warbir
—
sudah hampir satu setengah jam jeonghan disana bersama dengan teman-teman kekasihnya, mingyu, yang sampai saat ini juga belum terlihat kehadirannya. segala obrolan tercipta disana, mulai dari meledek seokmin yang dinilai lamban untuk pdkt dengan jisoo, sesekali juga membahas tentang masa lalunya seokmin, kemana perginya jaehyun karena tak terlihat batang hidungnya, dan mingyu yang akhir-akhir ini sedang galau. namun sayangnya, semua pembicaraan itu tidak jeonghan hiraukan, sebab yang ada dipikirannya saat ini hanya tentang mingyu dan segala tanda tanya tentang dirinya sendiri.
entah sedang dalam keadaan sadar atau tidak, jeonghan merasa akhir-akhir ini apa yang ia pikirkan dengan perbuatannya terhadap mingyu sangat berlawanan. jauh didalam lubuk hatinya jeonghan sangat rindu, tetapi apa yang ia berikan kepada mingyu justru malah perasaan jengkel serta dipenuhi gundah.
dan seperti kebetulan, dari kejauhan sana terlihat sebuah mobil baru saja memasuki lahan parkir warung biru. lampu kendarannya sangat mengundang siapa saja untuk mencari tahu siapa yang baru saja datang itu. beberapa pengunjung warbir saat ini tentu tahu siapa pemilik mobil tersebut.
terlebih lagi jeonghan.
degup jantungnya semakin cepat dan semakin tidak karuan tingkahnya saat ini.
“si kiming tuh, ya?”
“iya, lah. siapa lagi. ke warkop pake mobil segede gaban.”
“eh, si wonwoo ada kan?”
“iye ada. itu di situ kali tuh.” sambil menunjuk meja lain.
“lah, aing gak dikasih tau ada si wonwoo, euy.”
“dibaca makanya grupnya”
“tadi teh dijalan, ga bisa baca grup aku tuh.”
“telat banget lo, seok. orang udah pada was-was dari tadi.”
“sama si jaehyun ya? pantesan si bos kaga keliatan.”
“iya kan dibilang juga dari tadi, ih, nyimak gak sih, kamu. ada temen kelasnya dia juga disitu itu. rame.”
“pantesan.”
dari banyaknya keributan yang dibuat oleh geng euy malam ini, percakapan barusan lah yang ternyata paling bisa jeonghan tangkap dengan mudah. bagaimana tidak, karena ada satu nama yang disebut mereka dan dapat dengan mudah membangunkan jeonghan dari sibuk dengan pikirannya sendiri sedari tadi itu.
dan untuk saat ini, jeonghan lebih takut dengan kenyataan dimana ia dan kekasihnya sekarang berada ditempat yang sama dengan si masa lalu itu, dari pada untuk menghadapi mingyu sendiri setelah menolak ajakannya tadi untuk menemui orang tuanya dirumah.
takut kalau nanti mendapati mingyu malah memilih menemui si dia itu. seseorang yang katanya sangat baik. seseorang yang selalu disebut teman-temannya, lalu mengundang pertengkaran di antara dirinya dan mingyu.
dan benar saja.
sesaat mingyu keluar dari mobilnya, tujuan pertamanya adalah meja dimana wonwoo berada. sebisa mungkin jeonghan untuk mengalihkan pikirannya dari yang tidak seharusnya.
mungkin ia melihat jaehyun disana dan mungkin ia kira teman-teman yang lainnya juga berada disana.
“eeeeyyyyyyyy………”
“langsung banget, dah.”
“parah sih. masa yang disamperin mantan duluan.”
“kaga liat kali dia.”
“biasa juga kita mah disini duduknya.”
“aduh cengar-cengir gitu dia.”
“tampak sangat bahagia bertemu si mantan kekasih.”
lagi-lagi kericuhan yang terjadi benar-benar semakin mengacaukan isi pikiran jeonghan. ia mau secepatnya mingyu untuk berada di dekatnya sekarang. bukan disana. menemui seseorang yang seharusnya sudah tinggal kenangan.
soonyoung tentu saja tahu apa yang sedang jeonghan pikirkan. “mau dipanggil biar kesini, gak?”
sudah banyak waktu mereka lalui bersama, tentu bukan hal baru lagi bagi soonyoung melihat kedua pasangan ini membuatnya pusing karena selalu ada saja yang diributkan akhir-akhir ini.
