“tumben temen kamu gak ada,” seperti biasa, tentu saja mingyu saat ini sedang makan siang bersama dengan jeonghan, dan di fakultas jeonghan.
“nanti kesini, belum selesai kelas dia.” jelas jeonghan.
benar saja, belum ada 5 menit dari pembicaraan jeonghan dan mingyu barusan, jisoo sudah menampakan diri. terlihat sangat penat padahal hanya baru menghadiri satu kelas.
“makan dulu,” ucap jeonghan sesaat jisoo mengambil kursi untuk duduk tepat di depan jeonghan.
mingyu yang duduk di samping jeonghan mulai merasa bahwa kehadiran dirinya sudah tidak diperlukan lagi. seperti biasa.
“iya nanti dulu, capek banget baru selesai kelas.” jisoo masih berusaha mengatur napas dan mengusir penatnya.
“bosen banget gua liat lo mulu.” sepertinya mingyu akan merasa ada yang kurang kalau setiap hari tidak meledek jisoo.
“tadi kamu nyariin.” ucap jeonghan akan selalu ada di tim jisoo.
“kangen kan lo sebenernya?” ledek jisoo seraya bangun dari duduknya untuk memesan minuman.
“mana ada. dari kemaren perasaan gua liat muka lo mulu.” ucap mingyu yang sepertinya dari dalam hati yang paling terdalam. ya tentu saja, karena setiap kali mingyu merencanakan untuk pergi bersama, akan selalu ada jisoo sebagai ‘orang ketiga’ diantara mereka. “bosen banget kayanya, dah.”
jisoo lalu kembali dengan segelas es teh manisnya, “emangnya kenapa sih? lagian lo pacaran sama temen gue. yang lain aja harusnya.”
“lo sebagai temen harusnya pengertian dong. temen lo kan mau pacaran. ya gak, yang?”
yang ditanya masih sibuk mengunyah makanan yang sedari tadi belum juga habis.
“orang jeonghannya aja gapapa, kok, gue ikut. lo-nya aja ribet, deh.”
“jeonghan gapapa, gua apa-apa.”
sampai keduanya botak pun sepertinya tidak akan ada yang mau mengalah. seharusnya jeonghan merasa spesial sekarang, karena dua orang terdekatnya itu memperebutkan dirinya, tetapi yoon jeonghan tetap lah yoon jeonghan, dia bahkan untuk melerai saja tidak ada tenaga. agaknya jeonghan malah meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah bayi yang terjebak di dalam tubuh orang dewasa.
keduanya mulai sedikit mereda setelah datang dua orang yang sangat akrab untuk mingyu. ini kali pertama mereka benar-benar singgah di fakultas lain. biasanya hanya lewat atau ada perlu yang tidak lama. kali pertama juga menginjakkan kakinya di kantin fakultas seni rupa dan desain ini. sangat berbeda sekali suasananya dengan kantin fakultas tekniknya mereka. tidak perlu dijelaskan dengan detail, sepertinya bisa ditebak mana yang lebih baik.
“oy, ming.” soonyoung yang langsung mengambil tempat duduk didepan mingyu. disamping jisoo.
“ngapa pada kesini, sih. katanya mau rapat.” mingyu sedikit terkejut dengan kehadiran dua kawannya itu.
“jangan geer, kita mah mau kenalan sama jeonghan, bukan mau nyamperin kamu.” seokmin menambahi.
mingyu berdecak, lalu memperkenalkan kawannya itu pada jeonghan yang sekarang sudah selesai dengan makanannya. “yang, ini yang waktu itu disebut-sebut mamah. seokmin.” menunjuk seokmin dengan botol air mineralnya, lalu ke soonyoung, “kalau ini soonyoung. sekamar nih berdua di kosan.”
jeonghan hanya melempar senyum. terlalu kenyang untuk menyapa.
“tenang aja, han. aman sama kita, mah. diliatin biar gak macem-macem.” ucap soonyoung yang sudah merasa akrab, padahal belum ada sekian menit berkenalan.
“iya, apalagi sama si anu itu, tenang weh lah. nanti dijewer kalo masih ketemuan.” seokmin tidak mau kalah.
mingyu sudah bersiap-siap untuk melayangkan botol kosong yang sedari tadi dipegangnya, tetapi lebih dulu ditepis jeonghan. “jangan aneh-aneh, banyak orang.”
“kaga, yang. udah gak pernah ketemu. aku di jaehyun sama mereka-mereka doang.” panik sih ada, ya ming?
“iya iya. lagian gak ada yang nanya juga kamu masih sering ketemu apa enggak, kenapa panik, sih?”
“gak panik, yang. ngejelasin doang.”
“bisa aja dah, ngelesnya” soonyoung meledek.
dibalik keributan mereka, disisi lain ada jisoo yang asik sendiri mengecek jadwal selanjutnya di ponsel pintarnya sambil menyantap silky pudding favoritnya. kali ini yang dimakan adalah rasa cookies and cream. benar saja yang jeonghan bilang, sepertinya jisoo membekali dirinya dengan puding itu dari rumah, dan tiba-tiba saja sudah habis setengah cup.
ada juga yang meskipun sedang terlibat didalam keributan tersebut masih sempat mencuri-curi pandang ke sosok yang terhalang soonyoung dari tempatnya.
baru kali ini ada orang makan puding aja cakep banget. batin seokmin.
dari tempatnya bisa terlihat hidung bangirnya yang sempurna, senyum manis yang membentuk garis tipis di ujung bibirnya, rambutnya yang ditata rapi. bagaimana bisa memalingkan pandangannya.. bahkan untuk sedetik pun seokmin tidak mau terlewat.
masih terus asik memandangi si dia itu, sampai sudah tidak lagi menyimak apa yang sedang dibicarakan soonyoung, mingyu dan jeonghan. fokusnya habis ditelan hong jisoo, yang kemudian bangun dari duduknya.
oh pudingnya sudah habis.
“bareng, han.” ucap jisoo sambil membawa kembali gelas es tehnya untuk dikembalikan ke penjualnya, membawa juga sampah cup pudingnya yang sudah bersih. sendok kecilnya dibiarkan menggantung di mulutnya.
luar biasa ciptaanMu...
“aku kelas dulu.” jeonghan berpamitan lalu menyusul jisoo pergi.
seokmin masih belum kembali dari lamunannya, pandangannya masih mengikuti kemana jisoo pergi, sampai benar-benar tidak bisa ditangkap indera penglihatnya lagi.
“ngelamun aja, HEY!” soonyoung membuyarkan lamunan seokmin.
“yaudah lah ayok ke sekre. udah rame ini di grup.” mingyu bersiap.
seokmin yang masih setengah sadar bertanya, “ming, itu tadi temennya jeonghan bukan?”
“bukan. anak sd nyasar. au kenapa ada disini.”
“gimana?”
“hayuk dah jalan buruan ini udah ditanyain.”
ya sudahlah. setidaknya tidak ada penyesalan karena sudah mengikuti instingnya untuk menghampiri mingyu di fakultas lain, siapa sangka kalau sekarang giliran seokmin yang kasmaran.