budak cinta sudah resmi menjadi nama tengah kim mingyu semenjak ia menjabat sebagai kekasih dari yoon jeonghan. tidak ada protes dari mingyu sendiri. ia justru merasa terhormat dengan nama tengahnya itu.

malam itu, langkah demi langkah ia ambil dengan perasaan bahagia yang menjulang tinggi. meskipun begitu, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

semua karena pesan manis yang dikirim jeonghan beberapa saat lalu. sungguh dibuat tidak karuan perasaannya kali ini. hebat sekali yoon jeonghannya.

sampai di unit yang sudah sangat familiar. ada sedikit ragu, harus kah mingyu membuka pintunya—jelas ia punya akses untuk itu—atau mengetuk dan menunggu disambut oleh seseorang yang katanya rindu akan dirinya.

namun kemudian diputuskan untuk mengetuk. dengan harapan setelah pintu ini dibuka, mingyu bisa dengan segera memberikan peluk yang diminta kekasihnya itu.

“sebentar.” ucap yoon jeonghan samar dari dalam apartemennya.

mana bisa seorang kim mingyu diminta untuk sabar. detik ini juga, didepan pintu yang tidak kunjung terbuka itu ia mulai tidak tenang. maunya segera bertemu.

diketuknya lagi benda penghalang antara mingyu dan jeonghan ini.

sampai akhirnya pemilik tempat tinggal itu menyambut baik ketukan-ketukan di pintunya, “kamu, tuh, gak bisa sabar, ya?”

“abisan lama. aku, kan, kangen juga, yang!” jawab mingyu sedikit merengek.

“yaudah masuk dulu.”

“gak jadi mau dipeluk?”

“di dalem aja.”

“nanti nambah..”

jeonghan hampir saja menutup kembali pintu apartemennya, tetapi tentu saja ditahan oleh lelaki yang tenaganya lebih besar dari dia.

“iya, bercanda.” senyum jahil turut merekah di bibir mingyu, “masuk, nih?”

“iyaaa..”

lalu disusul oleh keduanya yang kini sudah di dalam unit apartemen yang sudah mingyu hafal sekali setiap sudutnya.

“kamu jadi gak, sih, yang?” tanya mingyu yang terheran sebab jeonghan masih terbalut dengan kaos kebesarannya dan celana pendek, “katanya mau ke warbir?”

bukannya menjawab, jeonghan justru menghampiri mingyu untuk kemudian melabuhkan dirinya—meminta peluk.

kalau sudah begini mingyu hanya bisa terdiam, untuk mencerna apa yang baru saja terjadi dan kemudian merasakan hangat yang ia terima dari tubuh jeonghan.

dibanding mingyu, tubuh jeonghan jauh lebih kecil, sehingga seperti tenggelam ia kini di pelukan mingyu.

“gak usah kemana-mana” jeonghan berbisik di dalam pelukannya, “disini aja.”

bagai tidak bertulang, kedua kaki yang menopang tubuh mingyu kini melemas. sendi-sendinya seperti akan terlepas. otot-ototnya pun tidak sanggup lagi menahan tubuhnya.

tidak banyak jawaban yang mingyu keluarkan, “iya... udah.”

sesaat itu juga kesadarannya mulai kembali. sambil dibalas pelukannya, mingyu mulai menepuk-nepuk punggung kekasihnya. untuk diberikan sayang yang nyaman.

“ini salam tempelnya jadi juga, gak?” tanya mingyu dengan sedikit menggoda jeonghan.

jeonghan lalu melepas sedikit pelukannya untuk menatap mingyu yang lebih tinggi dari dirinya. diberikan salam tempel yang mingyu sebut-sebut sedari tadi, seperti anak kecil yang tidak akan berhenti meminta sebelum ia mendapatkan apa yang dimintanya.

karena julukannya adalah malaikat, tentu dikabulkan permintaan bayi besarnya ini.

satu salam tempel mendarat di bibir mingyu.

“udah?” ucap jeonghan setelah memberikan yang diminta kekasihnya.

senyum kemenangan lagi-lagi mekar disana—di tempat salam tempelnya. meskipun sejujurnya mingyu masih ingin lebih, “beneran nempel doang.”

“kamu mintanya salam tempel, kan?”

“ya iya, lebihin dikit, kek.”

“nanti keterusan.”

“emangnya kenapa? bagus, lah.”

satu tamparan gemas mendarat di kening mingyu. “aw!”

hadiah dari jeonghan karena tidak merasa cukup atas apa yang ia dapat.

“orang mah dicium ini bukan ditabok, katanya kangen.” mingyu mengeluh sambil mengusap-usap keningnya yang tidak sakit itu.

“udah, kangennya.”

“lah, sebentar amat.”

“udah peluk.”

“lagi, dong. sini, peluk lagi.” mingyu lalu membawa jeonghan kembali ke pelukannya.

dan dengan senang hati jeonghan menyambut baik peluknya.

selain punggungnya, kini puncak kepala jeonghan turut diusap lembut sambil sesekali dikecup untuk membalas rindunya.

rindu itu baik, rindu itu tanda cinta, rindu juga yang memperkuat mereka ketika bertemu menjadi hal yang sulit. dan untuk malam ini, meskipun keduanya berada dalam satu tempat yang sama bahkan tidak ada jarak lagi yang memisahkan, mingyu mau jeonghan merindukannya sedikit lebih lama—untuk peluk yang lebih lama.

“mingyu…” jeonghan berbisik dalam peluknya, “kamu sayang aku, kan?”

“iya, lah. kalo gak sayang aku gak disini sekarang, yang.”

jeonghan mengangguk tanda ia mengerti apa yang dimaksud mingyu, “kalau gitu, kamu mau, kan? buatin aku indomie?”

mingyu terkekeh tidak percaya akan apa yang baru saja diucapkan jeonghan dan malah semakin mengeratkan pelukan keduanya. gemas.

“mingyu, sakit!” ucap jeonghan yang terhimpit tubuh besar mingyu.

dilonggarkan lagi peluknya oleh mingyu, “kirain udah gak pengen indomie.”

“masih mau.”

“yaudah, nanti aku bikinin.”

“sekarang.”

“iya.”

kontradiktif dengan apa yang dikatakan. tidak ada satu dari mereka yang enggan melepas peluknya. Bergerak satu senti meter pun tidak dilakukan.

“mingyu,”

“apa.”

“udah.”

“sebentar, masih nyaman, yang.”

-