kiyeomie

sudah hampir satu setengah jam jeonghan disana bersama dengan teman-teman kekasihnya, mingyu, yang sampai saat ini juga belum terlihat kehadirannya. segala obrolan tercipta disana, mulai dari meledek seokmin yang dinilai lamban untuk pdkt dengan jisoo, sesekali juga membahas tentang masa lalunya seokmin, kemana perginya jaehyun karena tak terlihat batang hidungnya, dan mingyu yang akhir-akhir ini sedang galau. namun sayangnya, semua pembicaraan itu tidak jeonghan hiraukan, sebab yang ada dipikirannya saat ini hanya tentang mingyu dan segala tanda tanya tentang dirinya sendiri.

entah sedang dalam keadaan sadar atau tidak, jeonghan merasa akhir-akhir ini apa yang ia pikirkan dengan perbuatannya terhadap mingyu sangat berlawanan. jauh didalam lubuk hatinya jeonghan sangat rindu, tetapi apa yang ia berikan kepada mingyu justru malah perasaan jengkel serta dipenuhi gundah.

dan seperti kebetulan, dari kejauhan sana terlihat sebuah mobil baru saja memasuki lahan parkir warung biru. lampu kendarannya sangat mengundang siapa saja untuk mencari tahu siapa yang baru saja datang itu. beberapa pengunjung warbir saat ini tentu tahu siapa pemilik mobil tersebut.

terlebih lagi jeonghan.

degup jantungnya semakin cepat dan semakin tidak karuan tingkahnya saat ini.

“si kiming tuh, ya?”

“iya, lah. siapa lagi. ke warkop pake mobil segede gaban.”

“eh, si wonwoo ada kan?”

“iye ada. itu di situ kali tuh.” sambil menunjuk meja lain.

“lah, aing gak dikasih tau ada si wonwoo, euy.”

“dibaca makanya grupnya”

“tadi teh dijalan, ga bisa baca grup aku tuh.”

“telat banget lo, seok. orang udah pada was-was dari tadi.”

“sama si jaehyun ya? pantesan si bos kaga keliatan.”

“iya kan dibilang juga dari tadi, ih, nyimak gak sih, kamu. ada temen kelasnya dia juga disitu itu. rame.”

“pantesan.”

dari banyaknya keributan yang dibuat oleh geng euy malam ini, percakapan barusan lah yang ternyata paling bisa jeonghan tangkap dengan mudah. bagaimana tidak, karena ada satu nama yang disebut mereka dan dapat dengan mudah membangunkan jeonghan dari sibuk dengan pikirannya sendiri sedari tadi itu.

dan untuk saat ini, jeonghan lebih takut dengan kenyataan dimana ia dan kekasihnya sekarang berada ditempat yang sama dengan si masa lalu itu, dari pada untuk menghadapi mingyu sendiri setelah menolak ajakannya tadi untuk menemui orang tuanya dirumah.

takut kalau nanti mendapati mingyu malah memilih menemui si dia itu. seseorang yang katanya sangat baik. seseorang yang selalu disebut teman-temannya, lalu mengundang pertengkaran di antara dirinya dan mingyu.

dan benar saja.

sesaat mingyu keluar dari mobilnya, tujuan pertamanya adalah meja dimana wonwoo berada. sebisa mungkin jeonghan untuk mengalihkan pikirannya dari yang tidak seharusnya.

mungkin ia melihat jaehyun disana dan mungkin ia kira teman-teman yang lainnya juga berada disana.

“eeeeyyyyyyyy………”

“langsung banget, dah.”

“parah sih. masa yang disamperin mantan duluan.”

“kaga liat kali dia.”

“biasa juga kita mah disini duduknya.”

“aduh cengar-cengir gitu dia.”

“tampak sangat bahagia bertemu si mantan kekasih.”

lagi-lagi kericuhan yang terjadi benar-benar semakin mengacaukan isi pikiran jeonghan. ia mau secepatnya mingyu untuk berada di dekatnya sekarang. bukan disana. menemui seseorang yang seharusnya sudah tinggal kenangan.

soonyoung tentu saja tahu apa yang sedang jeonghan pikirkan. “mau dipanggil biar kesini, gak?”

sudah banyak waktu mereka lalui bersama, tentu bukan hal baru lagi bagi soonyoung melihat kedua pasangan ini membuatnya pusing karena selalu ada saja yang diributkan akhir-akhir ini.

“gak usah, soonyoung. nanti juga kesini sendiri.” untuk kesekian kalinya kata yang keluar dari mulutnya justru berbeda dengan ingin hatinya. jeonghan membiarkan mingyu sedikit lebih lama di sana, begitu juga pikiran kalutnya.

meskipun begitu, jeonghan tetap percaya mingyunya, sebab tidak butuh waktu lama untuk kekasihnya itu menyadari kalau seharusnya ia tidak disana.

dan selanjutnya, jeonghan bisa melihat mingyu dan satu orang lagi, yang ia yakini adalah jaehyun, berjalan menuju tempat dimana jeonghan dan teman-teman—yang sesungguhnya—berada.

“waduh, asik bener abis silaturahmi sama sang mantan.”

“apa kabar, doi?”

“asik banget dah, ada pacar, ada mantan. lengkap ye, ming.”

“kasian ini pacar kamu nungguin, ih parah sih.”

“apaan, dah, anjir. gua kira lo semua disitu. orang si jaehyun langsung manggil pas gua turun mobil. taunya itu anak-anak kelasannya semua.” sahut mingyu yang baru datang dan diberi sambutan dengan ledekan dari teman-temannya itu.

jeonghan sedikit tenang karena yang ia pikirkan benar adanya. mingyu disana bukan karena keinginannya sendiri, atau dengan sengaja.

“alesan, kali, ming.”

“bisa aja, dah, ngelesnya”

“emang dasar, dah.”

mingyu masa bodo dengan apa yang teman-temannya ributkan itu, perhatiannya tertuju pada seseorang yang beberapa waktu belakangan ini membuatnya bertanya-tanya. mingyu pun menyadari ada eunwoo yang duduk tepat di samping jeonghan, “ini apaan sih, nih. minggir lu, nu.”

eunwoo yang sedang tidak melakukan apapun itu sedikit terkejut dan memilih untuk mengalah dan memberikan tempat duduknya kepada mingyu sebelum ada pertengkaran disana, “lama, sih, datengnya.”

sayangnya, jisoo belum tahu apa yang sedang terjadi. bertanya-tanya kenapa kedatangan mingyu disambut seramai ini. terlebih lagi raut wajah jeonghan sudah sangat suntuk, padahal saat ini bisa dipastikan ia akan menyantap makanan kesukaannya tanpa perlu khawatir akan dilarang mingyu sebelumnya. tidak seperti biasanya.

“seok, kenapa mantannya mingyu?” tanya jisoo berbisik.

“itu, ada disana tuh.” seokmin menunjuk dimana wonwoo berada dengan dagunya, “wonwoo, namanya, soo.”

“oooh.” jawab jisoo yang berusaha mengerti dengan sendirinya apa yang terjadi terhadap kedua pasangan itu.

kekhawatiran jisoo segera dibuyarkan oleh pesanannya sudah mulai datang satu-persatu. begitu juga air mineralnya yang tiba-tiba sudah siap diminum karena seokmin tentu sangat berbaik hati untuk membantunya membukakan tutup botol air mineral yang dibelinya entah kapan, jisoo terlalu sibuk memperhatikan jeonghan sedari kedatangan mingyu tadi.

“jeonghan, ini indomie kamu, ya. minumnya nanti aku bawain. es teh, mau?” tanya eunwoo sambil membawakan jeonghan pesanannya dengan hati-hati.

“buset. siram aja, nu, gua sekalian. air panas kan itu? kaga liat apa ada pacarnya ini?” mingyu pun tidak dapat menutupi kejengkelannya kali ini. matanya terus menatap eunwoo sinis.

“mingyu!” jeonghan tentu saja membela eunwoo yang sedari tadi sudah berbaik hati padanya, “iya, boleh, nu. thanks banget, ya.”

seperti sudah tau apa yang akan terjadi, jeonghan benar-benar membuat mingyu kesal dengan perbuatannya barusan. tanpa ia sadari kalau mingyu juga sepertinya masih belum terima dengan ditolaknya ajakan untuk menemui orang tuanya tadi, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas. tetapi tiba-tiba jeonghan menyetujui ajakan seokmin—menurut sepengetahuan mingyu—untuk berada disini sekarang.

“kamu rese, tau, yang? tadi diajakin ke rumah mamah, gak mau. sekarang kamu malah kesini, diajak sama seokmin, mau.” ucap mingyu yang sepertinya sudah siap untuk meledakkan isi kepalanya.

seokmin yang duduk tepat di seberangnya merasa bingung kenapa dirinya diikutsertakan dalam perdebatan mereka kali ini, “naon, anjir. perasaan bukan aku yang ngajak.”

“aku baru selesai ngerjain tugas, mingyu. emang aku yang mau keluar, kok. jisoo diajak kesini sama seokmin, terus dia ajak aku.” jawab jeonghan yang sudah sangat tidak mempunyai nafsu makannya kali ini.

“kan bisa bilang. nanti aku jemput, yang.”

“aku pikir kamu ada acara dirumah mama.”

“acara apaan, sih, masa sampe malem gini. tadi sore juga udah selesai.”

lagi-lagi sulit  bagi mereka menahan diri untuk tidak bertengkar di tempat ramai seperti ini. lebih buruknya lagi, ada teman-teman mereka yang menyaksikan pertikaian tersebut.

“makan dulu, han. nanti baru ngomong lagi.” soonyoung memotong pertengkaran mereka, “lo juga, ming. tahan dulu apa, sih. ini lagi nongkrong. nanti kalo udah berdua bisa, kan?”

“dengerin, ming.” seokmin yang sepertinya masih belum terima pun ikut menambahkan.

suasana kali ini berubah menjadi sedikit canggung. semuanya benar-benar terdiam dan memilih untuk berpura-pura tidak mendengar yang barusan terjadi.

“eh cabut dulu, deh. gue mau isi bensin dulu. takut keburu malem.” jaehyun memecah keheningan, “nanti kalo wonwoo nanya, bilang tungguin aja, ya.”

beberapa dari mereka yang berada di tempat mendengus mendengar ucapan jaehyun barusan. seperti tidak bisa membaca suasana. tetapi mereka terlalu paham dengan kawannya satu itu, yang memang sedikit tidak peka terhadap beberapa hal.

dan memang sepertinya hari ini penuh kejutan untuk jeonghan. belum selesai yang barusan terjadi, sudah harus dikejutkan lagi dengan kehadiran seseorang yang membuatnya takut dan resah sedari tadi.

sorry… ada yang liat jaehyun, gak ya?” tanya sosok berkacamata itu.

“baru banget pergi, nu. isi bensin katanya. kenapa, nu? mau pulang?” tentu saja yang menjawab adalah kim mingyu, karena yang bertanya barusan adalah wonwoo, si mantan kekasihnya.

“iya, gyu. kira-kira lama gak, ya?” tanya wonwoo lagi.

disana, teman-temannya yang lain benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini. mereka sangat tahu betapa sensitifnya pembahasan mingyu dan kisah lamanya ini untuk jeonghan. oleh karena itu, mereka memutuskan untuk tidak membuka suara sama sekali.demi kedamaian nusa dan bangsa.

“gak tau, sih, nu. kamu buru-buru mau pulangnya? udah disuruh papa?” tentu saja si paling tahu tentang segalanya, kim mingyu.

“nggak disuruh pulang, kok. tapi udah pada mau pulang juga, sih. jadi mau ikut aja, gyu.” wonwoo sejujurnya sangat canggung berada di sekitar teman-teman mingyu. ia tidak kenal dekat dengan mereka semua, apalagi dengan dua wajah baru disana.

