bohong apabila seokmin bilang kalau dirinya baik-baik saja saat ini, sementara degup jantungnya lebih kencang dari suara di sekitarnya dan kaki nya yang sudah lemas sekali seperti jelly seraya ia semakin dekat untuk menghampiri mingyu, jeonghan, dan jisoo yang sudah lebih dulu sampai di bioskop itu.

tidak, seokmin sama sekali tidak menyesali keputusan nya untuk meng-iya kan ajakan mingyu untuk menemani nya hari ini. hanya saja, dia sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa untuk bertemu jisoo. bisa dilihat dari penampilan nya yang sama seperti sehari-hari nya, hoodie dan celana jeans. kalau tahu akan ada si gebetan, mungkin setidaknya kemeja atau menambah sedikit wewangian akan lebih baik, pikirnya.

“lama banget, dari Hongkong apa gimana, dah.” mingyu yang sudah menggerutu sedari tadi karena kedua teman nya ini, atau ralat, satu teman nya itu selalu juara satu untuk berlama-lama.

“biasa,” soonyoung menambahi.

“emang kebiasaan lu, panjul.” mingyu lalu memastikan tiket yang dibeli nya benar, “gua scan tiket dulu.” setelah itu, bersama jeonghan ia pergi menuju mesin scan yang berada dekat dengan tempat membeli tiket secara langsung.

lalu tersisa jisoo, soonyoung, dan seokmin disini. awalnya agak khawatir akan sedikit awkward, mengingat ketiga nya belum berkenalan secara resmi ketika terakhir kali mereka bertemu di kantin beberapa hari lalu. tetapi kata ‘awkward’ sepertinya tidak berlaku di kamus jisoo dan soonyoung, si manusia dengan segala ke-supel-an nya.

“beli popcorn mau, gak?” tanya jisoo kepada seokmin yang sedang mematung bingung dan soonyoung yang masih tetap terlihat santai, tentu saja.

“hayuk, dah” soonyoung lantas bergegas menuju ke bagian concessions. seokmin dan jisoo menyusul.

bukan jisoo namanya kalau tidak ngemil. dimana pun dan kapan pun.

popcorn mix large nya, mas, kalian apa?” tanya jisoo yang sudah mantap dengan pesanan nya itu.

sementara soonyoung dan seokmin malah bertukar pandang bertanya-tanya, apa bisa dia habiskan sebanyak itu sendiri.

cola aja, jisoo.”

“sama.”

“gak mau popcorn juga?” tanya jisoo.

“nggak, jisoo. buat jeonghan aja dipesan satu lagi popcorn nya,” jawab seokmin dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sebelum melebur bersama kupu-kupu yang ada di perutnya kini.

nope, dia gak makan kalau nonton. mingyu gimana?”

“ya?” fokus, dong, seokmin.

“nanti aja si mingyu, dia biar pesan sendiri aja sama jeonghan. udah itu aja dulu, a’. sok atuh dibayar, seok.” terima kasih “bantuan” nya soonyoung.

membuat seokmin sedikit tersedak, tiba-tiba disuruh bayar, “udah? ada lagi?”

“mau air mineral, satu ya, mas.” jawab jisoo.

“oke, yaudah, a’. itu aja.” sebagai laki-laki yang baik, tentu saja dibayar oleh seokmin. meskipun sehabis ini mungkin akan ada adu gulat antara seokmin dan soonyoung.

tetapi tidak apa, yang penting sekarang bisa dilihat kalau jisoo sangat bahagia dengan popcorn sebanyak itu, bahkan belum masuk studio pun sudah dikunyah satu-persatu popcorn nya itu.

tidak lama, mingyu dan jeonghan kembali dengan tiket yang sudah ditangan.

“ini misah ya, gua sama jeonghan di row C. lu bertiga di F.” ucap mingyu dan membagi tiket nya rata.

“kamu sengaja, ya?” tanya jeonghan, yang tentu saja baru tahu kalau tempat duduk mereka berbeda row.

“kaga, yang. ya Allah. ini kamu mau liat sepenuh apa? kemarin pas aku pesan juga udah penuh.” sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan bagi mingyu. setidak nya bisa berduaan selama film berlangsung. kurang lebih 2 jam, akan sangat berarti buat mingyu.

jeonghan mau tidak mau menuruti saja yang mingyu arahkan, meskipun tentu saja, tidak bisa dibohongi juga kalau ada sedikit perasaan khawatir karena terpisah dari jisoo nya.

“baik-baik lu, bocil. jangan nyusahin temen-temen gua.” mingyu mewanti-wanti.

“apaan, deh. nyebelin.” jisoo berlalu menuju studio yang sudah tertera di tiketnya. disusul oleh yang lain sambil tertawa.

seokmin yang masih belum bisa memproses apa yang terjadi, menarik mingyu untuk sedikit berbincang, “ming, anjir. gak bilang ada jisoo.”

“gua gak bilang aja lu lelet. apalagi gua bilang. lu ke Arab dulu kali, beli minyak wangi.” jawab mingyu yang kesal sekali karena harus dibuat menunggu, lagi.

