Hanya butuh 15 menit untuk Mingyu dan Seokmin sampai di apartemen milik Jeonghan. Tidak perlu dipertanyakan berapa kilometer per jam kecepatan yang ditempuh lelaki bertubuh tinggi tersebut selaku pengemudi malam ini. Beruntung Mingyu memiliki akses apartemen Jeonghan dan tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa membuka pintu apartemen sang kekasih yang saat ini sudah dalam pengaruh alkohol.
Dilihat mereka kedua kekasihnya sudah dalam keadaan yang tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata. Keduanya masih menggenggam ponsel masing-masing, sibuk dengan ocehan dan terus mengirim pesan tidak jelas yang entah kepada siapa lagi kali ini korbannya. Semoga saja masih dikirim kepada dua laki-laki yang saat ini sedang menganga dan mendengus heran.
Mingyu sesegera mungkin menghampiri kekasihnya yang saat ini sedang terduduk dilantai menangis meraung-raung karena pikiran tentang hubungannya yang sudah kandas — tentu saja tidak benar adanya.
“Iya harusnya tuh gak gini.. hiks.. kenapa putus.. indomie gue gimana.. siapa sih.. gue kan gak salah.. bukan salah siapa-siapa.” Semua kata-kata yang ada dikepala Jeonghan terus ia serukan, meskipun tidak ada yang Minggyu mengerti.
“Yang, heh,” Ditepuk-tepuk dengan lembut kedua pipi Jeonghan yang saat ini tenggelam didalam tangan besar Mingyu. “Yang, ngapain sih, ada-ada aja dah, ya Allah. Bangun, Yang.” Dibantu Mingyu kekasihnya itu untuk berpindah ke sofa didekatnya.
Dilantai sana sudah dipenuhi banyak sampah bungkus makanan yang entah seberapa banyak camilan yang mereka sudah habiskan dan tentu saja beberapa botol alkohol dimeja tamu yang bentuknya sudah tidak beraturan itu.
“Mau ketemu Mingyu.. gimana caranya.. udah putus.. semuanya udah putus.. sedih banget.. gue sendirian.. sekarang siapa yang ganti lampu kalau lampunya mati.. terus itu semua jadi rusak.. gak ada Mingyu..”
“Yang, udahan nangisnya, gak ada yang putus. Ini aku disini.” Seperti sia-sia Mingyu mengajaknya bicara pada saat ini. “Tidur aja, yuk, udah gak waras lu, yang.”
Dan sepertinya sekali lagi semesta mau bermain-main dengan Mingyu. Sesaat dibantunya Jeonghan untuk bangun dari duduknya, disaat itu pula Jeonghan mengeluarkan semua isi lambungnya secara paksa.
Seluruh dunia seperti berhenti sejenak seraya Mingyu memproses apa yang baru saja terjadi. Mingyu terpaku dengan Jeonghan yang masih ia topang pinggangnya. Mendengus sabar dan ia jatuhkan kembali Jeonghan di sofa perlahan agar bisa dibersihkan tumpahan dari mulutnya tersebut.
Disisi lain ada Seokmin yang masih berusaha menenangkan Jisoo yang sudah seperti bayi besar.
“Aku dengerin kamu cerita apa aja! Semuanya! Masa aku kalah, aku ini kan pacarnya, dia gak kenal, dulu kenal, tapi udah dulu, itu lama banget.. jangan kesini.. kenapa kesini! Aku ditinggalin, ngerjain semuanya, sedih, ditemenin enggak, sama pacarnya, pacar aku bukan Soonyoung..”
“Iya, yo, udah ya sini dulu Hpnya ya, nanti kamu nge-chat orang lain bahaya.” Ucap Seokmin dan dengan sigap mengambil handphone Jisoo untuk disimpannya sementara. “Yo, aku anterin pulang ya sekarang,”
“Kamu gak tau rumah aku..”