“yaudah—”

jeonghan seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, “mingyu, aku mau pulang, sekarang.”

semua tentu terkejut. tak terkecuali jisoo yang masih dengan khidmat menikmati indomie kornetnya.

“hm?” mingyu pun dibuat terkejut dengan perkataan jeonghan barusan.

“aku mau pulang... sekarang, mingyu.” jeonghan menekankan kata-katanya seakan memaksa mingyu untuk segera pergi dari sini dan mengantarnya pulang.

“nu, tungguin aja jaehyunnya dulu, deh.” tentu saja mingyu tidak akan membiarkan wonwoo berdiam diri tanpa jawaban.

“mingyu…” sementara jeonghan sudah sangat tidak tahan dengan apa yang ia saksikan ini.

wonwoo disana masih butuh kepastian tentang jaehyun yang tiba-tiba pergi meninggalkannya, “tapi lama gak, gyu?”

“gak tau, nu.” baru kali ini mingyu dibuat bingung dalam satu waktu.

jeonghan pun sudah berdiri dari duduknya dan perlahan berlalu meninggalkan semua orang disana tanpa berpamitan sepatah kata pun.

“udah dianterin dulu si jeonghan.” soonyoung lagi-lagi menengahi.

“nu, tunggu disini aja, ya? aku duluan. nanti jaehyun balik lagi, pasti.” mingyu meyakinkan wonwoo kalau jaehyun akan kembali cepat atau lambat.

setelah itu, secepat mungkin mingyu mengejar jeonghan yang sudah berdiri disamping mobilnya dan benar-benar sudah kehabisan akal sehatnya kali ini.

“yang, kamu apaan, sih. tiba-tiba minta pulang. aku baru juga sampe.” ucap mingyu sesaat berhasil mengejar jeonghan.

“aku ngantuk, mingyu. mau istirahat.” jawab jeonghan yang tentu saja bukan alasan sesungguhnya.

“ya kamu kalo emang capek, mah, gak usah kesini. istirahat aja dari tadi di apart, han.”

“kamu gak mau aku ada disini?”

“bukan gitu. siapa sih yang bilang gitu, han.”

“kamu marah-marah terus, mingyu. padahal aku disini cuma mau istirahat abis nugas tadi.”

“bilang makanya. aku kan ngajak kamu keluar tadi, tapi kamunya gak mau. giliran diajak jisoo kamu langsung mau. kenapa sih, han? aku ada salah apa gimana? ngomong aja!”

“kok dibahas lagi? aku kan udah bilang. aku baru selesai nugas, aku gak mau ganggu acara keluarga kamu!”

“gak pernah aku merasa terganggu, han, sama kamu. asal kamu tau, ya.”

“yaudah, aku mau pulang sekarang...”

teman-teman mingyu tentu bisa tahu apa yang terjadi di parkiran kini. beberapa mata tertuju pada kedua kekasih ini. memang tidak terlalu bisa terdengar perdebatan mereka, tapi semua orang pun tahu kalau mereka sedang tidak baik-baik saja.

ada soonyoung yang tiba-tiba menghampiri dan memaksa mereka untuk segera masuk kedalam mobil, “dah, pulang buruan. udah malem. berantemnya nanti lagi.”

mereka akhirnya berhasil digiring masuk kedalam mobil mingyu oleh soonyoung. menyudahi pertunjukan drama gratis untuk para pengunjung warbir di malam minggu kelabu ini.

***

terasa sangat dingin perjalanan pulang mereka, entah karena pengaturan pendingin udara di mobil mingyu atau memang karena tidak adanya percakapan diantara keduanya yang bisa menghangatkan.

isi kepala mingyu dipenuhi dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada kekasihnya itu. semakin hari, semakin membuatnya hampir gila. kesabarannya juga sudah hampir habis. beberapa kali ia menumpahkan amarahnya malam ini, meskipun selalu disudahi teman-temannya, terutama soonyoung.

sementara jeonghan disana masih diam seribu kata, pun kalau akhirnya berucap belum tentu apa yang ia katakan adalah yang sesungguhnya ia ingin katakan pada mingyu. jeonghan masih belum mengerti apa mau dirinya sendiri dan tidak menyadari kalau dirinya akhir-akhir ini selalu melakukan segala hal semaunya. membuat mingyu tidak mengerti ada apa diantara mereka. yang jeonghan tahu adalah, semuanya baik-baik saja, sampai malam ini.

sesampainya di apartemen tempat jeonghan tinggal, mingyu berhenti tepat di depan lobby. jeonghan terdiam sesaat. hampir lupa apa yang terjadi beberapa saat lalu.

artinya, malam ini sendiri tanpa mingyu lagi.

“kenapa, sih, han?” mingyu berusaha sekali lagi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka akhir-akhir ini.

“kenapa apa lagi, sih, mingyu?”

“kamu tiba-tiba minta pulang pas ada wonwoo. kenapa? cemburu? bilang aja, han.”

“kamu pasti mau nawarin wonwoo untuk kamu anter pulang, kan, mingyu?”

“apaan, sih, han. ya enggak, lah… ada kamu di sana, mana mungkin aku ninggalin kamu. gila kali aku!”

“kalau aku gak ada?”

“han, bisa jangan kaya gini, gak? kenapa, sih?! pikiran kamu tuh jelek banget!”

“aku capek, mingyu.”

“ya aku juga, han. capek kamu kaya gini terus. aku gak ngerti!”

“terus aku harus apa?”

“ngomong aja. kasih tau aku, kamu kenapa?”

“ngomong apa lagi? aku udah bilang aku capek, mau istirahat, mingyu. susah ya buat kamu ngerti?”

“yaudah terserah kamu aja, han.”

***

sekarang giliran si dua sejoli ini yang menghabiskan waktu bersama.

sesampai nya di apartemen milik jeonghan, keduanya merebahkan badan mereka asal di sofa berwarna putih di ruang tamu. mingyu lalu membalas pesan dari seokmin yang menanyakan si gebetan, yang ternyata kini juga sedang berbalas pesan dengan jeonghan.

“jisoo besok minta temenin beli puyo. kamu sih tadi gak mau nungguin,” ujar jeonghan setelah meyakinkan jisoo kalau dirinya akan menemani nya besok.

“takutnya kemaleman, yang. tadi juga kita udah tanya ke booth di sebelah nya, mbak nya gak tau juga yang jaga puyo nya kemana.”

“yaudah, besok temenin lagi, ya?”

“kamu lah. kan jisoo ngajaknya kamu.”

jeonghan mendengus mendengar jawaban mingyu dan berlalu untuk membersihkan diri setelah bepergian tadi.

***

ini bukan satu atau dua kali sudah mingyu mengunjungi apartemen jeonghan. bahkan mingyu sudah mulai sering untuk menginap. bukan tanpa alasan, melainkan karena waktu yang ia punya untuk bersama jeonghan tanpa ‘bayi-bayi’ nya hanya di tengah malam, setelah semua gangguan benar-benar berhenti, setidaknya untuk sejenak.

malam ini pun mingyu tidak berencana pulang ke kosan nya. atau mungkin kata ‘pulang’ disini sudah berpindah tujuan semenjak ia bersama jeonghan. ‘pulang’ nya kini adalah ke apartemen jeonghan, atau jeonghan nya itu sendiri.

semerbak aroma buah-buahan seketika menyeruak seraya jeonghan keluar dari kamar nya. sudah rapi, bersih, dan wangi. tandanya jeonghan sudah siap sekali untuk pergi tidur.

atau mungkin siap untuk semangkok indomie di tengah malam.

“mingyu, kamu mau indomie gak?” tanya nya yang membuyarkan fokus mingyu dari ponsel nya.

“belum kenyang apa gimana sih, yang? udah malem.” jawab mingyu ketus.

“mau apa enggak?” tanya nya lagi.

mingyu lantas bangun dari posisi rebahan nya, “aku mau mandi dulu, ah”

“jawab dulu, mau atau enggak?” jeonghan masih berdiri disisi sofa menunggu mingyu untuk menjawabnya.

mingyu tentu tidak punya pilihan selain meng-’iya’ kan pacar nya itu. tentu bukan karena dirinya juga ingin menyantap indomie di dini hari ini, tapi karena mingyu sangat paham kalau jeonghan hanya perlu ditemani. mingyu tahu kalau jeonghan tidak nyaman kalau hanya makan sendirian, sementara orang lain hanya menyaksikan nya makan. “yaudah mau, indomie goreng, dah, satu.”

senyum kemenangan merekah diwajah jeonghan, dan dengan sigap jeonghan mengeluarkan apa yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tangan nya, “nih,”

“emang ngasih kerjaan aja lu, yang, malem-malem. ampun dah.”

jeonghan memberikan mingyu 2 bungkus indomie, maksudnya adalah supaya mingyu yang membuatkan nya, “hehehe, thank you.. nanti habis makan baru mandi, biar sekalian sikat gigi.”

“au ah.”

***

tidak perlu waktu lama untuk mingyu menyelesaikan misi nya membuatkan jeonghan indomie di tengah malam.

menit-menit selanjutnya pun berjalan dengan khidmat sambil mereka menikmati ‘cemilan’ tengah malam nya di meja ruang tamu. duduk bersebelahan dengan alas karpet bulu-bulu pilihan mama santi waktu itu.

tiba-tiba panggila video call masuk dari kontak bertuliskan ‘Bunda’ di ponsel jeonghan. hanya perlu sekian detik untuk jeonghan mengangkat panggilan tersebut.

“kakak….” sapa bunda cantik di seberang sana sambil melambaikan tangan nya ber-dadah ria menyapa anak satu-satunya itu.

“kok bunda belum tidur? disana udah malam, kan?” tanya jeonghan yang terheran Bunda nya masih terlihat sangat bersemangat ditengah malam seperti ini.

belum sempat Bunda nya menjawab, nampaknya ada tamu yang juga ingin menyapa. “bundaa…”

“eh, haloo, kakak lagi sama teman, ya? bunda masih tungguin ayah selesai kerja, kak.” jawab bunda yang diseberang sana sedang berjalan-jalan di sekeliling rumah. yang tentu saja jeonghan masih ingat setiap sudutnya.

“pacar, bun.” yang menjawab malah si tamu.

“loh, kakak punya pacar di Bandung? bunda dikenalin, dong”

“iya, ini mingyu,” jawab jeonghan seadanya.

“yang bener, yang.” mingyu mengambil alih video call nya, “bunda, ini mingyu pacarnya jeonghan, anak bunda satu-satunya. satu kampus, bun. nanti kapan-kapan mingyu ke lombok kenalan langsung sama bunda. ini belum diajak aja, sih, bun. suruh pulang, bun.”

jeonghan berbisik, “sok asik banget, sih.”

“emang gua asik, yang.” jawab mingyu.

bunda hanya terkekeh melihat keduanya, “iya, mingyu, salam kenal ya. tolong dijaga ya anak bunda. memang anaknya cuek banget, ini kalau bunda gak video call duluan gak akan kasih kabar. bunda kangen, nih, padahal.”

“dengerin, yang.”

“iya denger.” jeonghan kembali mengambil alih, “kakak lagi sibuk, bunda. i’m sorry.”

“sibuk apa, sih? dikasih tau dong bunda nya”

lagi-lagi mingyu menyahut lebih dulu, “sibuk ngurusin bayi, bun. si jisoo tuh, bunda kenal gak?”

“oohh, jisoo. pernah kakak kenalin kan, kak?” bunda malah menanggapi serius.

“nggak, bukan sibuk itu, bun. urusan kuliah aja, sama paling organisasi.” sambil menyantap indomie nya jeonghan memberi penjelasan, yang sebetulnya sangat singkat itu.

“ooh gitu. kakak, makan apa? mie lagi ya? mingyu dibilangin dong, jangan makan indomie terus...” bunda mengadu.

