I never liked that song, but once I knew it is your favorite, I listen to it on repeat and it becomes one of the best songs I’ve ever heard.
—
siang itu, seperti yang seokmin janjikan, ia akan dengan senang hati mengantar jisoo ke kantor maminya untuk memberikan file yang dibutuhkan dengan segera. tadinya, jisoo yang berinisiatif sendiri untuk mengantar file tersebut.
‘bosan dirumah terus’ katanya.
sehabis mengantar file, rencana awal jisoo sebenarnya adalah ia mungkin akan menghabiskan waktu di kantor untuk menunggu maminya selesai bekerja. entah dengan membaca buku di perpustakaan, bermain game komputer di ruangan kerja mami, atau sekedar berbincang dengan satpam di lobby kantor.
tetapi ternyata ada seokmin mengajaknya keluar disaat yang tepat. dan tentu saja jisoo sangat bersemangat. selain karena ia tidak harus menunggu—atau lebih tepatnya mengganggu—mami bekerja di kantor, si dia yang menawarkan diri itu sendiri yang membuat jisoo sangat menanti-nanti untuk akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama.
***
sekarang, di sepanjang perjalanan menuju kantor mami, tidak ada satupun diantara keduanya yang mampu untuk berhenti tersenyum. ada yang sambil malu-malu dan berusaha untuk tidak terlihat canggung karena ini kali pertama mereka berada di dalam satu mobil yang sama, ada yang kelewat bahagia sampai kepalang bingung bagaimana caranya untuk mengontrol detak jantungnya, sambil berharap agar yang di sebelahnya tidak mendengar suara degup yang cukup kencang ini.
seokmin lalu muncul dengan satu ide, untuk setidaknya ada yang membantunya tidak salah tingkah sendiri. ditekan seokmin satu tombol di mobilnya, sehingga kemudian terdengar suara penyiar radio sebagai orang ketiga diantara mereka kini.
“seperti biasa selama 2 jam kedepan gue bakalan menemani kawula muda yang sekarang lagi galau.. ataupun yg lagi seneng karena lagi jalan sama gebetannya. cieee..cieee..”
‘anying… maksud aing kan biar gak tambah salting, malah di cie-cie in gini.’ batin seokmin.
“sekarang kita dengerin dulu satu lagu dari HiVi! – Mata ke Hati, nih, buat para kawula muda yang lagi naksir sama seseorang…”
seokmin sedikit melirik jisoo untuk mencari tahu apakah ia harus mematikan suara radionya atau membiarkannya tetap menyala untuk meledek atau mendukung mereka yang sedang dalam masa pendekatan ini.
tetapi sepertinya jisoo menikmati lantunan lagu yang sedang diputar tersebut. dengan lirik dan melodi yang sangat mudah ditangkap, baru beberapa saat mendengar, jisoo sudah bisa ikut bersenandung meskipun belum begitu hafal kata-per kata dari liriknya.
Oh, kasihku, kau membuat cinta…
Jatuh dari mata dan turun ke hati…
Tawamu buat aku tersenyum lagi…
Oh, kasihku, kau membuat dunia…
Indah dijalani, oh-oh…
Kuyakini hati, kau paling berarti…
tentu saja seokmin sudah sering mendengar lagu tersebut dari setiap festival musik yang ia datangi. karena tidak jarang HiVi! turut mengisi panggung dan membawakan lagu andalannya tersebut, “bagus, yah, lagunya?”
jisoo mengangguk setuju, “iya, baru denger tapi langsung inget lagunya.”
seokmin tersenyum lega sebab jisoo turut menikmati lagu yang sedang diputar.
“seokmin, kamu selain suka dengerin lagu, sukanya apa lagi?” tanya jisoo yang ingin tahu lebih banyak mengenai laki-laki di kursi kemudi itu.
seharusnya jisoo sudah tahu jawabannya, bukan?
“aku perasaan udah pernah kasih tau, masa jisoo lupa?”
