sekarang giliran si dua sejoli ini yang menghabiskan waktu bersama.
sesampai nya di apartemen milik jeonghan, keduanya merebahkan badan mereka asal di sofa berwarna putih di ruang tamu. mingyu lalu membalas pesan dari seokmin yang menanyakan si gebetan, yang ternyata kini juga sedang berbalas pesan dengan jeonghan.
“jisoo besok minta temenin beli puyo. kamu sih tadi gak mau nungguin,” ujar jeonghan setelah meyakinkan jisoo kalau dirinya akan menemani nya besok.
“takutnya kemaleman, yang. tadi juga kita udah tanya ke booth di sebelah nya, mbak nya gak tau juga yang jaga puyo nya kemana.”
“yaudah, besok temenin lagi, ya?”
“kamu lah. kan jisoo ngajaknya kamu.”
jeonghan mendengus mendengar jawaban mingyu dan berlalu untuk membersihkan diri setelah bepergian tadi.
***
ini bukan satu atau dua kali sudah mingyu mengunjungi apartemen jeonghan. bahkan mingyu sudah mulai sering untuk menginap. bukan tanpa alasan, melainkan karena waktu yang ia punya untuk bersama jeonghan tanpa ‘bayi-bayi’ nya hanya di tengah malam, setelah semua gangguan benar-benar berhenti, setidaknya untuk sejenak.
malam ini pun mingyu tidak berencana pulang ke kosan nya. atau mungkin kata ‘pulang’ disini sudah berpindah tujuan semenjak ia bersama jeonghan. ‘pulang’ nya kini adalah ke apartemen jeonghan, atau jeonghan nya itu sendiri.
semerbak aroma buah-buahan seketika menyeruak seraya jeonghan keluar dari kamar nya. sudah rapi, bersih, dan wangi. tandanya jeonghan sudah siap sekali untuk pergi tidur.
atau mungkin siap untuk semangkok indomie di tengah malam.
“mingyu, kamu mau indomie gak?” tanya nya yang membuyarkan fokus mingyu dari ponsel nya.
“belum kenyang apa gimana sih, yang? udah malem.” jawab mingyu ketus.
“mau apa enggak?” tanya nya lagi.
mingyu lantas bangun dari posisi rebahan nya, “aku mau mandi dulu, ah”
“jawab dulu, mau atau enggak?” jeonghan masih berdiri disisi sofa menunggu mingyu untuk menjawabnya.
mingyu tentu tidak punya pilihan selain meng-’iya’ kan pacar nya itu. tentu bukan karena dirinya juga ingin menyantap indomie di dini hari ini, tapi karena mingyu sangat paham kalau jeonghan hanya perlu ditemani. mingyu tahu kalau jeonghan tidak nyaman kalau hanya makan sendirian, sementara orang lain hanya menyaksikan nya makan. “yaudah mau, indomie goreng, dah, satu.”
senyum kemenangan merekah diwajah jeonghan, dan dengan sigap jeonghan mengeluarkan apa yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tangan nya, “nih,”
“emang ngasih kerjaan aja lu, yang, malem-malem. ampun dah.”
jeonghan memberikan mingyu 2 bungkus indomie, maksudnya adalah supaya mingyu yang membuatkan nya, “hehehe, thank you.. nanti habis makan baru mandi, biar sekalian sikat gigi.”
“au ah.”
***
tidak perlu waktu lama untuk mingyu menyelesaikan misi nya membuatkan jeonghan indomie di tengah malam.
menit-menit selanjutnya pun berjalan dengan khidmat sambil mereka menikmati ‘cemilan’ tengah malam nya di meja ruang tamu. duduk bersebelahan dengan alas karpet bulu-bulu pilihan mama santi waktu itu.
tiba-tiba panggila video call masuk dari kontak bertuliskan ‘Bunda’ di ponsel jeonghan. hanya perlu sekian detik untuk jeonghan mengangkat panggilan tersebut.
“kakak….” sapa bunda cantik di seberang sana sambil melambaikan tangan nya ber-dadah ria menyapa anak satu-satunya itu.
“kok bunda belum tidur? disana udah malam, kan?” tanya jeonghan yang terheran Bunda nya masih terlihat sangat bersemangat ditengah malam seperti ini.
belum sempat Bunda nya menjawab, nampaknya ada tamu yang juga ingin menyapa. “bundaa…”
“eh, haloo, kakak lagi sama teman, ya? bunda masih tungguin ayah selesai kerja, kak.” jawab bunda yang diseberang sana sedang berjalan-jalan di sekeliling rumah. yang tentu saja jeonghan masih ingat setiap sudutnya.
“pacar, bun.” yang menjawab malah si tamu.
“loh, kakak punya pacar di Bandung? bunda dikenalin, dong”
“iya, ini mingyu,” jawab jeonghan seadanya.
“yang bener, yang.” mingyu mengambil alih video call nya, “bunda, ini mingyu pacarnya jeonghan, anak bunda satu-satunya. satu kampus, bun. nanti kapan-kapan mingyu ke lombok kenalan langsung sama bunda. ini belum diajak aja, sih, bun. suruh pulang, bun.”
jeonghan berbisik, “sok asik banget, sih.”
“emang gua asik, yang.” jawab mingyu.
bunda hanya terkekeh melihat keduanya, “iya, mingyu, salam kenal ya. tolong dijaga ya anak bunda. memang anaknya cuek banget, ini kalau bunda gak video call duluan gak akan kasih kabar. bunda kangen, nih, padahal.”
“dengerin, yang.”
“iya denger.” jeonghan kembali mengambil alih, “kakak lagi sibuk, bunda. i’m sorry.”
“sibuk apa, sih? dikasih tau dong bunda nya”
lagi-lagi mingyu menyahut lebih dulu, “sibuk ngurusin bayi, bun. si jisoo tuh, bunda kenal gak?”