“iya emang, nih, bun. masa malem-malem diajakin makan indomie, kalau gak diturutin nanti bete dia, bun.” nampak sudah akrab sekali sepertinya kim mingyu dengan bunda.

“kak, jangan begitu, dong... makan yang sehat ya, kak? bunda kan jauh, gak bisa pantau kakak terus. tolong ya kak..” meskipun sangat khawatir, bunda masih bisa menyampaikan maksudnya dengan sangat lembut dan penuh rasa sayang.

“iya, bunda...” jawab jeonghan yang sedikit kecewa tetapi jauh didalam hati nya, ia mengerti sekali maksud dan rasa khawatir bunda nya yang jauh di kampung halaman.

“jangan iya-iya doang, yang.”

“yaudah, iya. gak makan mie lagi besok.”

“ini abis ini mingyu gak diajak ngomong nih, bun. bete dia.”

bunda tentu paham betul dengan tabiat anak nya itu, “gak apa, mingyu sayang-sayang aja... nanti juga luluh. kakak kalau marah gak lama, kan? cuma sering aja. hehehe..”

mingyu merasa menemukan teman satu timnya kali ini, “bener, bun. iya dah, nanti di sayang-sayang, dah..” sambil mengelus lembut kepala jeonghan yang sedang asik dengan indomie nya. “bunda, nanti kalau mau tanyain han, ke mingyu aja. mingyu jawab lengkap setiap jam han ngapain aja.”

“oke, deh, mingyu... ini sebentar lagi ayah udah mau selesai, bunda tutup ya, kak?” tanya bunda sebelum mengakhiri panggilan video call nya.

“iya, nanti kakak telepon lagi. kalau gak ada mingyu.”

“dih, gitu. udah ngambek, nih, bun.” kali ini mingyu yang mengadu.

“hahaha, iya, bunda tungguin telepon nya kakak. jangan dimarahin, kak, mingyu nya...”

“enggak.. yaudah, bun, kakak salam buat ayah.”

“okay, good night, kakak dan mingyu. i miss you, kak..”

“miss you too, bunda.”

“good night, bunda. mingyu salam ya buat ayah..”

***

siapa yang sangka kalau seorang yoon jeonghan, yang sebelumnya tidak pernah menyangka, kalau hari-hari nya kini akan banyak ‘diganggu’ oleh seseorang bernama kim mingyu. dan dengan kesadaran penuh, jeonghan justru menyukai kehadiran mingyu. meskipun ia tidak mengatakan atau menunjukkan nya secara terang-terangan.

entah sejak kapan juga, rasanya akan sangat sepi tanpa mingyu yang mengisi sisi kosong di tempat tidur yang cukup besar apabila ditiduri seorang diri, di apartemen milik jeonghan itu. beruntungnya, tidak perlu diminta pun mingyu akan sangat dengan senang hati menghabiskan malam nya bersama jeonghan. membiarkan kamar kos nya hampir lupa, apakah mingyu penghuni tetap nya, atau tamu yang memang sering berkunjung sesekali.

“yang, dengerin tadi bunda ngomong.” mingyu membuka percakapan sebelum tidur mereka.

“iya.. kamu udah ngomong berapa kali, sih.” jawab jeonghan sedikit kesal.

“bete, kan?”

“nggak.”

“bete, tinggal bilang aja juga.” mingyu menggoda jeonghan yang sekarang membelakangi nya.

“kamu ngomong sekali lagi aku bete beneran.”

kalau hanya ada mereka berdua, biasanya mingyu seperti menjelma menjadi manusia lain, “yaudah kalau gak bete. tapi didengerin, yang, tadi tuh bunda khawatir. kabarin aja gitu, yang. biar gak penting juga bunda pasti seneng. bilang aja 'mingyu hari ini ganteng banget, bun.' atau apaan gitu.”

jeonghan dibalik badan nya selain menyimak, sesekali ia mengernyitkan dahi nya. memang mingyu nya itu mau serius seperti apapun, akan tetap ada guyonan yang terselip disetiap ucapan nya.

“tadi juga, tuh. bunda bilang apa coba? katanya bunda jauh, gak bisa pantau kamu makan nya apaan aja setiap hari. mana kamu nya juga gak bakal bilang, kan, makan apa aja hari ini.. makanya jangan sering-sering makan indomie, makan seblak. bukan ngelarang, tapi nanti sakit kan kasian bunda juga.” masih terus berlanjut mengoceh nya.

kalau sudah seperti ini, biasanya tidak akan berhenti sampai semua keluhan nya tersampaikan. jeonghan bisa apa selain menjadi pendengar yang baik.

“ini mulai sekarang aku beliin, dah. sarapan, makan siang, makan malam. biar nanti laporan ke bunda, ini anak nya udah makan makanan empat sehat mingyu sempurna. ciaaa..”

dan kali ini jeonghan berbalik badan, “mingyu..”

mingyu berpaling untuk menjawab kekasihnya.

tetapi lebih dulu mendarat sebuah kecupan singkat di bibir mingyu.

“tidur.” ucap si pelaku yang kini mengubah posisi tidur nya dengan menenggelamkan dirinya di badan besar si pacar.

“yaaah, kalau mau ciuman mah bilang, yang. ayok, ulang lagi.”

jeonghan hanya menggeleng dan malah semakin menyembunyikan diri di pelukan mingyu nya.

“gimana, dah. gak bertanggung jawab ini.”

“tidur, mingyu. udah pagi.”

“ciuman dulu, dah. gimana?”

nope.

tidak mau memaksa, mingyu memilih untuk membalas pelukan lalu mengecup pucuk kepala si sayang nya itu, “yaudah tidur, dah. yang tadi di dengerin, tuh.”

jeonghan mengangguk.

i love you..

masih dibalas dengan mengangguk.

“aduh, patah hati banget gua, dah. masa gak dijawab i love you nya. udah gak sayang ini, mah.” mingyu melepas pelukan nya.

jeonghan nya malah seperti bayi yang tidak mau lepas dari ibu nya. merengek karena peluknya dilepas.

“gak, gak mau gua dipeluk. jawab dulu itu i love you nya.”

si gengsi ini berucap i love you secara langsung mungkin hanya satu kali dalam satu purnama. i love you nya selalu dalam bentuk lain. tetapi mingyu terlalu frustasi untuk mendengar tiga kata itu. sudah lama sekali dirinya tidak dibikin salah tingkah dengan kata-kata manis dari mulut jeonghan. bila diingat terakhir kali nya adalah sehari setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

dan kali ini pun sepertinya belum saatnya. jeonghan malah membalas nya dengan satu kecupan lagi. kali ini dipipi kiri mingyu.

“au amat, dah. bisa kaga tidur nungguin i love you doang.” lalu dipeluk lagi jeonghan nya dan berbagi kehangatan.

gapapa mingyu, besok coba lagi ya...

bohong apabila seokmin bilang kalau dirinya baik-baik saja saat ini, sementara degup jantungnya lebih kencang dari suara di sekitarnya dan kaki nya yang sudah lemas sekali seperti jelly seraya ia semakin dekat untuk menghampiri mingyu, jeonghan, dan jisoo yang sudah lebih dulu sampai di bioskop itu.

tidak, seokmin sama sekali tidak menyesali keputusan nya untuk meng-iya kan ajakan mingyu untuk menemani nya hari ini. hanya saja, dia sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa untuk bertemu jisoo. bisa dilihat dari penampilan nya yang sama seperti sehari-hari nya, hoodie dan celana jeans. kalau tahu akan ada si gebetan, mungkin setidaknya kemeja atau menambah sedikit wewangian akan lebih baik, pikirnya.

“lama banget, dari Hongkong apa gimana, dah.” mingyu yang sudah menggerutu sedari tadi karena kedua teman nya ini, atau ralat, satu teman nya itu selalu juara satu untuk berlama-lama.

“biasa,” soonyoung menambahi.

“emang kebiasaan lu, panjul.” mingyu lalu memastikan tiket yang dibeli nya benar, “gua scan tiket dulu.” setelah itu, bersama jeonghan ia pergi menuju mesin scan yang berada dekat dengan tempat membeli tiket secara langsung.

lalu tersisa jisoo, soonyoung, dan seokmin disini. awalnya agak khawatir akan sedikit awkward, mengingat ketiga nya belum berkenalan secara resmi ketika terakhir kali mereka bertemu di kantin beberapa hari lalu. tetapi kata ‘awkward’ sepertinya tidak berlaku di kamus jisoo dan soonyoung, si manusia dengan segala ke-supel-an nya.

“beli popcorn mau, gak?” tanya jisoo kepada seokmin yang sedang mematung bingung dan soonyoung yang masih tetap terlihat santai, tentu saja.

“hayuk, dah” soonyoung lantas bergegas menuju ke bagian concessions. seokmin dan jisoo menyusul.

bukan jisoo namanya kalau tidak ngemil. dimana pun dan kapan pun.

popcorn mix large nya, mas, kalian apa?” tanya jisoo yang sudah mantap dengan pesanan nya itu.

sementara soonyoung dan seokmin malah bertukar pandang bertanya-tanya, apa bisa dia habiskan sebanyak itu sendiri.

cola aja, jisoo.”

“sama.”

“gak mau popcorn juga?” tanya jisoo.

“nggak, jisoo. buat jeonghan aja dipesan satu lagi popcorn nya,” jawab seokmin dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sebelum melebur bersama kupu-kupu yang ada di perutnya kini.

nope, dia gak makan kalau nonton. mingyu gimana?”

“ya?” fokus, dong, seokmin.

“nanti aja si mingyu, dia biar pesan sendiri aja sama jeonghan. udah itu aja dulu, a’. sok atuh dibayar, seok.” terima kasih “bantuan” nya soonyoung.

membuat seokmin sedikit tersedak, tiba-tiba disuruh bayar, “udah? ada lagi?”

“mau air mineral, satu ya, mas.” jawab jisoo.

“oke, yaudah, a’. itu aja.” sebagai laki-laki yang baik, tentu saja dibayar oleh seokmin. meskipun sehabis ini mungkin akan ada adu gulat antara seokmin dan soonyoung.

tetapi tidak apa, yang penting sekarang bisa dilihat kalau jisoo sangat bahagia dengan popcorn sebanyak itu, bahkan belum masuk studio pun sudah dikunyah satu-persatu popcorn nya itu.

tidak lama, mingyu dan jeonghan kembali dengan tiket yang sudah ditangan.

“ini misah ya, gua sama jeonghan di row C. lu bertiga di F.” ucap mingyu dan membagi tiket nya rata.

“kamu sengaja, ya?” tanya jeonghan, yang tentu saja baru tahu kalau tempat duduk mereka berbeda row.

“kaga, yang. ya Allah. ini kamu mau liat sepenuh apa? kemarin pas aku pesan juga udah penuh.” sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan bagi mingyu. setidak nya bisa berduaan selama film berlangsung. kurang lebih 2 jam, akan sangat berarti buat mingyu.

jeonghan mau tidak mau menuruti saja yang mingyu arahkan, meskipun tentu saja, tidak bisa dibohongi juga kalau ada sedikit perasaan khawatir karena terpisah dari jisoo nya.

“baik-baik lu, bocil. jangan nyusahin temen-temen gua.” mingyu mewanti-wanti.

“apaan, deh. nyebelin.” jisoo berlalu menuju studio yang sudah tertera di tiketnya. disusul oleh yang lain sambil tertawa.

seokmin yang masih belum bisa memproses apa yang terjadi, menarik mingyu untuk sedikit berbincang, “ming, anjir. gak bilang ada jisoo.”

“gua gak bilang aja lu lelet. apalagi gua bilang. lu ke Arab dulu kali, beli minyak wangi.” jawab mingyu yang kesal sekali karena harus dibuat menunggu, lagi.