“masa, sih? kapan?”
“waktu kita video call itu... kecewa, ih, aku, mah.”
jisoo terdiam sejenak mengingat-ingat kembali maksud seokmin, “OOOH…”
“itu, udah inget?” tanya seokmin sesaat menangkap jisoo pipinya mulai memerah, malu.
“tapi maksudnya, suka yang lain… ada, gak? kaya menggambar, atau main alat musik, atau ngapain… terserah.”
“nggak ada, kalo sekarang, mah. sukanya itu aja, sih.”
sukses besar seokmin melukis senyum ear to ear diwajah manis hong jisoo.
***
“aku ikut anter, atau tunggu jisoo disini aja?” tanya seokmin setelah selesai memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
jisoo di kursi penumpang sudah bersiap dengan file-file dalam genggamannya, “tunggu aja, deh. aku udah bilang mami nanti dititip ke receptionist aja.”
“oke, deh. hati-hati, yah.”
“oke,”
karena lokasi parkirnya saat ini tepat berhadapan dengan lobby kantor, membuat indera penglihat seokmin bisa mengikuti jisoo sampai tidak lepas sedikit pun. sangat terlihat sekali bagaimana seisi kantor ini sangat akrab dengan si anak tunggal salah satu petingginya. dari bapak satpam penjaga pintu masuk, petugas loket parkir, dan siapapun yang ada di lobby sana. semua menyapa jisoo dengan ramah dan penuh sopan santun. padahal bisa dilihat oleh seokmin kalau jisoo justru memperlakukan mereka semua dengan hormat, terlepas dari fakta bahwa ia adalah calon penerus di perusahaan ini.
kawasan kantor ini juga tidak asing bagi seokmin. ia tahu betul siapa-siapa saja yang bekerja disini, yaitu orang-orang yang memang terpandang. bahkan seokmin sama sekali tidak terkejut karena dari sejak kali pertama ia mengetahui lokasi tempat tinggal jisoo pun bisa ditebak kalau jisoo memang bukan orang ‘biasa’.
dari obrolannya beberapa waktu belakangan dengan jisoo, seokmin perlahan tersadar, mengapa banyak dari hal-hal yang bisa dibilang lumrah untuk beberapa orang, tetapi tidak untuk jisoo. mungkin memang karena dari keseharian mereka saja sudah berbeda. pantas saja jisoo tidak mengetahui lagu-lagu hits Indonesia saat ini, karena mana mungkin ia menonton acara inbox atau Dahsyat,. yang ia tonton di tv besarnya mungkin adalah acara Billboard Music Awards, Grammy Awards, dan lainnya.
yang terkadang membuat seokmin bingung—atau jatuh cinta lebih dalam—adalah bagaimana jisoo bersikap seakan-akan ia sama saja seperti orang-orang pada umumnya. tidak pernah sekalipun jisoo membuatnya merasa ‘kecil’. bahkan justru jisoo terlihat lucu dimata seokmin setiap kali mencoba hal baru yang belum pernah dicobanya.
seperti saat di perjalanan tadi seokmin sengaja melipir sejenak untuk membeli sebanyak lima ribu rupiah cilok untuk dicobanya. dan seorang hong jisoo yang sama sekali belum pernah mencoba cilok itu sedikit terkejut dengan rasanya. matanya membulat selagi mengunyah, sembari merasakan sensasi dari setiap gigitannya. “enak banget, seok. ini apa namanya?”
“cilok ini namanya, soo. ada banyak lagi jajanan yang lain, mau coba juga?”
“mau, dong. ini kalau mau beli dimana ya, seok?”
“ke pinggir jalan aja, ada banyak mamang-mamang yang jual. atau ke SD gitu juga suka ada.”
“ooh iya. terus berapa ini harganya?”
“terserah jisoo mau beli berapa. biasa, mah, aku beli lima ribuan aja, cukup buat iseng.”