“gak usah, soonyoung. nanti juga kesini sendiri.” untuk kesekian kalinya kata yang keluar dari mulutnya justru berbeda dengan ingin hatinya. jeonghan membiarkan mingyu sedikit lebih lama di sana, begitu juga pikiran kalutnya.
meskipun begitu, jeonghan tetap percaya mingyunya, sebab tidak butuh waktu lama untuk kekasihnya itu menyadari kalau seharusnya ia tidak disana.
dan selanjutnya, jeonghan bisa melihat mingyu dan satu orang lagi, yang ia yakini adalah jaehyun, berjalan menuju tempat dimana jeonghan dan teman-teman—yang sesungguhnya—berada.
“waduh, asik bener abis silaturahmi sama sang mantan.”
“apa kabar, doi?”
“asik banget dah, ada pacar, ada mantan. lengkap ye, ming.”
“kasian ini pacar kamu nungguin, ih parah sih.”
“apaan, dah, anjir. gua kira lo semua disitu. orang si jaehyun langsung manggil pas gua turun mobil. taunya itu anak-anak kelasannya semua.” sahut mingyu yang baru datang dan diberi sambutan dengan ledekan dari teman-temannya itu.
jeonghan sedikit tenang karena yang ia pikirkan benar adanya. mingyu disana bukan karena keinginannya sendiri, atau dengan sengaja.
“alesan, kali, ming.”
“bisa aja, dah, ngelesnya”
“emang dasar, dah.”
mingyu masa bodo dengan apa yang teman-temannya ributkan itu, perhatiannya tertuju pada seseorang yang beberapa waktu belakangan ini membuatnya bertanya-tanya. mingyu pun menyadari ada eunwoo yang duduk tepat di samping jeonghan, “ini apaan sih, nih. minggir lu, nu.”
eunwoo yang sedang tidak melakukan apapun itu sedikit terkejut dan memilih untuk mengalah dan memberikan tempat duduknya kepada mingyu sebelum ada pertengkaran disana, “lama, sih, datengnya.”
sayangnya, jisoo belum tahu apa yang sedang terjadi. bertanya-tanya kenapa kedatangan mingyu disambut seramai ini. terlebih lagi raut wajah jeonghan sudah sangat suntuk, padahal saat ini bisa dipastikan ia akan menyantap makanan kesukaannya tanpa perlu khawatir akan dilarang mingyu sebelumnya. tidak seperti biasanya.
“seok, kenapa mantannya mingyu?” tanya jisoo berbisik.
“itu, ada disana tuh.” seokmin menunjuk dimana wonwoo berada dengan dagunya, “wonwoo, namanya, soo.”
“oooh.” jawab jisoo yang berusaha mengerti dengan sendirinya apa yang terjadi terhadap kedua pasangan itu.
kekhawatiran jisoo segera dibuyarkan oleh pesanannya sudah mulai datang satu-persatu. begitu juga air mineralnya yang tiba-tiba sudah siap diminum karena seokmin tentu sangat berbaik hati untuk membantunya membukakan tutup botol air mineral yang dibelinya entah kapan, jisoo terlalu sibuk memperhatikan jeonghan sedari kedatangan mingyu tadi.
“jeonghan, ini indomie kamu, ya. minumnya nanti aku bawain. es teh, mau?” tanya eunwoo sambil membawakan jeonghan pesanannya dengan hati-hati.
“buset. siram aja, nu, gua sekalian. air panas kan itu? kaga liat apa ada pacarnya ini?” mingyu pun tidak dapat menutupi kejengkelannya kali ini. matanya terus menatap eunwoo sinis.
“mingyu!” jeonghan tentu saja membela eunwoo yang sedari tadi sudah berbaik hati padanya, “iya, boleh, nu. thanks banget, ya.”
seperti sudah tau apa yang akan terjadi, jeonghan benar-benar membuat mingyu kesal dengan perbuatannya barusan. tanpa ia sadari kalau mingyu juga sepertinya masih belum terima dengan ditolaknya ajakan untuk menemui orang tuanya tadi, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas. tetapi tiba-tiba jeonghan menyetujui ajakan seokmin—menurut sepengetahuan mingyu—untuk berada disini sekarang.
“kamu rese, tau, yang? tadi diajakin ke rumah mamah, gak mau. sekarang kamu malah kesini, diajak sama seokmin, mau.” ucap mingyu yang sepertinya sudah siap untuk meledakkan isi kepalanya.
seokmin yang duduk tepat di seberangnya merasa bingung kenapa dirinya diikutsertakan dalam perdebatan mereka kali ini, “naon, anjir. perasaan bukan aku yang ngajak.”