“ya briefing, atuh, seenggaknya. urang gak siap gini,”

“ga siap apaan, sih. dah, lu mah tinggal duduk aja sebelahan. bilang apa sama gua?”

“iya makasih, tapi besok-besok ngobrol atuh lah ya. anjir, grogi gini urang.”

“iya, dah. apa kata lu aja biar cepet.

***

setelah memasuki studio dan menuju row nya masing-masing, seokmin terpaku sejenak melihat kursi yang tersisa adalah yang disebelah jisoo. seokmin lantas berbisik kepada soonyoung, “soon, geser atuh,”

tetapi justru jisoo yang bereaksi lebih cepat, menunjuk tempat kosong di sebelah nya “disini aja, seok.”

“udah situ, duduk yang bener. jangan macem-macem, Allah maha melihat.” ledek soonyoung.

“anying, sia. siapa juga yang mau macem-macem.” dan duduklah seokmin kini disebelah jisoo.

“eh aku bener kan, ya?” tanya jisoo sedetik setelah seokmin terduduk tenang, tetapi tidak dengan kupu-kupu dan segala reaksi yang terjadi di sekujur tubuh nya kini.

“hm?”

“nama kamu, seokmin, kan? aku tadi tanya soonyoung.”

yang disebut nama nya sedikit menengok, “iya, jisoo. udah jangan diajak ngomong dulu. takut kesurupan. dimakan aja popcorn nya.”

“eyy, sialan juga kamu, soon” seokmin dalam hati.

“loh, kenapa kesurupan? disini ada hantu nya atau gimana?”

“engga, jisoo. bercanda itu soonyoung nya. iya bener kok, jisoo.” sebuah pencapaian bagi seokmin bisa menjawab jisoo dengan lancar.

“oh, kirain. yang kemarin minta nomer aku, iya kan?” demi Tuhan, jisoo.

soonyoung di pinggir sana sedang berusaha menahan tawa nya agar tidak pecah dan meminta maaf berulang kali didalam hati karena tidak bisa membantu kali ini, berharap seokmin bisa mendengar nya.

dan siapa pun tahu betapa dingin nya studio di dalam bioskop itu, bahkan setebal apapun pakaian yang dikenakan, tetap akan terasa dingin nya. tetapi panas di pipi seokmin agak nya bisa menghangat seluruh ruangan kali ini. “iya, jisoo. nuhun, yah.”

apa? terimakasih untuk apa? kenapa terimakasih?

“okay.” yang diajak bicara sekarang malah sibuk dengan popcorn nya. dia sendiri mungkin tidak mengerti ‘terimakasih’ apa yang dimaksud seokmin.

namun, seokmin justru bersyukur karena tidak perlu lagi memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan jisoo.

***

selama film berlangsung, tidak ada perbincangan baik diantara yang lagi kasmaran, soonyoung, maupun diantara pasangan baru yang sekarang sedang asik nya saling bersandar.

bagi jeonghan, setiap kali menonton bioskop adalah kesempatan baginya untuk bisa tenggelam di dalam pelukan mingyu tanpa harus memberikan alasan-alasan yang ia sendiri bingung bagaimana menyampaikan nya, alias gengsi, karena mingyu pun tahu kalau jeonghan tidak terlalu tahan terhadap dingin nya AC di bioskop. mingyu tentu saja menyambut baik, dan menikmati setiap momen nya.

selagi menikmati film yang sudah hampir sampai pada klimaks nya, mingyu tidak sengaja menengok ke tempat dimana teman-teman nya duduk. tampak jelas sekali kalau ada kepala yang bersandar.

“bisa aja si bambang. kesempatan banget lu yeeee.” mingyu bergumam. dan memastikan kalau jeonghan tidak melihat adegan yang memang tidak seharusnya dilihat. bisa-bisa diacak-acak ini satu studio kalau sampai tahu.

***

“kamu makan gak tadi pagi? siang?” tanya mingyu pada jeonghan.

“ya makan. masa gak makan.” jawab jeonghan seperti biasa, khas sekali.

“makan apaan? jangan indomie terus, yang.”

jeonghan nya hanya tersenyum, ketahuan deh.

“yang,”

“iyaaa. it will be the last time, for this week. i don’t know about next week. though.”

“aku beneran bilang mamah ya biar jadi langganan katering kamu setiap hari,”

“ah, kan, kamu selalu gitu, mingyu. aku kan udah bilang, jangan ngerepotin mama kamu, ya?”

“iya aku nawarin kamu repotin, tapi kamu nya gitu, yang.”

“iya iya, gak lagi. tapi jangan bilang mama kamu, oke? i will take care of myself.”

agak nya, saat ini abang nasi goreng yang menjadi destinasi mereka selanjutnya pun terkejut. karena sambutan oleh pembeli nya kali ini adalah sebuah keributan rumah tangga.

“han, ini sehari-hari makan dipinggir jalan gini?” tanya soonyoung.

jeonghan mengangguk. karena mau bagaimanapun juga, makanan pinggir jalan akan selalu jadi pilihan terbaik untuk makan malam, dibanding makan di resto yang air mineral saja tidak manusiawi harga nya.

“sekali-kali atuh lah minta yang mahal. si iming mah duit nya gak abis-abis gak usah khawatir, han.” seokmin juga turut serta dalam sesi meledek kedua pasangan itu kali ini.

“ih, kenapa? kan enak tau makanan di pinggir jalan.” jisoo menyahut.

“apaan, dah, lu bocil. yang diajak ngomong siapa. nyaut aja lu, kebiasaan.” mingyu kembali lagi dalam misi nya untuk menjadi menyebalkan setiap kali dihadapkan dengan sahabat karib kekasihnya itu.

“elo yang apaan, ming. orang kamu kan ngomong sama semua nya, kan?” tanya jisoo pada seokmin.

kamu katanya. baru sadar. padahal sudah sedari tadi.

“iya, jisoo.” lemah sekali kamu seokmin. cuma bisa menjawab iya, jisoo.

mingyu bisa apa kalau sudah seperti ini. mau membalas ledekan lagi, yang ada malah dirinya yang kena marah jeonghan nantinya.

sampai lupa memesan karena terlalu asik saling meledek.

“a’, mau pesen apa?” tanya si mamang penjual nasi goreng.

“nasi goreng aja, mang. semua, ini lima disamain. pedes nya sedeng aja.” jawab mingyu.

“ih, gue kan gakmau pedes.” jisoo protes.

“iya lupa. ini punya anak kecil yang satu jangan pedes, mang. nangis nanti kalo makan pedes, mami nya jauh lagi di semarang.”

“mingyu…”

“iya, bercanda, yang.”

jisoo merasa menang kali ini. dan tidak lama handphonenya berdering, tanda panggilan masuk dari kontak nya yang diberi nama ‘mami’ lengkap dengan sebuah tanda cinta nya. dengan sigap jisoo bangun dari duduk nya dan mencari tempat yang sedikit tentram untuk mengangkat teleponnya itu.

“minum nya, a’?” tanya mamang penjual nasi goreng lagi.

“es teh aja, mang.”

“lima?”

“nggak, empat aja.”

“satu lagi kenapa?” tanya seokmin.

“anak kecil kaga boleh minum es. air putih dia minum nya. batuk kalo minum es.” jelas mingyu.

”oh, tentu saja.” batin seokmin sambil mengingat pesanan jisoo di bioskop tadi.

lalu seokmin dan soonyoung hanya terkekeh karena mingyu yang sepertinya tidak akan pernah berhenti mengejek jisoo.

“warung dulu, lah. mau beli rokok.” seokmin lantas pergi menuju warung di seberang tempat dimana mereka akan menyantap makan malam kali itu.

beberapa lama kemudian, jisoo kembali setelah perbincangan dengan mami nya selesai. berbarengan dengan seokmin yang juga tidak butuh waktu lama untuk kembali dengan sebungkus rokok nya, dan satu botol air mineral untuk jisoo.

“jisoo,” seokmin lalu menyodorkan air mineral yang baru dibeli nya kepada jisoo.

“loh, kok tau? thank you, ya.” ucapnya sambil berusaha membuka tutup botol air mineral nya, yang sampai sekian detik selanjutnya tidak juga terbuka.

seokmin being the gentleman as he is, lalu membantu jisoo dengan air mineral nya.

di seberang nya, yoon jeonghan masih terus menyaksikan dengan khidmat gerak-gerik seokmin, lalu menyimpulkan sendiri apa yang dia dapatkan dari penglihatan nya.

dan nasi goreng pun datang bersamaan dengan es teh pesanan mereka.

jisoo yang sudah mendapatkan satu piring nasi goreng nya lalu menyodor nya kepada mingyu dan jeonghan.

seokmin dan soonyoung saling bertukar pandang, bertanya-tanya, ada apa?

“anak kecil makan nya sedikit. kaga bakalan abis dia makan sepiring sendiri. popcorn nya aja masih ada di mobil.” mingyu lagi-lagi menjelaskan. sudah seperti orang tua jisoo yang sesungguhnya.

jisoo nya hanya tersenyum sambil menunggu mingyu mengambil bagian nya dari piring jisoo.

tetapi lagi-lagi seokmin sepertinya ingin menjadi pahlawan, “dimakan dulu aja, jisoo. nanti kalau gak abis di oper kesini.”

“oh, gak apa emang nya? mingyu gak mau, tuh. katanya makan makanan sisa. emang gaya banget orang nya.”

“gapapa, jisoo makan dulu aja. keburu dingin nasi nya.” selamat karena sudah jadi pemberani, lee seokmin.

disebelahnya, soonyoung mengelus pelan punggung seokmin, lalu berbisik “semangat terus, kawan.”

dibalas dengan anggukan pelan dari seokmin. tanda ia akan melankasanakan apa yang dikatakan soonyoung barusan.

mingyu dan jeonghan hanya mendengus. sudah paham sekali atas apa yang terjadi di hadapan nya kini.

tidak ada yang bisa mengalahkan orang jatuh cinta. bahkan yoon jeonghan sekalipun.

-

“tumben temen kamu gak ada,” seperti biasa, tentu saja mingyu saat ini sedang makan siang bersama dengan jeonghan, dan di fakultas jeonghan.

“nanti kesini, belum selesai kelas dia.” jelas jeonghan.

benar saja, belum ada 5 menit dari pembicaraan jeonghan dan mingyu barusan, jisoo sudah menampakan diri. terlihat sangat penat padahal hanya baru menghadiri satu kelas.

“makan dulu,” ucap jeonghan sesaat jisoo mengambil kursi untuk duduk tepat di depan jeonghan.

mingyu yang duduk di samping jeonghan mulai merasa bahwa kehadiran dirinya sudah tidak diperlukan lagi. seperti biasa.

“iya nanti dulu, capek banget baru selesai kelas.” jisoo masih berusaha mengatur napas dan mengusir penatnya.

“bosen banget gua liat lo mulu.” sepertinya mingyu akan merasa ada yang kurang kalau setiap hari tidak meledek jisoo.

“tadi kamu nyariin.” ucap jeonghan akan selalu ada di tim jisoo.

“kangen kan lo sebenernya?” ledek jisoo seraya bangun dari duduknya untuk memesan minuman.

“mana ada. dari kemaren perasaan gua liat muka lo mulu.” ucap mingyu yang sepertinya dari dalam hati yang paling terdalam. ya tentu saja, karena setiap kali mingyu merencanakan untuk pergi bersama, akan selalu ada jisoo sebagai ‘orang ketiga’ diantara mereka. “bosen banget kayanya, dah.”

jisoo lalu kembali dengan segelas es teh manisnya, “emangnya kenapa sih? lagian lo pacaran sama temen gue. yang lain aja harusnya.”

“lo sebagai temen harusnya pengertian dong. temen lo  kan mau pacaran. ya gak, yang?”

yang ditanya masih sibuk mengunyah makanan yang sedari tadi belum juga habis.