“Aku tau, yo.” Setelah selesai merapihkan barang-barang yang diyakini milik Jisoo — yang tentu saja berserakan disekitar ruang tamu Jeonghan.
“Ming, pinjem dulu mobil.” Lalu disambut oleh Mingyu yang melempar kunci mobil miliknya yang saat ini sudah telanjang dada karena bajunya juga menjadi korban muntahan kekasihnya. “Nginep kan disini? Gue gak bisa balikin cepet, Jisoo gak ada yang jagain.”
“Besok pagi aja jemput lagi kesini.” Jawab Mingyu.
“Oke.”
***
Pagi-pagi sekali Seokmin sudah kembali kerumah Jisoo setelah menjemput Mingyu di apartemen Jeonghan, menyempatkan diri untuk membersihkan diri, dan membawa alat tempurnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang sempat terabaikan.
Diruang tamu kini Seokmin terduduk sila dengan laptop diatas meja tamu dan catatan-catatan miliknya yang sedikit berserakan. Matanya tidak terlepas dari laptop dihadapannya sampai ia mendengar suara pintu terbuka yang ia yakini dari kamar Jisoo. Seokmin tersadar sejenak, namun dengan segera mengembalikan fokusnya kepada tugas yang sudah mendekati deadline itu.
Didapur sana Jisoo sedang mencari-cari apapun untuk membantunya meredakan pengarnya.
“Mba tadi masak, yo. Ada dimeja makanannya.” Ucap Seokmin yang menyadari kekasihnya itu sedang sibuk mencari sesuatu untuk dikonsumsinya.
“Hehe, okay.” Jisoo lantas menikmati makanan diatas meja makan yang dimaksud Seokmin tersebut. Sesekali ber-Wah ria karena merasa sangat terbantu dengan soup yang dibuat oleh Mba dirumahnya untuk meredakan pengar yang teramat sangat.
Seselesainya Jisoo menyantap sarapannya dengan damai, ia lalu menuju ruang tamu untuk menganggu kekasihnya yang sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Mempersiapkan untuk merebahkan diri disofa yang dibelakangi lelaki yang ia cintai itu, sebelumnya Jisoo menghadiahkannya a Good Morning Kiss.
“Good Morning.” Ucapnya setelah ciuman singkatnya berhasil mendarat dipipi sang kekasih. Dan dijawab dengan sebatas senyum dan sedetik menatapnya agar Jisoo tahu bahwa Seokmin sudah menyadari kehadirannya.
Jisoo yang sudah merebahkan diri saat ini sedang bermain-main dengan rambut Seokmin yang baru saja ia cuci pagi tadi. Masih sedikit basah dan aroma mint dari shampoonya kini menyerbak indra penciumannya. Tentu saja Seokmin masih sibuk dengan laptopnya.
“Kamu udah mandi, beng?” Tanya Jisoo basa-basi.
“Udah, tadi abis jemput Mingyu, aku ke kosan, mandi sekalian ambil laptop.” Jawabnya dengan ramah.
Tangan Jisoo kali ini berpindah sedikit memeluk dan memajukan kepalanya mendekati bahu kesayangannya yang bidang itu.
“Kamu gak marah?”
“Nggak.” Jawabnya singkat.
“Coba liat aku sini.”
Seokmin merubah posisinya sedikit bergeser untuk menatap si cinta nya.
“Tuh ngerung! Kamu marah kan?” Jisoo menyadari dahi kekasihnya itu mengkerut dan bulu keningnya hampir bersatu. Diusapnya halus agar otot-otot dahinya berhenti meregang.
“Kamu kenapa sampe minum sama Jeonghan? Aku ada salah?” Tanyanya setelah sedikit tenang. Yang ditanya malah tertawa mendengar pertanyaanya.
“Awalnya sih coba-coba,” Jawab Jisoo bercanda.
“Yo!! Kamu drunk texting loh.” Seokmin merengek seakan meminta Jisoo untuk serius sedikit.
“Haha, gak ada apa-apa, emang cuma lagi cerita-cerita aja, terus kaya ada yang kurang.”
