“ming, kamu sayang gak sama aku?” tanya seokmin kepada sahabat karibnya yang saat ini sedang sibuk bersama smartphone miliknya yang sudah banyak goresan disana-sini.

“apaan sih anjing” jawab mingyu sembari bergeser dari duduknya agar tidak lagi diganggu seokmin.

“ijin sebentar yah” masih belum menyerah.

sejujurnya, mingyu sedari tadi pun sedang berusaha mencari-cari alasan agar si pacar bisa mengerti kalau—khususnya hari ini—mingyu tidak bisa apel malam minggu seperti biasa, karena masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan dalam rapat malam ini.

“lu mau gua jedotin kali ya, seok?”

“sebentar aja atuh da, ini juga kita lagi break, nanti malem balik lagi, yah, ming?” rengek seokmin lagi.

mingyu tahu betul betapa stressnya seokmin belakangan ini karena banyaknya tekanan dari sana-sini, sementara permasalahan yang dihadapi timnya belum juga menemukan titik terang. waktu yang tersisa pun tidak banyak.

“mau ngapain sih lu? giliran gua kabur dikit aja dicariin mulu perasaan”

“kerumah jisoo” jawab seokmin sedikit takut.

“anying, gua kira ngapain. penting banget apa sih?”

“penting. sore udah balik deh, ming, tolong dulu atuh ya. ini paling nanti siang dikit ada orang vendor, tolong temuin dulu sama soonyoung, yah?”

berbeda dengan mingyu yang masih selalu bisa mencuri waktu untuk bertemu jeonghan, either sekedar makan siang bersama, mengantarnya pulang dengan selamat, atau menemani jeonghan di studio untuk menyelesaikan projectnya bersama jisoo—meskipun hanya 5 menit. seokmin justru selalu meminta jisoo untuk memberinya waktu untuk menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu, atau dengan kata lain, seokmin selalu menghindar untuk bertemu dengan jisoo.

bagi seokmin, jisoo adalah kesayangannya, jadi harus selalu disayang, dicintai, dan diberi banyak kebahagiaan. seokmin takut sekali kalau dia bertemu jisoo disaat emosinya sedang tidak stabil—seperti akhir-akhir ini—malah akan membawa hal buruk. contohnya, malah menjadikan jisoo sebagai ‘punching bag’nya perkara permasalahan acara yang tidak kunjung usai. mimpi buruk sekali kalau sampai hal itu bisa terjadi.

maka dari itu, demi kesehatan mental sahabatnya yang sekarang menjabat sebagai ketua umum, dengan berat hati, mingyu yang juga sebagai wakil ketua, harus merelakan kepergian seokmin. hitung-hitung sebagai pertanda baik, sebab seokmin bukan tipe orang yang senang berbagi kesedihan, bahkan kalau bisa bersembunyi sejauh mungkin, bisa saja seokmin benar-benar melakukannya hanya karena ia sangat tidak ingin orang lain melihatnya di kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. pertanda baik juga untuk hubungan yang sudah hampir meregang itu.

“tumben… udah bener otak lu?” tanya mingyu.

seokmin berdecak malu, “ya… katanya jangan sering-sering kabur, kan?”

“yaudah pergi dah lu buruan. banyak alesan aja lu, bilang aja kangen jisoo. susah amat.”

“makasih, ayangggg… emang paling pengertian dah, gak ada lagi di dunia ini yang sebaik dirimu” seokmin memeluk mingyu dan mencoba untuk mengecup pipinya karena kepalang bahagia.

mingyu menghindari ciuman seokmin, “apaan sih anjing. najis banget. nanti malem balik lagi lu ya. awas aja. oh iya, jangan bilang-bilang jeonghan. nanti ngamuk. gua bilangnya hari ini rapat penting, gak bisa izin”

“iya gampang. pokoknya itu di urusin dulu ya, ganteng. nanti aku balik lagi. jangan lupa mam siang, sayang” biasa, kalau ada maunya selalu manis.

“bawel. pergi aja lu buruan.”


tidak pernah sekali pun jisoo melarang atau bahkan mengekang seokmin untuk melakukan apapun yang seokmin inginkan. sayangnya, hal tersebut malah membuat seokmin terbuai. terlalu asik dengan pelariannya, sampai lupa ada yang menunggu, ada yang rindunya sudah menumpuk.

ternyata menghindari jisoo justru malah membawa malapetaka. permasalahan yang dihadapi seokmin tidak kunjung berkurang, penat setiap hari dan tidak ada tempat berbagi. sementara jisoo, ia rindu sendiri, stress sendiri, dan bingung sendiri. semua keputusan yang diambil seokmin tidak memberinya titik terang.

kecuali hari ini. hari ini ada titik terang. hari ini benar-benar puncaknya, seokmin merasa ada yang hilang. terlebih saat membaca pesan dari jisoo beberapa saat lalu. hatinya nyeri sekali. merasakan kerinduan yang dipendam jisoo selama ini. betapa beratnya untuk jisoo, yang juga sedang menggarap sebuah project perdananya bersama jeonghan. dengan orang tua yang jauh darinya, sahabat yang juga sama stressnya, sekarang pacarnya juga menghindar.