“orang jeonghannya aja gapapa, kok, gue ikut. lo-nya aja ribet, deh.”

“jeonghan gapapa, gua apa-apa.”

sampai keduanya botak pun sepertinya tidak akan ada yang mau mengalah. seharusnya jeonghan merasa spesial sekarang, karena dua orang terdekatnya itu memperebutkan dirinya, tetapi yoon jeonghan tetap lah yoon jeonghan, dia bahkan untuk melerai saja tidak ada tenaga. agaknya jeonghan malah meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah bayi yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa.

keduanya mulai sedikit mereda setelah datang dua orang yang sangat akrab untuk mingyu. ini kali pertama mereka benar-benar singgah di fakultas lain. biasanya hanya lewat atau ada perlu yang tidak lama. kali pertama juga menginjakkan kakinya di kantin fakultas seni rupa dan desain ini. sangat berbeda sekali suasananya dengan kantin fakultas tekniknya mereka. tidak perlu dijelaskan dengan detail, sepertinya bisa ditebak mana yang lebih baik.

“oy, ming.” soonyoung yang langsung mengambil tempat duduk didepan mingyu. disamping jisoo.

“ngapa pada kesini, sih. katanya mau rapat.” mingyu sedikit terkejut dengan kehadiran dua kawannya itu.

“jangan geer, kita mah mau kenalan sama jeonghan, bukan mau nyamperin kamu.” seokmin menambahi.

mingyu berdecak, lalu memperkenalkan kawannya itu pada jeonghan yang sekarang sudah selesai dengan makanannya. “yang, ini yang waktu itu disebut-sebut mamah. seokmin.” menunjuk seokmin dengan botol air mineralnya, lalu ke soonyoung,  “kalau ini soonyoung. sekamar nih berdua di kosan.”

jeonghan hanya melempar senyum. terlalu kenyang untuk menyapa.

“tenang aja, han. aman sama kita, mah. diliatin biar gak macem-macem.” ucap soonyoung yang sudah merasa akrab, padahal belum ada sekian menit berkenalan.

“iya, apalagi sama si anu itu, tenang weh lah. nanti dijewer kalo masih ketemuan.” seokmin tidak mau kalah.

mingyu sudah bersiap-siap untuk melayangkan botol kosong yang sedari tadi dipegangnya, tetapi lebih dulu ditepis jeonghan. “jangan aneh-aneh, banyak orang.”

“kaga, yang. udah gak pernah ketemu. aku di jaehyun sama mereka-mereka doang.” panik sih ada,  ya ming?

“iya iya. lagian gak ada yang nanya juga kamu masih sering ketemu apa enggak, kenapa panik, sih?”

“gak panik, yang. ngejelasin doang.”

“bisa aja dah, ngelesnya” soonyoung meledek.

dibalik keributan mereka, disisi lain ada jisoo yang asik sendiri mengecek jadwal selanjutnya di ponsel pintarnya sambil menyantap silky pudding favoritnya. kali ini yang dimakan adalah rasa cookies and cream. benar saja yang jeonghan bilang, sepertinya jisoo membekali dirinya dengan puding itu dari rumah, dan tiba-tiba saja sudah habis setengah cup.

ada juga yang meskipun sedang terlibat didalam keributan tersebut masih sempat mencuri-curi pandang ke sosok yang terhalang soonyoung dari tempatnya.

baru kali ini ada orang makan puding aja cakep banget. batin seokmin.

dari tempatnya bisa terlihat hidung bangirnya yang sempurna, senyum manis yang membentuk garis tipis di ujung bibirnya, rambutnya yang ditata rapi. bagaimana bisa memalingkan pandangannya.. bahkan untuk sedetik pun seokmin tidak mau terlewat.

masih terus asik memandangi si dia itu, sampai sudah tidak lagi menyimak apa yang sedang dibicarakan soonyoung, mingyu dan jeonghan. fokusnya habis ditelan hong jisoo, yang kemudian bangun dari duduknya.

oh pudingnya sudah habis.

“bareng, han.” ucap jisoo sambil membawa kembali gelas es tehnya untuk dikembalikan ke penjualnya, membawa juga sampah cup pudingnya yang sudah bersih. sendok kecilnya dibiarkan menggantung di mulutnya.

luar biasa ciptaanMu...

“aku kelas dulu.” jeonghan berpamitan lalu menyusul jisoo pergi.

seokmin masih belum kembali dari lamunannya, pandangannya masih mengikuti kemana jisoo pergi, sampai benar-benar tidak bisa ditangkap indera penglihatnya lagi.

“ngelamun aja, HEY!” soonyoung membuyarkan lamunan seokmin.

“yaudah lah ayok ke sekre. udah rame ini di grup.” mingyu bersiap.

seokmin yang masih setengah sadar bertanya, “ming, itu tadi temennya jeonghan bukan?”

“bukan. anak sd nyasar. au kenapa ada disini.”

“gimana?”

“hayuk dah jalan buruan ini udah ditanyain.”

ya sudahlah. setidaknya tidak ada penyesalan karena sudah mengikuti instingnya untuk menghampiri mingyu di fakultas lain, siapa sangka kalau sekarang giliran seokmin yang kasmaran.

🔗https://open.spotify.com/track/7kylbMIrSPy7BkwOO01NDi?si=b7c919425a344200

Percaya gak? Kalau sekarang yang Mingyu lakukan adalah memutar lagu Piknik ‘72-nya milik Naif, on loop. Meskipun yang menggambarkan keadaannya saat ini cuma dua bait pertama aja sih..

Pergi di hari minggu… Bersama pacar baru…

Karena saat ini Mingyu dan Jeonghan sedang tidak benar-benar bersama. Bus yang mereka tumpangi berbeda, jadinya—akhirnya—hanya bisa saling mengisi ruang obrolan di WhatsApp yang seharusnya sudah bisa terisi dari beberapa waktu lalu.

Dan karena baru saja jadian, tidak heran kalau keduanya sudah persis orang yang sedang berada di dunia lain, alias sibuk sendiri, tertawa sendiri, ada bunyi notifikasi sedikit rasanya seperti menang lotre. Semua orang di dalam bus tidak dihiraukan mereka. Terserah saja mau apa, asal tidak ganggu hari pertama kami sebagai sepasang kekasih pokoknya.

Rasanya tidak perlu Naik Vespa keliling kota.. bahkan Sampai binaria sekalipun. Cukup di ‘iya’ kan tawarannya untuk makan Pop Mie bersama, Hatinya Mingyu sudah sangat gembira

Awalnya tidak sengaja karena ini hari pertama mereka, jadi pikir Mingyu, ia harus pandai-pandai mencari topik dan apapun kegiatan yang sekiranya bisa dilakukan bersama meskipun waktunya tidak banyak.

Tidak tahu idenya datang dari mana, dan mengapa harus makan Pop Mie. Biasanya, orang lain justru menyempatkan diri untuk ke toilet atau membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah ketika sampai di pemberhentian sementara

Sesampainya di sana, duduk dua-duaan, di kursi yang tersedia di salah satu warung yang menjual Pop Mie.

Meskipun tidak ada juga roti buaya dan hanya ada Pop Mie merah rasa Ayam, yang sudah pasti jadi favorit semua orang, sudah lebih dari cukup untuk mereka mengganjal perut selama perjalanan nanti.

Tanpa lagu kita—ya maklum aja soalnya baru jadian, belum punya lagu yang “mereka banget”.

Dan gak perlu juga mereka menari bersama, rasanya, begini saja sudah lebih hangat dari Pop Mie yang baru dituang air hangat oleh teteh penjualnya.

“Masih panas, pelan-pelan makannya.” Mingyu membuka kata.

Jeonghan masih sibuk meniup-niup Pop Mie-nya.

“Lucu amat, sih, pacar gua. ck.” Batin Mingyu.

Sambil menikmati, sambil was-was kalau-kalau ada yang datang mengganggu. Dalam hatinya, Mingyu berdo’a sekuat hati agar, ‘please, untuk waktu yang singkat ini, biarkan kami menikmati makan bersama ini dengan khidmat.’

Tolong dikabulkan semesta...

“Han, yang tadi di pantai.. Soal, deserve atau enggak.. gitu kan tadi bilangnya?” Mingyu menaruh Pop Mienya sejenak untuk sedikit lebih serius. Karena ini penting.

“Ehem..” Jeonghan meng-’iya’ kan, ikut memberi jeda makannya dan siap mendengarkan Mingyu baik-baik.

“Semua orang tuh berhak, tau, Han. Dikejar-kejar, di… ya pokoknya ditunjukin kalau ada yang bener-bener naksir. Soalnya, menurut aku… bukannya lebay atau apa sih, cuma mau kasih tau kamu, aku beneran suka kamu, Han. Aku, nih, begini bukan main-main. Ngerti gak maksud aku? Emang norak banget, sih, asli, aku sadar banget, kok. Tapi intinya sih gitu, Han. Apalagi orangnya kamu..”

Mingyu meminta dua botol air mineral ke teteh penjual, satunya ia buka tutupnya lebih dulu sebelum diberikan kepada Jeonghan—supaya bisa langsung diminum.

“Aku, kenapa?” Tanya Jeonghan, lalu menyambut baik air mineral yang diberikan Mingyu. Kebetulan udah seret.

“Ya… berhak, deh, pokoknya. Cara orang buat nunjukin perasaannya kan beda-beda ya, Han. Kalau ternyata baru gua.. eh aku maksudnya, yang norak gini, bukan berarti kamunya gak berhak, tapi bisa aja karena emang beda aja cara ngasih taunya, Han.”

“Hmm.. oke..” Sampai sini, Jeonghan setuju dulu.. “Mingyu, gak harus aku-kamu gapapa, senyaman kamu aja. Terus, gak usah bilang apa yang kamu lakuin itu norak lagi. maksudnya, iya mungkin untuk kamu itu norak, but it’s something that I’ve never felt before, jadi ngerasa spesial, somehow... Jadi jangan gitu lagi, Mingyu. Hargai usaha kamu sendiri ya...”

“Emang iya, Han. Spesial, pake telor dua.”

Di pemberhentian sementara itu, khususnya di warung tempat mereka makan Pop Mie, tidak ada batang pohon. Jadi gak bisa mengukir nama mereka. Tapi jangan khawatir. Tanda sayang selalunya bisa diganti dengan banyaknya cerita yang akan mereka ukir bersama mulai hari ini dan seterusnya.

Sampai waktu yang lama.

Beruntung juga, kali ini malam hari telah menjelang. Saatnya untuk pulang. Gak perlu mengalami vespa mogok di jalan. Dan gak turun pula hujan. Jadinya gak perlu berteduh di taman.

Disana juga gak ada melati yang indah nian berseri. Gak bisa dipetik buat si pacar baru untuk ia simpan dalam hati dan nanti diambil kembali.

Cuma dua bait pertama, tapi hari pertama mereka gak kalah berkesan dari Piknik di ‘72.


Sesampainya kembali di Bandung, di kampus tercinta, Mingyu sudah menunggu Jeonghan didepan pintu bis untuk menyambut si pacar baru.

“Udah?” Tanya Mingyu untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal didalam bis dan siap untuk melanjutkan perjalanan pulang bersama, lagi, setelah resmi sebagai pacar.

Jeonghan menangguk, artinya dia sudah memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Kini turut berjalan dibelakang Mingyu untuk menuju parkiran tempat dimana mobil Mingyu berada.

Beruntung Jisoo sudah dijemput supirnya, jadi Jeonghan tidak perlu mengkhawatirkan sahabatnya itu. Sebelumnya juga sudah berpamitan. Begitu juga Seokmin dan Soonyoung yang lebih paham dan sudah lebih dulu pulang masing-masing. Lega sekali karena tidak ada yang mengganggu.