“ya briefing, atuh, seenggaknya. urang gak siap gini,”

“ga siap apaan, sih. dah, lu mah tinggal duduk aja sebelahan. bilang apa sama gua?”

“iya makasih, tapi besok-besok ngobrol atuh lah ya. anjir, grogi gini urang.”

“iya, dah. apa kata lu aja biar cepet.

***

setelah memasuki studio dan menuju row nya masing-masing, seokmin terpaku sejenak melihat kursi yang tersisa adalah yang disebelah jisoo. seokmin lantas berbisik kepada soonyoung, “soon, geser atuh,”

tetapi justru jisoo yang bereaksi lebih cepat, menunjuk tempat kosong di sebelah nya “disini aja, seok.”

“udah situ, duduk yang bener. jangan macem-macem, Allah maha melihat.” ledek soonyoung.

“anying, sia. siapa juga yang mau macem-macem.” dan duduklah seokmin kini disebelah jisoo.

“eh aku bener kan, ya?” tanya jisoo sedetik setelah seokmin terduduk tenang, tetapi tidak dengan kupu-kupu dan segala reaksi yang terjadi di sekujur tubuh nya kini.

“hm?”

“nama kamu, seokmin, kan? aku tadi tanya soonyoung.”

yang disebut nama nya sedikit menengok, “iya, jisoo. udah jangan diajak ngomong dulu. takut kesurupan. dimakan aja popcorn nya.”

“eyy, sialan juga kamu, soon” seokmin dalam hati.

“loh, kenapa kesurupan? disini ada hantu nya atau gimana?”

“engga, jisoo. bercanda itu soonyoung nya. iya bener kok, jisoo.” sebuah pencapaian bagi seokmin bisa menjawab jisoo dengan lancar.

“oh, kirain. yang kemarin minta nomer aku, iya kan?” demi Tuhan, jisoo.

soonyoung di pinggir sana sedang berusaha menahan tawa nya agar tidak pecah dan meminta maaf berulang kali didalam hati karena tidak bisa membantu kali ini, berharap seokmin bisa mendengar nya.

dan siapa pun tahu betapa dingin nya studio di dalam bioskop itu, bahkan setebal apapun pakaian yang dikenakan, tetap akan terasa dingin nya. tetapi panas di pipi seokmin agak nya bisa menghangat seluruh ruangan kali ini. “iya, jisoo. nuhun, yah.”

apa? terimakasih untuk apa? kenapa terimakasih?

“okay.” yang diajak bicara sekarang malah sibuk dengan popcorn nya. dia sendiri mungkin tidak mengerti ‘terimakasih’ apa yang dimaksud seokmin.

namun, seokmin justru bersyukur karena tidak perlu lagi memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan jisoo.

***

selama film berlangsung, tidak ada perbincangan baik diantara yang lagi kasmaran, soonyoung, maupun diantara pasangan baru yang sekarang sedang asik nya saling bersandar.

bagi jeonghan, setiap kali menonton bioskop adalah kesempatan baginya untuk bisa tenggelam di dalam pelukan mingyu tanpa harus memberikan alasan-alasan yang ia sendiri bingung bagaimana menyampaikan nya, alias gengsi, karena mingyu pun tahu kalau jeonghan tidak terlalu tahan terhadap dingin nya AC di bioskop. mingyu tentu saja menyambut baik, dan menikmati setiap momen nya.

selagi menikmati film yang sudah hampir sampai pada klimaks nya, mingyu tidak sengaja menengok ke tempat dimana teman-teman nya duduk. tampak jelas sekali kalau ada kepala yang bersandar.

“bisa aja si bambang. kesempatan banget lu yeeee.” mingyu bergumam. dan memastikan kalau jeonghan tidak melihat adegan yang memang tidak seharusnya dilihat. bisa-bisa diacak-acak ini satu studio kalau sampai tahu.

***

“kamu makan gak tadi pagi? siang?” tanya mingyu pada jeonghan.

“ya makan. masa gak makan.” jawab jeonghan seperti biasa, khas sekali.

“makan apaan? jangan indomie terus, yang.”

jeonghan nya hanya tersenyum, ketahuan deh.

“yang,”

“iyaaa. it will be the last time, for this week. i don’t know about next week. though.”

“aku beneran bilang mamah ya biar jadi langganan katering kamu setiap hari,”

“ah, kan, kamu selalu gitu, mingyu. aku kan udah bilang, jangan ngerepotin mama kamu, ya?”

“iya aku nawarin kamu repotin, tapi kamu nya gitu, yang.”

“iya iya, gak lagi. tapi jangan bilang mama kamu, oke? i will take care of myself.”

agak nya, saat ini abang nasi goreng yang menjadi destinasi mereka selanjutnya pun terkejut. karena sambutan oleh pembeli nya kali ini adalah sebuah keributan rumah tangga.

“han, ini sehari-hari makan dipinggir jalan gini?” tanya soonyoung.

jeonghan mengangguk. karena mau bagaimanapun juga, makanan pinggir jalan akan selalu jadi pilihan terbaik untuk makan malam, dibanding makan di resto yang air mineral saja tidak manusiawi harga nya.