“murah, ya. kalau sepuluh ribu, bisa?”
“bisa. tapi emangnya gak kebanyakan?”
“oh, iya, sih.”
akibatnya, sepanjang perjalanan tadi jisoo banyak minta berhenti untuk mencoba jajanan-jajanan yang menurutnya menarik. seokmin pun dengan senang hati menjadi kamus berjalan untuk menjelaskan segala komposisi dari setiap jajanan yang ditanya jisoo, ‘apa itu, isinya apa, pakai apa aja, rasanya seperti apa…”.
tidak lama kemudian, jisoo kembali dari tugasnya mengantar keperluan mami. dilihat seokmin senyumnya tidak putus sejak detik pertama ia menjemputnya.
“heran, apa otot-otot pipinya tidak pegal… tapi manis banget, jadi senyum aja yang lama, deh. saya pasti bisa tahan untuk nggak cubit pipinya yang gemas itu. ” batin seokmin.
“yuk, mau kemana kita sekarang?” tanya jisoo yang sekarang sudah siap melanjutkan perjalanan mereka dengan seat belt yang sudah terpasang sempurna.
seokmin masih sedikit terpana dan baru tersadar dari lamunannya, “hm? katanya tadi jisoo laper?”
satu fakta lagi tentang jisoo yang seokmin akan ingat terus, yaitu tentang porsi makan jisoo yang memang sedikit, tetapi makannya tetap banyak cenderung sering. sepanjang perjalanan tadi sudah mencoba cilok, cimol, telur gulung, dan kue cubit, tetapi masih lapar katanya. ternyata ada satu hal yang sedikit relateable tentang mereka. belum kenyang kalau belum makan nasi, hehehe.
“berarti ke McD, ya?” tanyanya dengan riang.
“boleh. oke berangkat, ya?”
“let’s go!”
***
selagi makan pun seokmin lagi-lagi tersihir oleh si hong jisoo ini. karena cara makannya yang lucu. ia memakan nasinya sama dengan cara orang-orang memakan burger, sementara ayamnya ia potong kecil-kecil dengan tangan satunya, dua tangannya sibuk dengan makanan. lucu sekali. sehingga tak kuasa seokmin untuk tidak membantunya, “sini aku yang potongin ayamnya, ya?”
senyum lagi dianya, matanya sampai hilang, “boleh, tapi aku kenyang, kamu mau gak nasi aku? aku mau makan ayamnya aja.”
tidak tahan lagi seokmin untuk tidak tertawa karena gemasnya jisoo saat mengatakan hal barusan, “yaudah, mau. soalnya jisoo lucu.”
“kok, lucu?”
“iya, tadi kan katanya laper, terus ini baru sedikit makannya tapi udah kenyang.”
“aku mau mcflurry, takut keburu meleleh, seok.”
“oooh, iya iya. sok, atuh dimakan ayamnya, es krimnya juga. tenang aja ini aku yang abisin nasi nya.”
tentu saja jisoo senang. sangat senang. hari ini banyak mencoba jajanan yang sebelumnya ia coba, dan juga terutama karena perlakuan seokmin yang selalu melukis indah senyum di wajah nya selama setengah hari ini.
setelah selesai mencuci tangan, merapikan bekas makanan dan membuangnya ke tempat sampah, keduanya sibuk dengan smartphonenya masing-masing. membalas pesan masuk yang diabaikan sedari tadi.
seokmin menjawab pesan dari teman-temannya di group chat, jisoo membalas pesan dari sahabatnya, yoon jeonghan, dan tidak lupa update di twitter agar semua pengikutnya tahu kalau dirinya sedang bahagia sekali.
“jisoo, kamu masih mau main, gak?” tanya seokmin setelah membaca ajakan dari sahabat-sahabatnya itu.
yang diajak bicara langsung menaruh kembali telepon genggam pintarnya itu, “masih, kenapa emangnya?”
“ikut, yuk. ketemu sama temen-temen aku. di warbir tapi.”