“Mingyu, mau mampir dulu aja, gak? Ini udah malem banget. Bahaya kalau kamu nyetir lagi sampai kos.” Penawaran bagus, Jeonghan. “Kalau gak mau gak apa, aku nawarin aja. Tapi berantakan, kalau kamu gak keberatan, boleh nginep.”

Seluruh dunia tahu Mingyu akan jawab apa.

Iya betul, tentu saja, “Yaudah..”

Alias

“Mau banget lah anjirrrr.... Dengan senang hati gua mau, Jeonghan. Mau berantakan kek. Bodo amat. Yang penting sama lu terus.... Pokoknya gua mau!!” Batinnya.

Dan dalam perjalanan, Mingyu akhirnya bisa juga memutar I’m Yours dengan perasaan yang selaras dengan lirik yang dinyanyikan indah oleh si pemilik lagu, Jason Mraz. Terlebih lagi, yang bersangkutan ikut mendengarkan lagu yang ia putar sengaja. Duduk di kursi samping pengemudi, yang mulai sekarang akan menjadi singgasananya.

-

Selanjutnya, biar jadi rahasia tentang apa kegiatan mereka ketika sampai di apartemen milik Jeonghan.

“ming, kamu sayang gak sama aku?” tanya seokmin kepada sahabat karibnya yang saat ini sedang sibuk bersama smartphone miliknya yang sudah banyak goresan disana-sini.

“apaan sih anjing” jawab mingyu sembari bergeser dari duduknya agar tidak lagi diganggu seokmin.

“ijin sebentar yah” masih belum menyerah.

sejujurnya, mingyu sedari tadi pun sedang berusaha mencari-cari alasan agar si pacar bisa mengerti kalau—khususnya hari ini—mingyu tidak bisa apel malam minggu seperti biasa, karena masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan dalam rapat malam ini.

“lu mau gua jedotin kali ya, seok?”

“sebentar aja atuh da, ini juga kita lagi break, nanti malem balik lagi, yah, ming?” rengek seokmin lagi.

mingyu tahu betul betapa stressnya seokmin belakangan ini karena banyaknya tekanan dari sana-sini, sementara permasalahan yang dihadapi timnya belum juga menemukan titik terang. waktu yang tersisa pun tidak banyak.

“mau ngapain sih lu? giliran gua kabur dikit aja dicariin mulu perasaan”

“kerumah jisoo” jawab seokmin sedikit takut.

“anying, gua kira ngapain. penting banget apa sih?”

“penting. sore udah balik deh, ming, tolong dulu atuh ya. ini paling nanti siang dikit ada orang vendor, tolong temuin dulu sama soonyoung, yah?”

berbeda dengan mingyu yang masih selalu bisa mencuri waktu untuk bertemu jeonghan, either sekedar makan siang bersama, mengantarnya pulang dengan selamat, atau menemani jeonghan di studio untuk menyelesaikan projectnya bersama jisoo—meskipun hanya 5 menit. seokmin justru selalu meminta jisoo untuk memberinya waktu untuk menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu, atau dengan kata lain, seokmin selalu menghindar untuk bertemu dengan jisoo.

bagi seokmin, jisoo adalah kesayangannya, jadi harus selalu disayang, dicintai, dan diberi banyak kebahagiaan. seokmin takut sekali kalau dia bertemu jisoo disaat emosinya sedang tidak stabil—seperti akhir-akhir ini—malah akan membawa hal buruk. contohnya, malah menjadikan jisoo sebagai ‘punching bag’nya perkara permasalahan acara yang tidak kunjung usai. mimpi buruk sekali kalau sampai hal itu bisa terjadi.

maka dari itu, demi kesehatan mental sahabatnya yang sekarang menjabat sebagai ketua umum, dengan berat hati, mingyu yang juga sebagai wakil ketua, harus merelakan kepergian seokmin. hitung-hitung sebagai pertanda baik, sebab seokmin bukan tipe orang yang senang berbagi kesedihan, bahkan kalau bisa bersembunyi sejauh mungkin, bisa saja seokmin benar-benar melakukannya hanya karena ia sangat tidak ingin orang lain melihatnya di kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. pertanda baik juga untuk hubungan yang sudah hampir meregang itu.

“tumben… udah bener otak lu?” tanya mingyu.

seokmin berdecak malu, “ya… katanya jangan sering-sering kabur, kan?”

“yaudah pergi dah lu buruan. banyak alesan aja lu, bilang aja kangen jisoo. susah amat.”

“makasih, ayangggg… emang paling pengertian dah, gak ada lagi di dunia ini yang sebaik dirimu” seokmin memeluk mingyu dan mencoba untuk mengecup pipinya karena kepalang bahagia.

mingyu menghindari ciuman seokmin, “apaan sih anjing. najis banget. nanti malem balik lagi lu ya. awas aja. oh iya, jangan bilang-bilang jeonghan. nanti ngamuk. gua bilangnya hari ini rapat penting, gak bisa izin”

“iya gampang. pokoknya itu di urusin dulu ya, ganteng. nanti aku balik lagi. jangan lupa mam siang, sayang” biasa, kalau ada maunya selalu manis.

“bawel. pergi aja lu buruan.”


tidak pernah sekali pun jisoo melarang atau bahkan mengekang seokmin untuk melakukan apapun yang seokmin inginkan. sayangnya, hal tersebut malah membuat seokmin terbuai. terlalu asik dengan pelariannya, sampai lupa ada yang menunggu, ada yang rindunya sudah menumpuk.

ternyata menghindari jisoo justru malah membawa malapetaka. permasalahan yang dihadapi seokmin tidak kunjung berkurang, penat setiap hari dan tidak ada tempat berbagi. sementara jisoo, ia rindu sendiri, stress sendiri, dan bingung sendiri. semua keputusan yang diambil seokmin tidak memberinya titik terang.

kecuali hari ini. hari ini ada titik terang. hari ini benar-benar puncaknya, seokmin merasa ada yang hilang. terlebih saat membaca pesan dari jisoo beberapa saat lalu. hatinya nyeri sekali. merasakan kerinduan yang dipendam jisoo selama ini. betapa beratnya untuk jisoo, yang juga sedang menggarap sebuah project perdananya bersama jeonghan. dengan orang tua yang jauh darinya, sahabat yang juga sama stressnya, sekarang pacarnya juga menghindar.

jisoo yang selalu menumpahkan segala keluh kesahnya kepada seokmin. selalu menceritakan tentang apapun, bahkan hal kecil sekalipun, seperti contohnya saat jisoo tidak sengaja menelan semut yang masuk kedalam gelas air minumnya, dan banyak lagi. kini sudah jarang, atau bisa dibilang tidak ada lagi cerita-cerita random dari jisoo.

lalu disini seokmin sekarang, didepan rumah jisoo seperti yang ia katakan di pesan balasannya. sebelum semuanya terlambat, sebelum ada pertengkaran yang tidak perlu terjadi, sebelum datang orang dari masa lalu.

tok! tok!

seokmin mengetuk pintu perlahan.

otaknya berisik.. mempersiapkan kata-kata yang ingin disampaikan.

tidak sampai 2 menit, sang pemilik rumah keluar.

kesayangannya.

menyambut seokmin dengan senyum manis khasnya. “hai,”

kalau tidak karena gengsi, mungkin seokmin saat ini sudah menangis sejadi-jadinya. memikirkan kebodohannya meninggalkan si sayangnya ini.

seokmin membalas sapaan jisoo dengan pelukan hangat yang akhir-akhir ini tidak lagi dirasakannya. rindu sekali rasanya.

jisoo membalas pelukannya tanpa berkata apapun. hanya mau seperti ini sedikit lebih lama untuk melepas rindunya.

“udah makan belum, yo?” seokmin memberanikan diri membuka percakapan setelah melepas pelukannya.

“belum,” jawabnya

seokmin sudah bersiap untuk menceramahi jisoo. karena haram hukumnya untuk jisoo terlambat makan. apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 2 siang. tetapi jisoo lebih dulu melanjutkan perkataannya, “aku tungguin kamu, kamu juga pasti belum makan, kan?”

“kok nungguin aku? kamu nanti perutnya sakit, yo” seokmin khawatir.

“engga, yaudah ayok masuk makanya, aku udah pesen makanan kok dari tadi, gak apa ya aku yang pilih makannya apa?”

demi tuhan hong jisoo, mana bisa seokmin marah kalau begini ceritanya. “ya gak apa dong. ayo makan dulu, yuk”

kapan terakhir kali mereka bersama seperti ini pun tidak ingat.

kebiasaan jisoo yang hanya makan sedikit dan selalu menyisakan hampir sebagian makanannya.  kalau kata soonyoung porsi makannya jisoo adalah porsi bayi. beda lagi kata mingyu, katanya lambung jisoo kecil, makanya makannya sedikit. dan tidak lain yang selalu jadi ‘penampungan’nya adalah si pacar, lee seokmin. dia justru akan sangat dengan senang hati nambah makan tanpa harus membayar lebih, hehe.

***

seokmin sekarang merebahkan diri dengan paha jisoo sebagai bantalnya di sofa. menikmati acara di tv yang sama sekali tidak mereka simak adalah agenda selanjutnya. keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. mau sekali bertanya tentang kabar satu sama lain, apa yang membuatnya senang, sedih, marah, atau cerita apapun seperti biasanya. tapi terlalu bingung untuk memulai.

sampai jisoo yang akhirnya memecah keheningan diantara keduanya, “kamu cerita dong, beng, capek ya? bagi ke aku sini capeknya”

“kamu juga capek, yo, iya gak? susah ya permintaan clientnya?”

“aku kan tanya kamu duluan, kamu jawab aku dulu” katanya. tentu saja, hong jisoo, juara satu menomor dua kan dirinya sendiri.

seokmin diam sejenak. berat sekali baginya untuk menceritakan apa yang ia rasakan. apa yang harus diutarakan. bagaimana cara merangkai perasaan dan pikirannya menjadi sebuah kalimat. seokmin sama sekali tidak tahu. terlebih, ini sudah menjadi keahliannya untuk menyimpan lelahnya rapat-rapat tanpa diketahui siapapun.

“capek, yo”

“berat ya jadi ketua umum?” tanya jisoo.

seokmin bangun dari tidurnya. kini menyandarkan dirinya ke sandaran sofa. membuat dirinya senyaman mungkin. pandangan nya masih fokus kepada tv yang sedari tadi bicara sendiri. “berat, yo. aku udah percaya diri banget awalnya. soalnya team aku emang orang-orang yang aku percaya, yo. aku juga dibantu mingyu. ada soonyoung juga. tapi tetep aja, payah banget aku, yo. pusing”

jisoo juga merubah duduknya. kini fokusnya berpindah ke seokminnya. “terus sekarang lagi ada masalah apa?”

seokmin tidak tahu ada sihir apa, atau kerasukan apa dirinya. ternyata ini tidak serumit yang ia pikirkan.

“banyak, yang tadi dibicarain sih soal sponsor, yo. belum banyak yang masuk. kita jadi gak bisa dp guest star. terus hari ini mau ada first meeting sama orang vendor. bingung mau bicarain apa. uangnya aja belum ada.”

jisoo bermain-main dengan surai seokmin yang berantakan karena tidurnya tadi, menyusurinya dengan jari-jarinya, membiarkannya tersesat di sana sambil terus fokus dengan apa yang seokmin katakan. “terus apa lagi?”

“masalahnya, yo. aku gak enak kalau mau marah sama team. karena.. ya gimana, yo. kita temen main semua. kalo marah sama mereka kaya gak tau diri. udah dibantuin, tapi malah marah-marah, kan. ya tapi, kerjanya belum maksimal, yo. bingung banget aku. yang kena semprot dari dosen sama senior ya aku. tapi mereka masih asik aja ketawa-ketawa, yo.” seokmin tanpa sadar sudah mengikuti alur yang jisoo ciptakan.

jisoo hanya menyimak dan memandangi indahnya paras sang kekasih meskipun hanya melihatnya dari samping.