jisoo yang selalu menumpahkan segala keluh kesahnya kepada seokmin. selalu menceritakan tentang apapun, bahkan hal kecil sekalipun, seperti contohnya saat jisoo tidak sengaja menelan semut yang masuk kedalam gelas air minumnya, dan banyak lagi. kini sudah jarang, atau bisa dibilang tidak ada lagi cerita-cerita random dari jisoo.

lalu disini seokmin sekarang, didepan rumah jisoo seperti yang ia katakan di pesan balasannya. sebelum semuanya terlambat, sebelum ada pertengkaran yang tidak perlu terjadi, sebelum datang orang dari masa lalu.

tok! tok!

seokmin mengetuk pintu perlahan.

otaknya berisik.. mempersiapkan kata-kata yang ingin disampaikan.

tidak sampai 2 menit, sang pemilik rumah keluar.

kesayangannya.

menyambut seokmin dengan senyum manis khasnya. “hai,”

kalau tidak karena gengsi, mungkin seokmin saat ini sudah menangis sejadi-jadinya. memikirkan kebodohannya meninggalkan si sayangnya ini.

seokmin membalas sapaan jisoo dengan pelukan hangat yang akhir-akhir ini tidak lagi dirasakannya. rindu sekali rasanya.

jisoo membalas pelukannya tanpa berkata apapun. hanya mau seperti ini sedikit lebih lama untuk melepas rindunya.

“udah makan belum, yo?” seokmin memberanikan diri membuka percakapan setelah melepas pelukannya.

“belum,” jawabnya

seokmin sudah bersiap untuk menceramahi jisoo. karena haram hukumnya untuk jisoo terlambat makan. apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 2 siang. tetapi jisoo lebih dulu melanjutkan perkataannya, “aku tungguin kamu, kamu juga pasti belum makan, kan?”

“kok nungguin aku? kamu nanti perutnya sakit, yo” seokmin khawatir.

“engga, yaudah ayok masuk makanya, aku udah pesen makanan kok dari tadi, gak apa ya aku yang pilih makannya apa?”

demi tuhan hong jisoo, mana bisa seokmin marah kalau begini ceritanya. “ya gak apa dong. ayo makan dulu, yuk”

kapan terakhir kali mereka bersama seperti ini pun tidak ingat.

kebiasaan jisoo yang hanya makan sedikit dan selalu menyisakan hampir sebagian makanannya.  kalau kata soonyoung porsi makannya jisoo adalah porsi bayi. beda lagi kata mingyu, katanya lambung jisoo kecil, makanya makannya sedikit. dan tidak lain yang selalu jadi ‘penampungan’nya adalah si pacar, lee seokmin. dia justru akan sangat dengan senang hati nambah makan tanpa harus membayar lebih, hehe.

***

seokmin sekarang merebahkan diri dengan paha jisoo sebagai bantalnya di sofa. menikmati acara di tv yang sama sekali tidak mereka simak adalah agenda selanjutnya. keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. mau sekali bertanya tentang kabar satu sama lain, apa yang membuatnya senang, sedih, marah, atau cerita apapun seperti biasanya. tapi terlalu bingung untuk memulai.

sampai jisoo yang akhirnya memecah keheningan diantara keduanya, “kamu cerita dong, beng, capek ya? bagi ke aku sini capeknya”

“kamu juga capek, yo, iya gak? susah ya permintaan clientnya?”

“aku kan tanya kamu duluan, kamu jawab aku dulu” katanya. tentu saja, hong jisoo, juara satu menomor dua kan dirinya sendiri.

seokmin diam sejenak. berat sekali baginya untuk menceritakan apa yang ia rasakan. apa yang harus diutarakan. bagaimana cara merangkai perasaan dan pikirannya menjadi sebuah kalimat. seokmin sama sekali tidak tahu. terlebih, ini sudah menjadi keahliannya untuk menyimpan lelahnya rapat-rapat tanpa diketahui siapapun.

“capek, yo”

“berat ya jadi ketua umum?” tanya jisoo.

seokmin bangun dari tidurnya. kini menyandarkan dirinya ke sandaran sofa. membuat dirinya senyaman mungkin. pandangan nya masih fokus kepada tv yang sedari tadi bicara sendiri. “berat, yo. aku udah percaya diri banget awalnya. soalnya team aku emang orang-orang yang aku percaya, yo. aku juga dibantu mingyu. ada soonyoung juga. tapi tetep aja, payah banget aku, yo. pusing”

jisoo juga merubah duduknya. kini fokusnya berpindah ke seokminnya. “terus sekarang lagi ada masalah apa?”

seokmin tidak tahu ada sihir apa, atau kerasukan apa dirinya. ternyata ini tidak serumit yang ia pikirkan.

