu. ia memakan nasinya sama dengan cara orang-orang memakan burger, sementara ayamnya ia potong kecil-kecil dengan tangan satunya, dua tangannya sibuk dengan makanan. lucu sekali. sehingga tak kuasa seokmin untuk tidak membantunya, “sini aku yang potongin ayamnya, ya?”

senyum lagi dianya, matanya sampai hilang, “boleh, tapi aku kenyang, kamu mau gak nasi aku? aku mau makan ayamnya aja.”

tidak tahan lagi seokmin untuk tidak tertawa karena gemasnya jisoo saat mengatakan hal barusan, “yaudah, mau. soalnya jisoo lucu.”

“kok, lucu?”

“iya, tadi kan katanya laper, terus ini baru sedikit makannya tapi udah kenyang.”

“aku mau mcflurry, takut keburu meleleh, seok.”

“oooh, iya iya. sok, atuh dimakan ayamnya, es krimnya juga. tenang aja ini aku yang abisin nasi nya.”

tentu saja jisoo senang. sangat senang. hari ini banyak mencoba jajanan yang sebelumnya ia coba, dan juga terutama karena perlakuan seokmin yang selalu melukis indah senyum di wajah nya selama setengah hari ini.

setelah selesai mencuci tangan, merapikan bekas makanan dan membuangnya ke tempat sampah, keduanya sibuk dengan smartphonenya masing-masing. membalas pesan masuk yang diabaikan sedari tadi.

seokmin menjawab pesan dari teman-temannya di group chat, jisoo membalas pesan dari sahabatnya, yoon jeonghan, dan tidak lupa update di twitter agar semua pengikutnya tahu kalau dirinya sedang bahagia sekali.

“jisoo, kamu masih mau main, gak?” tanya seokmin setelah membaca ajakan dari sahabat-sahabatnya itu.

yang diajak bicara langsung menaruh kembali telepon genggam pintarnya itu, “masih, kenapa emangnya?”

“ikut, yuk. ketemu sama temen-temen aku. di warbir tapi.”

“warbir?”

“warung kopi gitu pokoknya, soo. nanti banyak orang-orang pada nongkrong juga. biasa, da, malem minggu namanya juga, kan.”

“ooh, gapapa, sih. tapi ajak jeonghan, yuk? dia kasian lagi galau.”

“sok, ajak. nanti paling ada mingyu juga disana, sih.”

“tapi kita yang jemput, kamu keberatan gak?”

“ya, enggak, sih.  nanti minta ganti aja bensinnya sama iming, hehe.”

“hahahaha, yaudah. sekarang?”

“udah abis es krimnya?”

“udah, yuk.”

“hayuk, dah.”

***

berbeda dengan yang dikatakan jeonghan sebelumnya. tentang ia akan mengajak jisoo apabila suatu hari nanti mingyu mengundangnya untuk berkenalan dengan teman-teman semasa SMAnya itu. teman-teman yang selalu mengundang keributan bahkan setiap kali mingyu hanya bernapas.

kini justru jisoo yang mendapat undangan terhormat tersebut lebih dulu dari seokmin, yang juga sebagai anggota tetap geng euy, dan jisoo juga yang mengajak jeonghan untuk turut serta berkenalan dengan mereka-mereka itu.

hari ini, jisoo yang suasana hatinya sedang riang gembira, berbunga-bunga, serta penuh dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya, berbanding terbalik dengan jeonghan, yang kini duduk di kursi belakang mobil seokmin, sedang merasa sedikit resah karena akan bertemu pacarnya sendiri. padahal jeonghan selalu menekankan kalau tidak ada masalah apa-apa antara dirinya dan mingyu akhir-akhir ini.

jeonghan pun sengaja tidak bertanya kepada seokmin, mengenai mingyu akan turut menghadiri perkumpulan teman-temannya malam ini atau tidak. dan seokmin sendiri pun merasa tidak perlu memberi tahu, karena jawabannya sudah pasti hadir. sesibuk apapun para anggota geng euy, mereka hampir tidak pernah absen setiap kali ada agenda ‘nongkrong’ seperti ini, apalagi kebanyakan dari mereka masih melajang, alias belum punya kewajiban untuk apel malam minggu.

sepanjang perjalanan, jeonghan bahkan tidak mengindahkan percakapan jisoo dan seokmin yang saling menceritakan apapun tentang diri mereka masing-masing untuk mengenal lebih dalam satu sama lain. pikiran jeonghan terlalu sibuk memikirkan apa yang akan ia lakukan kala nanti bertemu dengan mingyunya, seakan sudah lama sekali tidak bertemu.

“nanti banyak yang ngerokok, kalo gak suka, kita beda table aja, oke gak?” tanya seokmin sesaat mereka semakin mendekati warbir, tempat tujuan mereka.

“gaya banget, beda ‘table’ bahasanya...” sahut jeonghan yang mulai tersadar dari lamunannya.

“eh, jangan meremehkan warbir kamu, han...” seokmin tidak terima.

“gapapa, kok. bareng-bareng aja, ya kan, han?” jisoo menimpali.

“iya santai aja, sih. gak masalah, kok.” karena yang masalah bagi jeonghan adalah bagaimana nanti ia menghadapi mingyu.

semakin dekat, jeonghan semakin tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti ini. ada apa dengan dirinya. kenapa harus begitu gelisah untuk menemui kekasihnya sendiri.

katanya tidak sedang marahan, katanya tidak ada masalah, dan katanya semua baik-baik saja.

atau mungkin yang sedang tidak baik-baik saja adalah dirinya sendiri. no one knows.

dan untuk informasi tambahan, seokmin sama sekali belum melihat notifikasi handphonenya semenjak perjalanan mereka menjemput jeonghan. pesan terakhir yang dibacanya adalah pesan dari eunwoo yang sepertinya sangat antusias untuk bertemu dengan seorang yoon jeonghan.

***