“Disini aja deh,” Ujar Jisoo dengan tangan yang penuh dengan pesanan makanannya.

Tanpa disadari tempat yang dipilih Jisoo sejajar dengan sekumpulan laki-laki yang sedari tadi mengisi kebisingan di kantin siang ini.

“Jisoo!” Sapa laki-laki yang memiliki rambut ikal bernama Taehyung dengan mengangkat alisnya.

Jisoo menjawab dengan senyuman manis.

Dalam hati sedikit menyesal karena harus bersebelahan dengan mereka, berisik. Tetapi apa boleh buat, tempat lain sudah dipenuhi oleh mahasiswa lain yang juga ingin mengisi perutnya sebelum kembali menguras otak di dalam kelas.

“Sumpah rame banget,” Ucap Jisoo sambil perlahan mencicipi nasi goreng dihadapannya.

“Udah makan aja, jangan ribet. Gak ada tempat lagi.” Ini Jeonghan yang sedari tadi sudah menghabisi sebagian nasi goreng miliknya, bahkan sudah sempat mencicipi nasi goreng milik Jisoo. Menurut Jeonghan, entah kenapa, pesanan orang lain selalu terlihat lebih menarik dibanding pesanannya. Padahal menu yang dipesan sama persis.

“Liat, deh, yang sebelah Taehyung. Jangan nengok dulu! Pelan-pelan nengoknya, jangan obvious banget!”

“Yang pake kemeja?” Tanya Jeonghan setengah menengok orang yang Jisoo maksud.

“Iya! Ih dibilang jangan langsung nengok!! Dia nanti geer! Ngomongnya juga pelan-pelan bisa gak?!”

“Gak bakal kedengeran kali, disini kan rame,”

“Dia bukan anak sini gak sih? Gak pernah sekelas, deh, iya gak?”

“Gak tau gak kenal.”

“Ih, coba liat dulu mukanya yang bener!”

Jeonghan benar-benar menatap pria itu dengan seksama, tanpa malu dan berpikir bahwa orang yang dimaksud Jisoo itu akan merasakan kalau dirinya tengah diperhatikan oleh Jeonghan.

Dan benar, kebanyakan orang juga akan merasakan kalau sedang diperhatikan meskipun dari kejauhan sekalipun, begitu pula laki-laki yang dimaksud Jisoo itu. Merasa diperhatikan, lantas ia berpindah tempat duduk meninggalkan makanan dan minumannya yang sudah habis itu ke tempat dimana Jeonghan duduk, tepat di sebelahnya.

“Kenapa? Kalo mau kenalan bilang aja, tapi sebenernya udah pernah ketemu sih, kayaknya lu gak inget,” Sapanya saat sudah duduk rapi di samping Jeonghan.

“Geer!”

“Terus kenapa ngeliatin?”

“Kata Jisoo lo bukan fakultas sini, gue mau tau aja, soalnya gak pernah liat juga.”

“Masa sih gak pernah liat? Coba diinget-inget waktu OSPEK,”

Demi Tuhan, saat itu Jisoo kepalang panik karena kebodohan Yoon Jeonghan, sahabatnya, yang malah dengan sengaja menatap dalam laki-laki yang sedang mereka bicarakan diam-diam, dan sekarang malah menyeret namanya atas kesalahan yang ia buat sendiri. “Sumpah gue gak bermaksud ngomongin lo, cuma penasaran aja, dianya aja nih gak bisa diajak kerja sama!”

“Jangan sombong-sombong, Jeonghan, di follback ya kalo ada yang follow.” Laki-laki itu tidak mengindahkan perkataan Jisoo, ia hanya berfokus kepada lawan bicaranya sedari tadi.

“Apaan sih, gue aja gak tau lo siapa!” Jawab Jeonghan yang sudah dipastikan kehilangan selera makannya kali ini.

“Makanya dibaca, dong, kalau ada yang jbjb, jangan dicuekin”

“Gak jelas, deh”

“Yaudah, diabisin, deh, makanannya, nanti mubazir, gua bakal sering-sering kesini kok, oke?” Si laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya dan bersiap meninggalkan kantin. “Taehyung, gua duluan ya! Bro duluan!”

“Yoi, Ming! Mampir lagi!”

“Siap, gampang itu, mah.”