“banyak, yang tadi dibicarain sih soal sponsor, yo. belum banyak yang masuk. kita jadi gak bisa dp guest star. terus hari ini mau ada first meeting sama orang vendor. bingung mau bicarain apa. uangnya aja belum ada.”

jisoo bermain-main dengan surai seokmin yang berantakan karena tidurnya tadi, menyusurinya dengan jari-jarinya, membiarkannya tersesat di sana sambil terus fokus dengan apa yang seokmin katakan. “terus apa lagi?”

“masalahnya, yo. aku gak enak kalau mau marah sama team. karena.. ya gimana, yo. kita temen main semua. kalo marah sama mereka kaya gak tau diri. udah dibantuin, tapi malah marah-marah, kan. ya tapi, kerjanya belum maksimal, yo. bingung banget aku. yang kena semprot dari dosen sama senior ya aku. tapi mereka masih asik aja ketawa-ketawa, yo.” seokmin tanpa sadar sudah mengikuti alur yang jisoo ciptakan.

jisoo hanya menyimak dan memandangi indahnya paras sang kekasih meskipun hanya melihatnya dari samping.

“aku juga jadi stress sendiri, yo. aku sama sekali gak mau marah sama orang lagi. aku takutnya malah bikin mereka sakit hati, atau parahnya takut kelepasan. tapi ya gitu, yo... gak ada kemajuan. apa akunya yang payah banget kali ya, yo.” seokmin masih melanjutkan keluh kesahnya.

kini jisoo memastikan kalau seokmin sudah selesai dengan perkataannya, “beng..”

“hmm” seokmin mengalihkan pandangannya dari tv, dan tersadar kalau sedari tadi jisoo memandanginya dengan khusyu. “kok liatin aku?”

jisoo terkekeh, “gak susah kan ya?”

“apa?” tanya seokmin yang sekarang juga sibuk memandangi jisoo.

“ceritain semuanya, bagiin pusingnya kamu ke aku”

seokmin tertohok. tidak sadar sedari tadi sudah menumpahkan semua isi otaknya kepada jisoo. padahal yang ia lakukan hanya menjawab pertanyaan yang jisoo lontarkan. dirinya juga tidak terlalu banyak berpikir selama berkeluh kesah tadi.

“yo..”

“besok-besok dibagi lagi semuanya ya, kamu gak harus pusingin ini sendiri. begitu juga ke team kamu, dibicarain baik-baik. kalau mereka tau posisi kalian lagi di dalam sebuah kepanitiaan, harusnya paham ya, gak perlu sakit hati. karena kan bukan lagi nongkrong, jadi harus bisa menempatkan diri. masalah yang lain juga, dibicarain sama divisinya masing-masing, jangan kamu yang pusing sendiri cari solusinya. team kamu banyak, hebat-hebat, terlebih lagi, kamu bilang mereka orang-orang kepercayaan kamu, kan? percayain mereka untuk bisa bantu kamu cari solusinya ya..” jisoo meyakinkan seokmin. ucapannya pelan dan menghangatkan. jisoo tahu betul bagaimana menghadapi kekasihnya yang mudah tersulut  emosi dan betapa sesaknya seokmin karena terlalu lama memendam semuanya sendiri. “kamu gak payah, sayang. kamu tuh keren, hebat, aku bangga banget kamu bisa bertahan sampe sekarang. terlepas dari beratnya permasalahan dan tekanan yang kamu lewatin. aku percaya kamu pasti bisa selesain acaranya dengan baik, beng. begitu juga team kamu yang udah kasih kamu kepercayaan untuk jadi yang paling bertanggung jawab di acara kali ini.”

seokmin terdiam sejenak dan sekali lagi mempertanyakan tentang hal baik apa yang dia sudah lakukan di kehidupan sebelumnya, sampai-sampai bisa memiliki kekasih hebat seperti jisoo. semua tentang jisoo selalu membuatnya jatuh cinta seperti kali pertama mereka bertemu. tidak pernah berkurang sedikitpun cintanya.

“aku boleh cium kamu gak, yo?” ucap seokmin.

“kangen ya sama aku?”

“banget.”

“kamu sih. aku hampir aja pacaran sama soonyoung.” jisoo kembali dengan mode: iseng.

“ahhh, kok gitu, yo? aku mah kan sebentar, yo, gak lama kan kemarin ilangnya?”

“lamaaaa.. males. aku gak mau cium.”

“jangan gitu, yo. iya aku gak ilang lagi ya… aku cerita yang banyak nanti ke kamu, ke temen-temen, semuanya, yo.. yaa??”

lucu sekali seokmin kalau panik seperti ini. rasanya mau lebih lama lagi isengnya. tapi jisoonya juga terlalu rindu.  “gak mau cium, mau peluk aja yang lama.”

tidak butuh waktu lama, sudah tenggelam kini jisoo dipelukan seokmin. diusap-usap kepala jisoo. sesekali diberi kecupan rindu. “gantian, yo. ceritanya, ya?”

dan sekali lagi, dunia cuma milik mereka berdua. sampai seokmin lupa kalau tadi izinnya cuma sebentar dan harus segera kembali memimpin rapat di kampus.

-