“aku juga jadi stress sendiri, yo. aku sama sekali gak mau marah sama orang lagi. aku takutnya malah bikin mereka sakit hati, atau parahnya takut kelepasan. tapi ya gitu, yo... gak ada kemajuan. apa akunya yang payah banget kali ya, yo.” seokmin masih melanjutkan keluh kesahnya.

kini jisoo memastikan kalau seokmin sudah selesai dengan perkataannya, “beng..”

“hmm” seokmin mengalihkan pandangannya dari tv, dan tersadar kalau sedari tadi jisoo memandanginya dengan khusyu. “kok liatin aku?”

jisoo terkekeh, “gak susah kan ya?”

“apa?” tanya seokmin yang sekarang juga sibuk memandangi jisoo.

“ceritain semuanya, bagiin pusingnya kamu ke aku”

seokmin tertohok. tidak sadar sedari tadi sudah menumpahkan semua isi otaknya kepada jisoo. padahal yang ia lakukan hanya menjawab pertanyaan yang jisoo lontarkan. dirinya juga tidak terlalu banyak berpikir selama berkeluh kesah tadi.

“yo..”

“besok-besok dibagi lagi semuanya ya, kamu gak harus pusingin ini sendiri. begitu juga ke team kamu, dibicarain baik-baik. kalau mereka tau posisi kalian lagi di dalam sebuah kepanitiaan, harusnya paham ya, gak perlu sakit hati. karena kan bukan lagi nongkrong, jadi harus bisa menempatkan diri. masalah yang lain juga, dibicarain sama divisinya masing-masing, jangan kamu yang pusing sendiri cari solusinya. team kamu banyak, hebat-hebat, terlebih lagi, kamu bilang mereka orang-orang kepercayaan kamu, kan? percayain mereka untuk bisa bantu kamu cari solusinya ya..” jisoo meyakinkan seokmin. ucapannya pelan dan menghangatkan. jisoo tahu betul bagaimana menghadapi kekasihnya yang mudah tersulut  emosi dan betapa sesaknya seokmin karena terlalu lama memendam semuanya sendiri. “kamu gak payah, sayang. kamu tuh keren, hebat, aku bangga banget kamu bisa bertahan sampe sekarang. terlepas dari beratnya permasalahan dan tekanan yang kamu lewatin. aku percaya kamu pasti bisa selesain acaranya dengan baik, beng. begitu juga team kamu yang udah kasih kamu kepercayaan untuk jadi yang paling bertanggung jawab di acara kali ini.”

seokmin terdiam sejenak dan sekali lagi mempertanyakan tentang hal baik apa yang dia sudah lakukan di kehidupan sebelumnya, sampai-sampai bisa memiliki kekasih hebat seperti jisoo. semua tentang jisoo selalu membuatnya jatuh cinta seperti kali pertama mereka bertemu. tidak pernah berkurang sedikitpun cintanya.

“aku boleh cium kamu gak, yo?” ucap seokmin.

“kangen ya sama aku?”

“banget.”

“kamu sih. aku hampir aja pacaran sama soonyoung.” jisoo kembali dengan mode: iseng.

“ahhh, kok gitu, yo? aku mah kan sebentar, yo, gak lama kan kemarin ilangnya?”

“lamaaaa.. males. aku gak mau cium.”

“jangan gitu, yo. iya aku gak ilang lagi ya… aku cerita yang banyak nanti ke kamu, ke temen-temen, semuanya, yo.. yaa??”

lucu sekali seokmin kalau panik seperti ini. rasanya mau lebih lama lagi isengnya. tapi jisoonya juga terlalu rindu.  “gak mau cium, mau peluk aja yang lama.”

tidak butuh waktu lama, sudah tenggelam kini jisoo dipelukan seokmin. diusap-usap kepala jisoo. sesekali diberi kecupan rindu. “gantian, yo. ceritanya, ya?”

dan sekali lagi, dunia cuma milik mereka berdua. sampai seokmin lupa kalau tadi izinnya cuma sebentar dan harus segera kembali memimpin rapat di kampus.

-

“Disini aja deh,” Ujar Jisoo dengan tangan yang penuh dengan pesanan makanannya.

Tanpa disadari tempat yang dipilih Jisoo sejajar dengan sekumpulan laki-laki yang sedari tadi mengisi kebisingan di kantin siang ini.

“Jisoo!” Sapa laki-laki yang memiliki rambut ikal bernama Taehyung dengan mengangkat alisnya.

Jisoo menjawab dengan senyuman manis.

Dalam hati sedikit menyesal karena harus bersebelahan dengan mereka, berisik. Tetapi apa boleh buat, tempat lain sudah dipenuhi oleh mahasiswa lain yang juga ingin mengisi perutnya sebelum kembali menguras otak di dalam kelas.

“Sumpah rame banget,” Ucap Jisoo sambil perlahan mencicipi nasi goreng dihadapannya.

“Udah makan aja, jangan ribet. Gak ada tempat lagi.” Ini Jeonghan yang sedari tadi sudah menghabisi sebagian nasi goreng miliknya, bahkan sudah sempat mencicipi nasi goreng milik Jisoo. Menurut Jeonghan, entah kenapa, pesanan orang lain selalu terlihat lebih menarik dibanding pesanannya. Padahal menu yang dipesan sama persis.

“Liat, deh, yang sebelah Taehyung. Jangan nengok dulu! Pelan-pelan nengoknya, jangan obvious banget!”

“Yang pake kemeja?” Tanya Jeonghan setengah menengok orang yang Jisoo maksud.

“Iya! Ih dibilang jangan langsung nengok!! Dia nanti geer! Ngomongnya juga pelan-pelan bisa gak?!”

“Gak bakal kedengeran kali, disini kan rame,”

“Dia bukan anak sini gak sih? Gak pernah sekelas, deh, iya gak?”

“Gak tau gak kenal.”

“Ih, coba liat dulu mukanya yang bener!”

Jeonghan benar-benar menatap pria itu dengan seksama, tanpa malu dan berpikir bahwa orang yang dimaksud Jisoo itu akan merasakan kalau dirinya tengah diperhatikan oleh Jeonghan.

Dan benar, kebanyakan orang juga akan merasakan kalau sedang diperhatikan meskipun dari kejauhan sekalipun, begitu pula laki-laki yang dimaksud Jisoo itu. Merasa diperhatikan, lantas ia berpindah tempat duduk meninggalkan makanan dan minumannya yang sudah habis itu ke tempat dimana Jeonghan duduk, tepat di sebelahnya.

“Kenapa? Kalo mau kenalan bilang aja, tapi sebenernya udah pernah ketemu sih, kayaknya lu gak inget,” Sapanya saat sudah duduk rapi di samping Jeonghan.

“Geer!”

“Terus kenapa ngeliatin?”

“Kata Jisoo lo bukan fakultas sini, gue mau tau aja, soalnya gak pernah liat juga.”

“Masa sih gak pernah liat? Coba diinget-inget waktu OSPEK,”

Demi Tuhan, saat itu Jisoo kepalang panik karena kebodohan Yoon Jeonghan, sahabatnya, yang malah dengan sengaja menatap dalam laki-laki yang sedang mereka bicarakan diam-diam, dan sekarang malah menyeret namanya atas kesalahan yang ia buat sendiri. “Sumpah gue gak bermaksud ngomongin lo, cuma penasaran aja, dianya aja nih gak bisa diajak kerja sama!”

“Jangan sombong-sombong, Jeonghan, di follback ya kalo ada yang follow.” Laki-laki itu tidak mengindahkan perkataan Jisoo, ia hanya berfokus kepada lawan bicaranya sedari tadi.

“Apaan sih, gue aja gak tau lo siapa!” Jawab Jeonghan yang sudah dipastikan kehilangan selera makannya kali ini.

“Makanya dibaca, dong, kalau ada yang jbjb, jangan dicuekin”

“Gak jelas, deh”

“Yaudah, diabisin, deh, makanannya, nanti mubazir, gua bakal sering-sering kesini kok, oke?” Si laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya dan bersiap meninggalkan kantin. “Taehyung, gua duluan ya! Bro duluan!”

“Yoi, Ming! Mampir lagi!”

“Siap, gampang itu, mah.”

Hanya butuh 15 menit untuk Mingyu dan Seokmin sampai di apartemen milik Jeonghan. Tidak perlu dipertanyakan berapa kilometer per jam kecepatan yang ditempuh lelaki bertubuh tinggi tersebut selaku pengemudi malam ini. Beruntung Mingyu memiliki akses apartemen Jeonghan dan tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa membuka pintu apartemen sang kekasih yang saat ini sudah dalam pengaruh alkohol.

Dilihat mereka kedua kekasihnya sudah dalam keadaan yang tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Keduanya masih menggenggam ponsel masing-masing, sibuk dengan ocehan dan terus mengirim pesan tidak jelas yang entah kepada siapa lagi kali ini korbannya. Semoga saja masih dikirim kepada dua laki-laki yang saat ini sedang menganga dan mendengus heran.

Mingyu sesegera mungkin menghampiri kekasihnya yang saat ini sedang terduduk dilantai menangis meraung-raung karena pikiran tentang hubungannya yang sudah kandas — tentu saja tidak benar adanya.

“Iya harusnya tuh gak gini.. hiks.. kenapa putus.. indomie gue gimana.. siapa sih.. gue kan gak salah.. bukan salah siapa-siapa.” Semua kata-kata yang ada dikepala Jeonghan terus ia serukan, meskipun tidak ada yang Minggyu mengerti.

“Yang, heh,” Ditepuk-tepuk dengan lembut kedua pipi Jeonghan yang saat ini tenggelam didalam tangan besar Mingyu. “Yang, ngapain sih, ada-ada aja dah, ya Allah. Bangun, Yang.” Dibantu Mingyu kekasihnya itu untuk berpindah ke sofa didekatnya.

Dilantai sana sudah dipenuhi banyak sampah bungkus makanan yang entah seberapa banyak camilan yang mereka sudah habiskan dan tentu saja beberapa botol alkohol dimeja tamu yang bentuknya sudah tidak beraturan itu.

“Mau ketemu Mingyu.. gimana caranya.. udah putus.. semuanya udah putus.. sedih banget.. gue sendirian.. sekarang siapa yang ganti lampu kalau lampunya mati.. terus itu semua jadi rusak.. gak ada Mingyu..”

“Yang, udahan nangisnya, gak ada yang putus. Ini aku disini.” Seperti sia-sia Mingyu mengajaknya bicara pada saat ini. “Tidur aja, yuk, udah gak waras lu, yang.”

Dan sepertinya sekali lagi semesta mau bermain-main dengan Mingyu. Sesaat dibantunya Jeonghan untuk bangun dari duduknya, disaat itu pula Jeonghan mengeluarkan semua isi lambungnya secara paksa.

Seluruh dunia seperti berhenti sejenak seraya Mingyu memproses apa yang baru saja terjadi. Mingyu terpaku dengan Jeonghan yang masih ia topang pinggangnya. Mendengus sabar dan ia jatuhkan kembali Jeonghan di sofa perlahan agar bisa dibersihkan tumpahan dari mulutnya tersebut.

Disisi lain ada Seokmin yang masih berusaha menenangkan Jisoo yang sudah seperti bayi besar.

“Aku dengerin kamu cerita apa aja! Semuanya! Masa aku kalah, aku ini kan pacarnya, dia gak kenal, dulu kenal, tapi udah dulu, itu lama banget.. jangan kesini.. kenapa kesini! Aku ditinggalin, ngerjain semuanya, sedih, ditemenin enggak, sama pacarnya, pacar aku bukan Soonyoung..”

“Iya, yo, udah ya sini dulu Hpnya ya, nanti kamu nge-chat orang lain bahaya.” Ucap Seokmin dan dengan sigap mengambil handphone Jisoo untuk disimpannya sementara. “Yo, aku anterin pulang ya sekarang,”

“Kamu gak tau rumah aku..”