“Jangan gitu lagi ya, yo. Kamu ngomongnya ngaco, nanti kalau salah chat orang takut jadi masalah. Dijauhin dulu hpnya sebelum minum. Minumnya juga jangan banyak-banyak, kamu kan tau, yo, batas kamu. Ya?” Dengan hati-hati sekali ia memberikan pengertian kepada Jisoonya agar tidak disalah artikan.
“Iya, berarti kalau sama kamu boleh minum yang banyak ya?”
“Tetep gak boleh.”
“Ah,” Jawabnya kecewa. “Tapi makasih ya, beng, kamu kalau marah sama aku selalu pelan-pelan ngomongnya, aku tau gak gampang buat kamu. Terimakasih pacarku, untung aku bukan orang-orang yang suka bikin macet, atau orang kurang ajar yang gak menghargai orang tua, dan orang rese lainnya, jadi kamu gak galak.”
“Aku galak banget ya, yo?” Tanya Seokmin yang padahal ia sendiri sudah tau jawabannya.
“Galak dikit.” Jisoo menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya untuk menunjukkan tanda sendikit yang dimaksud.
Seokmin tersenyum dibawah sana melihat Jisoo berbalut piyama yang masih diatas sofa berbaring dengan nyaman.
“Jadi kamu sebenernya cemburu, yo?” Tanya Seokmin tiba-tiba.
“Hah? Sama siapa?” Jelas ia tidak ingat apa yang terjadi semalam.
“Yah, beneran deh aku gak akan kasih kamu minum sendirian lagi. Apalagi berdua sama Jeonghan.”
“Beng, emang aku ngomong apa?”
Seokmin memberikan ponsel Jisoo yang disimpannya semalaman. Dan langsung saja Jisoo membukan aplikasi pesan setelah password handphonenya terbuka.
“AAAAH,” Ucapnya malu sesaat setelah menyadari apa yang ia kirim kepada pacarnya itu semalam. “Enggak, aku gak cemburu!! Ini aku kan lagi gak sadar, beng. Kamu jangan salah paham...”
Seokmin tertawa geli saat menangkap si sayangnya panik dan pipinya memerah malu. “Cemburu juga gak apa, yo.”
“Enggak..”
“Cium dulu kalau gitu..” Pinta Seokmin
“Hah?!” Jisoo tentu saja terkejut sekali mendengar apa yang diucapkan kekasihnya yang sangat jarang ia ucapkan.
“Cium” Ucapnya sekali lagi.
“Beng..”
“Yaudah kalau gak mau deh, aku padahal jemput kamu ke Jeonghan tengah malem, kamu marah-marahin, aku dengerin kamu ngomong ngelantur juga, gotong kamu sampai rumah, aku temenin takut kamu kebangun,”
“Oooh, jadi pamrih nih,” Jisoo mengurung wajah Seokmin dengan kedua telapak tangannya dan mendekatkan wajah keduanya.
“Udah ah aku ngerjain aja tugas aku ini mau deadline.”
“Jadinya mau apa engga nih?”
“Boleh?”
“Boleh”
They now touch each other's lips and drown into their own world, left us jealous with what they have (always).
***
Di pagi yang lain, tempat dimana segala perkara dimulai, Jeonghan baru saja membuka mata dan terpontang-panting berjalan menuju dapur. Melakukan sama seperti yang Jisoo lakukan, mecari sesuatu untuk dikonsumsi seraya menghilangkan pengarnya.
Ternyata di meja makan miliknya sudah tertata banyak makanan yang tentu saja dimasak oleh seseorang yang menghabiskan malamnya membersihkan kekacauan yang dibuat kekasihnya dan ditempat tinggalnya sendiri. Jeonghan tentu tahu siapa orangnya. Disisi meja makan ada satu kardus indomie soto yang dijanjikannya, lalu Post It yang ditempelnya diatas tutup soup penghilang pengar, yang bertuliskan 'Makan.'. Singkat sekali.
