sebaik-baiknya manusia berencana, tetap bukan kuasanya untuk menentukan kemana arah langkahnya bertujuan.

maksud hati ingin menghindari seseorang yang sekarang malah berdiri beberapa langkah dari dirinya. laki-laki yang tingginya bertambah sejak terakhir kali mereka bertemu di bandara, dengan kaos putih dibalut kemeja flanel dan celana jeans, dilengkapi dengan senyum manis yang sangat familiar.

and oh that lips, bet jeonghan still remembers how it tastes, though.

“gondrong?” begitu kata pertama yang diucap ketika jeonghan mendekat, masih dengan seringai yang tidak mau lepas karena terlalu bahagia.

“males potong rambut,” jawab jeonghan yang memang benar begitu alasannya, “gak sempat.”

lawan bicaranya hanya mengangguk dan kemudian memimpin langkah mereka selanjutnya.

“nginep disini?” pertanyaan yang sudah mengganggu benak jeonghan sejak membaca pesan masuk dari yang bersangkutan.

“disuruh jisoo, katanya biar gue gak kabur.”

“kabur kemana?”

“ke bandung.” jawabnya yang tentu saja bercanda.

jeonghan terkekeh kecil, “ngapain, di bandung gak ada laut.”

“iya, adanya cilok, kan?”

“iya. sama cuanki.”

tawa kecil keduanya mengiringi pemberhentian langkah mereka untuk duduk di salah satu bean bag yang tersedia di pinggiran pantai. bersiap-siap dengan seksama menyaksikan tenggelamnya matahari.

“hyungwon,” ucap jeonghan kepada seseorang di sebelahnya, yang menjadi alasan ia berencana sedemikian mestinya, tetapi ternyata pertemuan mereka harus terlaksana lebih dulu dari acara utamanya.

“hm?” matanya turut berpindah fokus kepada jeonghan. karena menurutnya, yang lebih indah bukan ada lurus didepannya.

“aneh,” jeonghan memberi jeda sejenak, “ketemunya kaya gini.”

“emang harusnya gimana?”

“gak tau”

hyungwon tergelak sedikit mendengar jawaban yang sangat yoon jeonghan, “kenapa? katanya gak mau ketemu gue? what did i do? beneran, deh, han.”

“because you are bunda’s favorite.”

“terus, masalahnya adalah?”

“bunda jadi minta gue pulang.”

“ini, sekarang udah pulang?”

“iya, tapi maksud bunda for good.”

“and?”

“gak bisa.”

“why?” hyungwon mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, ia benar-benar ingin tahu jawabannya.

“because it’s not you anymore, hyungwon.”

“okay,” hyungwon berusaha memahami, “terus?”

“terus, sekarang i hurt someone.”

“your boyfriend?”

“iya.”

jawaban jeonghan turut memberi perih dalam hatinya. setidaknya ia mengerti keadaan antara dirinya sekarang dengan mingyu—the boyfriend he hurt.

dan tanpa disadari, mataharinya sudah tidak terlihat. langit mulai gelap. riuh ombak bersahutan semakin kencang terdengar. angin malam menyelimuti tanpa memberi kehangatan.

jeonghan masih dipenuhi dengan kebingungan. sebab itu, tindakan-tindakannya menjadi tidak selaras dengan jalan pikirannya. persis seperti kejadian yang sempat terlupakan, ketika kali pertama mencicipi minuman beralkohol yang membuatnya berucap sesuka hati, kini jeonghan melabuhkan kepalanya untuk bersandar pada bahu yang menganggur di sebelahnya. bedanya, kali ini ia dalam keadaan sadar sepenuhnya.

“han, the past stays in the past. if it’s not me anymore, i understand. temenan aja, gak papa-papa, han.” hyungwon mengusap lembut pundak jeonghan yang ia tahu sedang lelah menanggung semuanya sendiri.

“bunda will never understand.”

“ngerti, coba dulu aja ngomong.” hyungwon memberi keyakinan, “atau, mau gue bantuin? ngomong ke bunda? i can just tell her, gue udah punya pacar, terus mau nikah.”

jeonghan sedikit terhibur dengan jawaban itu. seandainya memang semudah itu untuk meyakinkan bundanya, “percaya gak?”

“enggak kayanya.”

keduanya tertawa miris, tahu betul kalau hal itu tidak akan menyelesaikan masalah antara jeonghan dan bundanya.

“yaudah, i’ll take care of it later. gak usah dipikirin.”

“gak bisa, lah. kan, kita temenan.” hyungwon meledek jeonghan.

“shut up.”

malam yang semakin larut menjadi saksi bisu antara jeonghan dan hyungwon yang tidak pernah bisa bersatu, namun saling memberi kenyamanan. mereka masih dalam pelukan yang enggan terlepas. meski seperti terdengar sebuah rintihan dari yang sedang diam-diam menunggu dengan sabar, sendirian.

“tell me, about your boyfriend.” pinta hyungwon, “are you happy?”

“emang keliatan kaya gak bahagia?”

“bukan, bukan gak bahagia, han. tapi, i'm just wondering, what is it about him yang bikin lo gak mau pulang, terus nolak gue lagi?”

“lagi?”

“haha, iya, iya, bagian itu salah, deh. gak mau terima banget, sih.”

“gue yang ditolak.”

“diterima, tapi lo mabok.”

“lupain, deh.”

“yaudah, ceritain. gimana?”

masih dalam sandaran ternyaman, jeonghan berusaha menyusun setiap kata yang tepat untuk mendeskripsikan tentang mingyu yang ia cintai, “i love him, hyungwon.”

“hm?”

“how to love and feel loved.”

“you get it from him?”

“iya. everything.”

“good for you.”

namun teringat lagi bagaimana akhir-akhir ini hubungannya terasa tidak baik-baik saja. seandainya jeonghan tahu bagaimana caranya untuk memahami setiap perasaan, baik yang ada dalam dirinya, maupun orang lain. seandainya juga, ada pemikiran panjang sebelum melakukan sesuatu yang tidak pernah ia tahu akan melukai orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

“mingyu, namanya.” jeonghan berusaha sekali untuk menahan genangan yang mulai menutupi pandangan matanya itu jatuh ketika menyebut nama itu, “i don’t know how to tell him about us, because it is complicated. me, i’m complicated.”

“he mad?”

“as he should. he read our conversation.”

“everything?”

“uhm. he refuses to talk to me now.”

“i’m sorry, han. seharusnya, that conversation never happened dan beneran should have stayed in the past.”

“udah kejadian. salah gue.”

“don’t blame yourself like that, han. kebiasaan, nih.”

“it is, my fault. mau nyalahin siapa lagi? bunda?”

“han,”

“it’s fine, hyungwon. yang ini juga, i’ll take care, later.”

“you sure, you okay?”

“no. but at least, udah cerita semuanya. i need to pour out my thoughts. it’s suffocating.”

“you always have me, han. talk to me every time you need to. i’ll listen.”

“thank you, best friend.”

“sama-sama, best friend.

yoon jeonghan adalah manusia dengan segala usahanya untuk mengenali dirinya sendiri. yang sepanjang perjalanan hidupnya baru satu kali mengenal cinta sesungguhnya. yang tidak pernah punya pilihan akan jalan cerita hidupnya. dan hanya bertumpu pada dirinya sendiri.

mungkin memang di setiap prosesnya banyak kesalahan dan sama sekali bukan inginnya untuk menyakiti setiap hati yang hidup. isi kepalanya pun selalu dipenuhi kata maaf, walau tidak tahu bagaimana menyampaikannya. terlalu banyak yang terluka.