“aku baru selesai ngerjain tugas, mingyu. emang aku yang mau keluar, kok. jisoo diajak kesini sama seokmin, terus dia ajak aku.” jawab jeonghan yang sudah sangat tidak mempunyai nafsu makannya kali ini.
“kan bisa bilang. nanti aku jemput, yang.”
“aku pikir kamu ada acara dirumah mama.”
“acara apaan, sih, masa sampe malem gini. tadi sore juga udah selesai.”
lagi-lagi sulit bagi mereka menahan diri untuk tidak bertengkar di tempat ramai seperti ini. lebih buruknya lagi, ada teman-teman mereka yang menyaksikan pertikaian tersebut.
“makan dulu, han. nanti baru ngomong lagi.” soonyoung memotong pertengkaran mereka, “lo juga, ming. tahan dulu apa, sih. ini lagi nongkrong. nanti kalo udah berdua bisa, kan?”
“dengerin, ming.” seokmin yang sepertinya masih belum terima pun ikut menambahkan.
suasana kali ini berubah menjadi sedikit canggung. semuanya benar-benar terdiam dan memilih untuk berpura-pura tidak mendengar yang barusan terjadi.
“eh cabut dulu, deh. gue mau isi bensin dulu. takut keburu malem.” jaehyun memecah keheningan, “nanti kalo wonwoo nanya, bilang tungguin aja, ya.”
beberapa dari mereka yang berada di tempat mendengus mendengar ucapan jaehyun barusan. seperti tidak bisa membaca suasana. tetapi mereka terlalu paham dengan kawannya satu itu, yang memang sedikit tidak peka terhadap beberapa hal.
dan memang sepertinya hari ini penuh kejutan untuk jeonghan. belum selesai yang barusan terjadi, sudah harus dikejutkan lagi dengan kehadiran seseorang yang membuatnya takut dan resah sedari tadi.
“sorry… ada yang liat jaehyun, gak ya?” tanya sosok berkacamata itu.
“baru banget pergi, nu. isi bensin katanya. kenapa, nu? mau pulang?” tentu saja yang menjawab adalah kim mingyu, karena yang bertanya barusan adalah wonwoo, si mantan kekasihnya.
“iya, gyu. kira-kira lama gak, ya?” tanya wonwoo lagi.
disana, teman-temannya yang lain benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini. mereka sangat tahu betapa sensitifnya pembahasan mingyu dan kisah lamanya ini untuk jeonghan. oleh karena itu, mereka memutuskan untuk tidak membuka suara sama sekali.demi kedamaian nusa dan bangsa.
“gak tau, sih, nu. kamu buru-buru mau pulangnya? udah disuruh papa?” tentu saja si paling tahu tentang segalanya, kim mingyu.
“nggak disuruh pulang, kok. tapi udah pada mau pulang juga, sih. jadi mau ikut aja, gyu.” wonwoo sejujurnya sangat canggung berada di sekitar teman-teman mingyu. ia tidak kenal dekat dengan mereka semua, apalagi dengan dua wajah baru disana.
“yaudah—”
jeonghan seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, “mingyu, aku mau pulang, sekarang.”
semua tentu terkejut. tak terkecuali jisoo yang masih dengan khidmat menikmati indomie kornetnya.
“hm?” mingyu pun dibuat terkejut dengan perkataan jeonghan barusan.
“aku mau pulang... sekarang, mingyu.” jeonghan menekankan kata-katanya seakan memaksa mingyu untuk segera pergi dari sini dan mengantarnya pulang.
“nu, tungguin aja jaehyunnya dulu, deh.” tentu saja mingyu tidak akan membiarkan wonwoo berdiam diri tanpa jawaban.
“mingyu…” sementara jeonghan sudah sangat tidak tahan dengan apa yang ia saksikan ini.
wonwoo disana masih butuh kepastian tentang jaehyun yang tiba-tiba pergi meninggalkannya, “tapi lama gak, gyu?”
“gak tau, nu.” baru kali ini mingyu dibuat bingung dalam satu waktu.
jeonghan pun sudah berdiri dari duduknya dan perlahan berlalu meninggalkan semua orang disana tanpa berpamitan sepatah kata pun.
“udah dianterin dulu si jeonghan.” soonyoung lagi-lagi menengahi.