“Aku tau, yo.” Setelah selesai merapihkan barang-barang yang diyakini milik Jisoo — yang tentu saja berserakan disekitar ruang tamu Jeonghan.

“Ming, pinjem dulu mobil.” Lalu disambut oleh Mingyu yang melempar kunci mobil miliknya yang saat ini sudah telanjang dada karena bajunya juga menjadi korban muntahan kekasihnya. “Nginep kan disini? Gue gak bisa balikin cepet, Jisoo gak ada yang jagain.”

“Besok pagi aja jemput lagi kesini.” Jawab Mingyu.

“Oke.”

***

Pagi-pagi sekali Seokmin sudah kembali kerumah Jisoo setelah menjemput Mingyu di apartemen Jeonghan, menyempatkan diri untuk membersihkan diri, dan membawa alat tempurnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang sempat terabaikan.

Diruang tamu kini Seokmin terduduk sila dengan laptop diatas meja tamu dan catatan-catatan miliknya yang sedikit berserakan. Matanya tidak terlepas dari laptop dihadapannya sampai ia mendengar suara pintu terbuka yang ia yakini dari kamar Jisoo. Seokmin tersadar sejenak, namun dengan segera mengembalikan fokusnya kepada tugas yang sudah mendekati deadline itu.

Didapur sana Jisoo sedang mencari-cari apapun untuk membantunya meredakan pengarnya.

“Mba tadi masak, yo. Ada dimeja makanannya.” Ucap Seokmin yang menyadari kekasihnya itu sedang sibuk mencari sesuatu untuk dikonsumsinya.

“Hehe, okay.” Jisoo lantas menikmati makanan diatas meja makan yang dimaksud Seokmin tersebut. Sesekali ber-Wah ria karena merasa sangat terbantu dengan soup yang dibuat oleh Mba dirumahnya untuk meredakan pengar yang teramat sangat.

Seselesainya Jisoo menyantap sarapannya dengan damai, ia lalu menuju ruang tamu untuk menganggu kekasihnya yang sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Mempersiapkan untuk merebahkan diri disofa yang dibelakangi lelaki yang ia cintai itu, sebelumnya Jisoo menghadiahkannya a Good Morning Kiss.

“Good Morning.” Ucapnya setelah ciuman singkatnya berhasil mendarat dipipi sang kekasih. Dan dijawab dengan sebatas senyum dan sedetik menatapnya agar Jisoo tahu bahwa Seokmin sudah menyadari kehadirannya.

Jisoo yang sudah merebahkan diri saat ini sedang bermain-main dengan rambut Seokmin yang baru saja ia cuci pagi tadi. Masih sedikit basah dan aroma mint dari shampoonya kini menyerbak indra penciumannya. Tentu saja Seokmin masih sibuk dengan laptopnya.

“Kamu udah mandi, beng?” Tanya Jisoo basa-basi.

“Udah, tadi abis jemput Mingyu, aku ke kosan, mandi sekalian ambil laptop.” Jawabnya dengan ramah.

Tangan Jisoo kali ini berpindah sedikit memeluk dan memajukan kepalanya mendekati bahu kesayangannya yang bidang itu.

“Kamu gak marah?”

“Nggak.” Jawabnya singkat.

“Coba liat aku sini.”

Seokmin merubah posisinya sedikit bergeser untuk menatap si cinta nya.

“Tuh ngerung! Kamu marah kan?” Jisoo menyadari dahi kekasihnya itu mengkerut dan bulu keningnya hampir bersatu. Diusapnya halus agar otot-otot dahinya berhenti meregang.

“Kamu kenapa sampe minum sama Jeonghan? Aku ada salah?” Tanyanya setelah sedikit tenang. Yang ditanya malah tertawa mendengar pertanyaanya.

“Awalnya sih coba-coba,” Jawab Jisoo bercanda.

“Yo!! Kamu drunk texting loh.” Seokmin merengek seakan meminta Jisoo untuk serius sedikit.

“Haha, gak ada apa-apa, emang cuma lagi cerita-cerita aja, terus kaya ada yang kurang.”

“Jangan gitu lagi ya, yo. Kamu ngomongnya ngaco, nanti kalau salah chat orang takut jadi masalah. Dijauhin dulu hpnya sebelum minum. Minumnya juga jangan banyak-banyak, kamu kan tau, yo, batas kamu. Ya?” Dengan hati-hati sekali ia memberikan pengertian kepada Jisoonya agar tidak disalah artikan.

“Iya, berarti kalau sama kamu boleh minum yang banyak ya?”

“Tetep gak boleh.”

“Ah,” Jawabnya kecewa. “Tapi makasih ya, beng, kamu kalau marah sama aku selalu pelan-pelan ngomongnya, aku tau gak gampang buat kamu. Terimakasih pacarku, untung aku bukan orang-orang yang suka bikin macet, atau orang kurang ajar yang gak menghargai orang tua, dan orang rese lainnya, jadi kamu gak galak.”

“Aku galak banget ya, yo?” Tanya Seokmin yang padahal ia sendiri sudah tau jawabannya.

“Galak dikit.” Jisoo menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya untuk menunjukkan tanda sendikit yang dimaksud.

Seokmin tersenyum dibawah sana melihat Jisoo berbalut piyama yang masih diatas sofa berbaring dengan nyaman.

“Jadi kamu sebenernya cemburu, yo?” Tanya Seokmin tiba-tiba.

“Hah? Sama siapa?” Jelas ia tidak ingat apa yang terjadi semalam.

“Yah, beneran deh aku gak akan kasih kamu minum sendirian lagi. Apalagi berdua sama Jeonghan.”

“Beng, emang aku ngomong apa?”

Seokmin memberikan ponsel Jisoo yang disimpannya semalaman. Dan langsung saja Jisoo membukan aplikasi pesan setelah password handphonenya terbuka.

“AAAAH,” Ucapnya malu sesaat setelah menyadari apa yang ia kirim kepada pacarnya itu semalam. “Enggak, aku gak cemburu!! Ini aku kan lagi gak sadar, beng. Kamu jangan salah paham...”

Seokmin tertawa geli saat menangkap si sayangnya panik dan pipinya memerah malu. “Cemburu juga gak apa, yo.”

“Enggak..”

“Cium dulu kalau gitu..” Pinta Seokmin

“Hah?!” Jisoo tentu saja terkejut sekali mendengar apa yang diucapkan kekasihnya yang sangat jarang ia ucapkan.

“Cium” Ucapnya sekali lagi.

“Beng..”

“Yaudah kalau gak mau deh, aku padahal jemput kamu ke Jeonghan tengah malem, kamu marah-marahin, aku dengerin kamu ngomong ngelantur juga, gotong kamu sampai rumah, aku temenin takut kamu kebangun,”

“Oooh, jadi pamrih nih,” Jisoo mengurung wajah Seokmin dengan kedua telapak tangannya dan mendekatkan wajah keduanya.

“Udah ah aku ngerjain aja tugas aku ini mau deadline.”

“Jadinya mau apa engga nih?”

“Boleh?”

“Boleh”

They now touch each other's lips and drown into their own world, left us jealous with what they have (always).

***

Di pagi yang lain, tempat dimana segala perkara dimulai, Jeonghan baru saja membuka mata dan terpontang-panting berjalan menuju dapur. Melakukan sama seperti yang Jisoo lakukan, mecari sesuatu untuk dikonsumsi seraya menghilangkan pengarnya.

Ternyata di meja makan miliknya sudah tertata banyak makanan yang tentu saja dimasak oleh seseorang yang menghabiskan malamnya membersihkan kekacauan yang dibuat kekasihnya dan ditempat tinggalnya sendiri. Jeonghan tentu tahu siapa orangnya. Disisi meja makan ada satu kardus indomie soto yang dijanjikannya, lalu Post It yang ditempelnya diatas tutup soup penghilang pengar, yang bertuliskan 'Makan.'. Singkat sekali.

Jeonghan mencari handphonenya untuk menghubungi sipelaku ini semua. Sambil menunggu teleponnya terhubung, Jeonghan menatap sekeliling apartemennya yang sudah bersih dan rapih berkat Mingyu.

“Halo..” Ucapnya setelah teleponnya terhubung.

“Hmm..” Jawabnya yang nampaknya diujung sana si penerima telepon baru terbangun dari tidurnya akibat telepon masuk ini.

“Kamu bersihin semuanya?” Tanya Jeonghan untuk memastikan.

“Iya, siapa lagi.”

“Masak juga?”

“Iya.”

“Ooh, oke.” Jeonghan menebak bahwa Mingyu marah kepadanya karena menyebabkan dirinya harus repot-repot melakukan ini semua. “Kamu pulang jam berapa tadi?”

“Au,”

“Marah?”

“Udah dibilangin, yang, kalau apa-apa ngomong.”

“Ngomong gimana maksud kamu? Aku mau minum aja harus ngomong sama kamu?”

“Yang, kamu mabok! Aku gak tau kamu mabok sama siapa, dimana, kalo aja kamu gak chat aku yang aneh-aneh dan untungnya aku yang kamu chat. Kalau aja orang lain.”

“Ya thank god, it's you.”

“Han,”

“Mingyu, aku pusing banget masih pengar, kamu malah marahin aku, ini masih pagi.”

“Ngerti orang khawatir gak sih kamu, han?!”

“Okay, I'm sorry.”

Bisa tebak sekarang Jeonghan sedang apa? Ya betul.. Menangis.. Teleponnya sunyi. Keduanya tidak bicara sepatah kata pun.

“Aku bukannya mau ngelarang atau gimana, han, aku khawatir, kalau ada apa-apa gimana? Kamu berdua mabok, aku harus nanya sama siapa kamu dimana? Aku juga yakin kamu tau batas toleransi alkohol kamu sama Jisoo segimana. Gak usah coba-coba, yang. Lain kali ajak aku gapapa, supaya aku bisa awasin kamu.” Jelas Mingyu. “Han, kamu denger gak aku ngomong?”

“Denger.”

“Yaudah, maaf aku marahin kamu. Sekarang dimakan dulu supaya gak pengar. Aku perlu kesana gak?”

“Gak usah kalau masih marah.”

“Udah gak marah. Indomie udah diganti ya, lunas.”

Jeonghan terkekeh pelan melihat satu kardus indomie ia janjikan dan entah kapan dibelinya. “Aku ngapain semalem? Parah ya?”

“Nangis-nangis gak jelas. Aku di muntahin.”

“Demi apa??” Jeonghan lantas menciumi tubuhnya dan jelas tercium bau tidak sedap akibat muntahnya semalam. “Ewww, kamu pulang gimana?”

“Pake hoodie aku yang kamu hak milik.”

“Yahh, kok pake itu, sih, yang lain kan ada, ming.”

“Ya kan punya gua, terserah gua, yang, dari pada telanjang pulang ke kosan.”

“Balikin lagi nanti!”

“Enak aja punya gua!”

“Kamu kasih ke aku!”

“Kapan? Kamu ngaku-ngaku!”

“Ih malesin lo, ming. Pagi-pagi bikin kesel.”

“Ya dari pada bikin anak.”

“Orang gila.”

“Elu gila, yang. Baca gak semalem ngajak gua ngapain?”

“IHHHH, ITU MABOK!”

“Masih berlaku, yang. Kalau mau bilang aja. Gua meluncur sekarang.”

“Kim Mingyu, gila!”

“Yaudah kalau gak mau, dah, gua mau tidur lagi, ngantuk.”

“Ih gak asik banget.”

“Bilang kalau mau, jangan gengsi.”

“Gak tau ah, males.”

...

Jadi atau engga, biar mereka dan semesta yang tau. Karena seluruh dunia akan cemburu kalau tau.. (lagi).