Jeonghan mencari handphonenya untuk menghubungi sipelaku ini semua. Sambil menunggu teleponnya terhubung, Jeonghan menatap sekeliling apartemennya yang sudah bersih dan rapih berkat Mingyu.
“Halo..” Ucapnya setelah teleponnya terhubung.
“Hmm..” Jawabnya yang nampaknya diujung sana si penerima telepon baru terbangun dari tidurnya akibat telepon masuk ini.
“Kamu bersihin semuanya?” Tanya Jeonghan untuk memastikan.
“Iya, siapa lagi.”
“Masak juga?”
“Iya.”
“Ooh, oke.” Jeonghan menebak bahwa Mingyu marah kepadanya karena menyebabkan dirinya harus repot-repot melakukan ini semua. “Kamu pulang jam berapa tadi?”
“Au,”
“Marah?”
“Udah dibilangin, yang, kalau apa-apa ngomong.”
“Ngomong gimana maksud kamu? Aku mau minum aja harus ngomong sama kamu?”
“Yang, kamu mabok! Aku gak tau kamu mabok sama siapa, dimana, kalo aja kamu gak chat aku yang aneh-aneh dan untungnya aku yang kamu chat. Kalau aja orang lain.”
“Ya thank god, it's you.”
“Han,”
“Mingyu, aku pusing banget masih pengar, kamu malah marahin aku, ini masih pagi.”
“Ngerti orang khawatir gak sih kamu, han?!”
“Okay, I'm sorry.”
Bisa tebak sekarang Jeonghan sedang apa? Ya betul.. Menangis.. Teleponnya sunyi. Keduanya tidak bicara sepatah kata pun.
“Aku bukannya mau ngelarang atau gimana, han, aku khawatir, kalau ada apa-apa gimana? Kamu berdua mabok, aku harus nanya sama siapa kamu dimana? Aku juga yakin kamu tau batas toleransi alkohol kamu sama Jisoo segimana. Gak usah coba-coba, yang. Lain kali ajak aku gapapa, supaya aku bisa awasin kamu.” Jelas Mingyu. “Han, kamu denger gak aku ngomong?”
“Denger.”
“Yaudah, maaf aku marahin kamu. Sekarang dimakan dulu supaya gak pengar. Aku perlu kesana gak?”
“Gak usah kalau masih marah.”
“Udah gak marah. Indomie udah diganti ya, lunas.”
Jeonghan terkekeh pelan melihat satu kardus indomie ia janjikan dan entah kapan dibelinya. “Aku ngapain semalem? Parah ya?”
“Nangis-nangis gak jelas. Aku di muntahin.”
“Demi apa??” Jeonghan lantas menciumi tubuhnya dan jelas tercium bau tidak sedap akibat muntahnya semalam. “Ewww, kamu pulang gimana?”
“Pake hoodie aku yang kamu hak milik.”
“Yahh, kok pake itu, sih, yang lain kan ada, ming.”
“Ya kan punya gua, terserah gua, yang, dari pada telanjang pulang ke kosan.”
“Balikin lagi nanti!”
“Enak aja punya gua!”
“Kamu kasih ke aku!”
“Kapan? Kamu ngaku-ngaku!”
“Ih malesin lo, ming. Pagi-pagi bikin kesel.”
“Ya dari pada bikin anak.”
“Orang gila.”
“Elu gila, yang. Baca gak semalem ngajak gua ngapain?”
“IHHHH, ITU MABOK!”
“Masih berlaku, yang. Kalau mau bilang aja. Gua meluncur sekarang.”
“Kim Mingyu, gila!”
“Yaudah kalau gak mau, dah, gua mau tidur lagi, ngantuk.”
“Ih gak asik banget.”
“Bilang kalau mau, jangan gengsi.”
“Gak tau ah, males.”
...
Jadi atau engga, biar mereka dan semesta yang tau. Karena seluruh dunia akan cemburu kalau tau.. (lagi).