“nu, tunggu disini aja, ya? aku duluan. nanti jaehyun balik lagi, pasti.” mingyu meyakinkan wonwoo kalau jaehyun akan kembali cepat atau lambat.
setelah itu, secepat mungkin mingyu mengejar jeonghan yang sudah berdiri disamping mobilnya dan benar-benar sudah kehabisan akal sehatnya kali ini.
“yang, kamu apaan, sih. tiba-tiba minta pulang. aku baru juga sampe.” ucap mingyu sesaat berhasil mengejar jeonghan.
“aku ngantuk, mingyu. mau istirahat.” jawab jeonghan yang tentu saja bukan alasan sesungguhnya.
“ya kamu kalo emang capek, mah, gak usah kesini. istirahat aja dari tadi di apart, han.”
“kamu gak mau aku ada disini?”
“bukan gitu. siapa sih yang bilang gitu, han.”
“kamu marah-marah terus, mingyu. padahal aku disini cuma mau istirahat abis nugas tadi.”
“bilang makanya. aku kan ngajak kamu keluar tadi, tapi kamunya gak mau. giliran diajak jisoo kamu langsung mau. kenapa sih, han? aku ada salah apa gimana? ngomong aja!”
“kok dibahas lagi? aku kan udah bilang. aku baru selesai nugas, aku gak mau ganggu acara keluarga kamu!”
“gak pernah aku merasa terganggu, han, sama kamu. asal kamu tau, ya.”
“yaudah, aku mau pulang sekarang...”
teman-teman mingyu tentu bisa tahu apa yang terjadi di parkiran kini. beberapa mata tertuju pada kedua kekasih ini. memang tidak terlalu bisa terdengar perdebatan mereka, tapi semua orang pun tahu kalau mereka sedang tidak baik-baik saja.
ada soonyoung yang tiba-tiba menghampiri dan memaksa mereka untuk segera masuk kedalam mobil, “dah, pulang buruan. udah malem. berantemnya nanti lagi.”
mereka akhirnya berhasil digiring masuk kedalam mobil mingyu oleh soonyoung. menyudahi pertunjukan drama gratis untuk para pengunjung warbir di malam minggu kelabu ini.
***
terasa sangat dingin perjalanan pulang mereka, entah karena pengaturan pendingin udara di mobil mingyu atau memang karena tidak adanya percakapan diantara keduanya yang bisa menghangatkan.
isi kepala mingyu dipenuhi dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada kekasihnya itu. semakin hari, semakin membuatnya hampir gila. kesabarannya juga sudah hampir habis. beberapa kali ia menumpahkan amarahnya malam ini, meskipun selalu disudahi teman-temannya, terutama soonyoung.
sementara jeonghan disana masih diam seribu kata, pun kalau akhirnya berucap belum tentu apa yang ia katakan adalah yang sesungguhnya ia ingin katakan pada mingyu. jeonghan masih belum mengerti apa mau dirinya sendiri dan tidak menyadari kalau dirinya akhir-akhir ini selalu melakukan segala hal semaunya. membuat mingyu tidak mengerti ada apa diantara mereka. yang jeonghan tahu adalah, semuanya baik-baik saja, sampai malam ini.
sesampainya di apartemen tempat jeonghan tinggal, mingyu berhenti tepat di depan lobby. jeonghan terdiam sesaat. hampir lupa apa yang terjadi beberapa saat lalu.
artinya, malam ini sendiri tanpa mingyu lagi.
“kenapa, sih, han?” mingyu berusaha sekali lagi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka akhir-akhir ini.
“kenapa apa lagi, sih, mingyu?”
“kamu tiba-tiba minta pulang pas ada wonwoo. kenapa? cemburu? bilang aja, han.”
“kamu pasti mau nawarin wonwoo untuk kamu anter pulang, kan, mingyu?”
“apaan, sih, han. ya enggak, lah… ada kamu di sana, mana mungkin aku ninggalin kamu. gila kali aku!”
“kalau aku gak ada?”
“han, bisa jangan kaya gini, gak? kenapa, sih?! pikiran kamu tuh jelek banget!”
“aku capek, mingyu.”
“ya aku juga, han. capek kamu kaya gini terus. aku gak ngerti!”
“terus aku harus apa?”
“ngomong aja. kasih tau aku, kamu kenapa?”
“ngomong apa lagi? aku udah bilang aku capek, mau istirahat, mingyu. susah ya buat kamu ngerti?”
“yaudah terserah kamu aja, han.”
***