“sekali-kali atuh lah minta yang mahal. si iming mah duit nya gak abis-abis gak usah khawatir, han.” seokmin juga turut serta dalam sesi meledek kedua pasangan itu kali ini.

“ih, kenapa? kan enak tau makanan di pinggir jalan.” jisoo menyahut.

“apaan, dah, lu bocil. yang diajak ngomong siapa. nyaut aja lu, kebiasaan.” mingyu kembali lagi dalam misi nya untuk menjadi menyebalkan setiap kali dihadapkan dengan sahabat karib kekasihnya itu.

“elo yang apaan, ming. orang kamu kan ngomong sama semua nya, kan?” tanya jisoo pada seokmin.

kamu katanya. baru sadar. padahal sudah sedari tadi.

“iya, jisoo.” lemah sekali kamu seokmin. cuma bisa menjawab iya, jisoo.

mingyu bisa apa kalau sudah seperti ini. mau membalas ledekan lagi, yang ada malah dirinya yang kena marah jeonghan nantinya.

sampai lupa memesan karena terlalu asik saling meledek.

“a’, mau pesen apa?” tanya si mamang penjual nasi goreng.

“nasi goreng aja, mang. semua, ini lima disamain. pedes nya sedeng aja.” jawab mingyu.

“ih, gue kan gakmau pedes.” jisoo protes.

“iya lupa. ini punya anak kecil yang satu jangan pedes, mang. nangis nanti kalo makan pedes, mami nya jauh lagi di semarang.”

“mingyu…”

“iya, bercanda, yang.”

jisoo merasa menang kali ini. dan tidak lama handphonenya berdering, tanda panggilan masuk dari kontak nya yang diberi nama ‘mami’ lengkap dengan sebuah tanda cinta nya. dengan sigap jisoo bangun dari duduk nya dan mencari tempat yang sedikit tentram untuk mengangkat teleponnya itu.

“minum nya, a’?” tanya mamang penjual nasi goreng lagi.

“es teh aja, mang.”

“lima?”

“nggak, empat aja.”

“satu lagi kenapa?” tanya seokmin.

“anak kecil kaga boleh minum es. air putih dia minum nya. batuk kalo minum es.” jelas mingyu.

”oh, tentu saja.” batin seokmin sambil mengingat pesanan jisoo di bioskop tadi.

lalu seokmin dan soonyoung hanya terkekeh karena mingyu yang sepertinya tidak akan pernah berhenti mengejek jisoo.

“warung dulu, lah. mau beli rokok.” seokmin lantas pergi menuju warung di seberang tempat dimana mereka akan menyantap makan malam kali itu.

beberapa lama kemudian, jisoo kembali setelah perbincangan dengan mami nya selesai. berbarengan dengan seokmin yang juga tidak butuh waktu lama untuk kembali dengan sebungkus rokok nya, dan satu botol air mineral untuk jisoo.

“jisoo,” seokmin lalu menyodorkan air mineral yang baru dibeli nya kepada jisoo.

“loh, kok tau? thank you, ya.” ucapnya sambil berusaha membuka tutup botol air mineral nya, yang sampai sekian detik selanjutnya tidak juga terbuka.

seokmin being the gentleman as he is, lalu membantu jisoo dengan air mineral nya.

di seberang nya, yoon jeonghan masih terus menyaksikan dengan khidmat gerak-gerik seokmin, lalu menyimpulkan sendiri apa yang dia dapatkan dari penglihatan nya.

dan nasi goreng pun datang bersamaan dengan es teh pesanan mereka.

jisoo yang sudah mendapatkan satu piring nasi goreng nya lalu menyodor nya kepada mingyu dan jeonghan.

seokmin dan soonyoung saling bertukar pandang, bertanya-tanya, ada apa?

“anak kecil makan nya sedikit. kaga bakalan abis dia makan sepiring sendiri. popcorn nya aja masih ada di mobil.” mingyu lagi-lagi menjelaskan. sudah seperti orang tua jisoo yang sesungguhnya.

jisoo nya hanya tersenyum sambil menunggu mingyu mengambil bagian nya dari piring jisoo.

tetapi lagi-lagi seokmin sepertinya ingin menjadi pahlawan, “dimakan dulu aja, jisoo. nanti kalau gak abis di oper kesini.”

“oh, gak apa emang nya? mingyu gak mau, tuh. katanya makan makanan sisa. emang gaya banget orang nya.”

“gapapa, jisoo makan dulu aja. keburu dingin nasi nya.” selamat karena sudah jadi pemberani, lee seokmin.

disebelahnya, soonyoung mengelus pelan punggung seokmin, lalu berbisik “semangat terus, kawan.”

dibalas dengan anggukan pelan dari seokmin. tanda ia akan melankasanakan apa yang dikatakan soonyoung barusan.

mingyu dan jeonghan hanya mendengus. sudah paham sekali atas apa yang terjadi di hadapan nya kini.

tidak ada yang bisa mengalahkan orang jatuh cinta. bahkan yoon jeonghan sekalipun.

-