“warbir?”
“warung kopi gitu pokoknya, soo. nanti banyak orang-orang pada nongkrong juga. biasa, da, malem minggu namanya juga, kan.”
“ooh, gapapa, sih. tapi ajak jeonghan, yuk? dia kasian lagi galau.”
“sok, ajak. nanti paling ada mingyu juga disana, sih.”
“tapi kita yang jemput, kamu keberatan gak?”
“ya, enggak, sih. nanti minta ganti aja bensinnya sama iming, hehe.”
“hahahaha, yaudah. sekarang?”
“udah abis es krimnya?”
“udah, yuk.”
“hayuk, dah.”
***
berbeda dengan yang dikatakan jeonghan sebelumnya. tentang ia akan mengajak jisoo apabila suatu hari nanti mingyu mengundangnya untuk berkenalan dengan teman-teman semasa SMAnya itu. teman-teman yang selalu mengundang keributan bahkan setiap kali mingyu hanya bernapas.
kini justru jisoo yang mendapat undangan terhormat tersebut lebih dulu dari seokmin, yang juga sebagai anggota tetap geng euy, dan jisoo juga yang mengajak jeonghan untuk turut serta berkenalan dengan mereka-mereka itu.
hari ini, jisoo yang suasana hatinya sedang riang gembira, berbunga-bunga, serta penuh dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya, berbanding terbalik dengan jeonghan, yang kini duduk di kursi belakang mobil seokmin, sedang merasa sedikit resah karena akan bertemu pacarnya sendiri. padahal jeonghan selalu menekankan kalau tidak ada masalah apa-apa antara dirinya dan mingyu akhir-akhir ini.
jeonghan pun sengaja tidak bertanya kepada seokmin, mengenai mingyu akan turut menghadiri perkumpulan teman-temannya malam ini atau tidak. dan seokmin sendiri pun merasa tidak perlu memberi tahu, karena jawabannya sudah pasti hadir. sesibuk apapun para anggota geng euy, mereka hampir tidak pernah absen setiap kali ada agenda ‘nongkrong’ seperti ini, apalagi kebanyakan dari mereka masih melajang, alias belum punya kewajiban untuk apel malam minggu.
sepanjang perjalanan, jeonghan bahkan tidak mengindahkan percakapan jisoo dan seokmin yang saling menceritakan apapun tentang diri mereka masing-masing untuk mengenal lebih dalam satu sama lain. pikiran jeonghan terlalu sibuk memikirkan apa yang akan ia lakukan kala nanti bertemu dengan mingyunya, seakan sudah lama sekali tidak bertemu.
“nanti banyak yang ngerokok, kalo gak suka, kita beda table aja, oke gak?” tanya seokmin sesaat mereka semakin mendekati warbir, tempat tujuan mereka.
“gaya banget, beda ‘table’ bahasanya...” sahut jeonghan yang mulai tersadar dari lamunannya.
“eh, jangan meremehkan warbir kamu, han...” seokmin tidak terima.
“gapapa, kok. bareng-bareng aja, ya kan, han?” jisoo menimpali.
“iya santai aja, sih. gak masalah, kok.” karena yang masalah bagi jeonghan adalah bagaimana nanti ia menghadapi mingyu.
semakin dekat, jeonghan semakin tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti ini. ada apa dengan dirinya. kenapa harus begitu gelisah untuk menemui kekasihnya sendiri.
katanya tidak sedang marahan, katanya tidak ada masalah, dan katanya semua baik-baik saja.
atau mungkin yang sedang tidak baik-baik saja adalah dirinya sendiri. no one knows.
dan untuk informasi tambahan, seokmin sama sekali belum melihat notifikasi handphonenya semenjak perjalanan mereka menjemput jeonghan. pesan terakhir yang dibacanya adalah pesan dari eunwoo yang sepertinya sangat antusias untuk bertemu dengan seorang yoon jeonghan.
***