“oohh, jisoo. pernah kakak kenalin kan, kak?” bunda malah menanggapi serius.
“nggak, bukan sibuk itu, bun. urusan kuliah aja, sama paling organisasi.” sambil menyantap indomie nya jeonghan memberi penjelasan, yang sebetulnya sangat singkat itu.
“ooh gitu. kakak, makan apa? mie lagi ya? mingyu dibilangin dong, jangan makan indomie terus...” bunda mengadu.
“iya emang, nih, bun. masa malem-malem diajakin makan indomie, kalau gak diturutin nanti bete dia, bun.” nampak sudah akrab sekali sepertinya kim mingyu dengan bunda.
“kak, jangan begitu, dong... makan yang sehat ya, kak? bunda kan jauh, gak bisa pantau kakak terus. tolong ya kak..” meskipun sangat khawatir, bunda masih bisa menyampaikan maksudnya dengan sangat lembut dan penuh rasa sayang.
“iya, bunda...” jawab jeonghan yang sedikit kecewa tetapi jauh didalam hati nya, ia mengerti sekali maksud dan rasa khawatir bunda nya yang jauh di kampung halaman.
“jangan iya-iya doang, yang.”
“yaudah, iya. gak makan mie lagi besok.”
“ini abis ini mingyu gak diajak ngomong nih, bun. bete dia.”
bunda tentu paham betul dengan tabiat anak nya itu, “gak apa, mingyu sayang-sayang aja... nanti juga luluh. kakak kalau marah gak lama, kan? cuma sering aja. hehehe..”
mingyu merasa menemukan teman satu timnya kali ini, “bener, bun. iya dah, nanti di sayang-sayang, dah..” sambil mengelus lembut kepala jeonghan yang sedang asik dengan indomie nya. “bunda, nanti kalau mau tanyain han, ke mingyu aja. mingyu jawab lengkap setiap jam han ngapain aja.”
“oke, deh, mingyu... ini sebentar lagi ayah udah mau selesai, bunda tutup ya, kak?” tanya bunda sebelum mengakhiri panggilan video call nya.
“iya, nanti kakak telepon lagi. kalau gak ada mingyu.”
“dih, gitu. udah ngambek, nih, bun.” kali ini mingyu yang mengadu.
“hahaha, iya, bunda tungguin telepon nya kakak. jangan dimarahin, kak, mingyu nya...”
“enggak.. yaudah, bun, kakak salam buat ayah.”
“okay, good night, kakak dan mingyu. i miss you, kak..”
“miss you too, bunda.”
“good night, bunda. mingyu salam ya buat ayah..”
***
siapa yang sangka kalau seorang yoon jeonghan, yang sebelumnya tidak pernah menyangka, kalau hari-hari nya kini akan banyak ‘diganggu’ oleh seseorang bernama kim mingyu. dan dengan kesadaran penuh, jeonghan justru menyukai kehadiran mingyu. meskipun ia tidak mengatakan atau menunjukkan nya secara terang-terangan.
entah sejak kapan juga, rasanya akan sangat sepi tanpa mingyu yang mengisi sisi kosong di tempat tidur yang cukup besar apabila ditiduri seorang diri, di apartemen milik jeonghan itu. beruntungnya, tidak perlu diminta pun mingyu akan sangat dengan senang hati menghabiskan malam nya bersama jeonghan. membiarkan kamar kos nya hampir lupa, apakah mingyu penghuni tetap nya, atau tamu yang memang sering berkunjung sesekali.
“yang, dengerin tadi bunda ngomong.” mingyu membuka percakapan sebelum tidur mereka.
“iya.. kamu udah ngomong berapa kali, sih.” jawab jeonghan sedikit kesal.
“bete, kan?”
“nggak.”
“bete, tinggal bilang aja juga.” mingyu menggoda jeonghan yang sekarang membelakangi nya.
“kamu ngomong sekali lagi aku bete beneran.”
kalau hanya ada mereka berdua, biasanya mingyu seperti menjelma menjadi manusia lain, “yaudah kalau gak bete. tapi didengerin, yang, tadi tuh bunda khawatir. kabarin aja gitu, yang. biar gak penting juga bunda pasti seneng. bilang aja 'mingyu hari ini ganteng banget, bun.' atau apaan gitu.”
jeonghan dibalik badan nya selain menyimak, sesekali ia mengernyitkan dahi nya. memang mingyu nya itu mau serius seperti apapun, akan tetap ada guyonan yang terselip disetiap ucapan nya.
“tadi juga, tuh. bunda bilang apa coba? katanya bunda jauh, gak bisa pantau kamu makan nya apaan aja setiap hari. mana kamu nya juga gak bakal bilang, kan, makan apa aja hari ini.. makanya jangan sering-sering makan indomie, makan seblak. bukan ngelarang, tapi nanti sakit kan kasian bunda juga.” masih terus berlanjut mengoceh nya.
kalau sudah seperti ini, biasanya tidak akan berhenti sampai semua keluhan nya tersampaikan. jeonghan bisa apa selain menjadi pendengar yang baik.
“ini mulai sekarang aku beliin, dah. sarapan, makan siang, makan malam. biar nanti laporan ke bunda, ini anak nya udah makan makanan empat sehat mingyu sempurna. ciaaa..”
dan kali ini jeonghan berbalik badan, “mingyu..”
mingyu berpaling untuk menjawab kekasihnya.
tetapi lebih dulu mendarat sebuah kecupan singkat di bibir mingyu.
“tidur.” ucap si pelaku yang kini mengubah posisi tidur nya dengan menenggelamkan dirinya di badan besar si pacar.
“yaaah, kalau mau ciuman mah bilang, yang. ayok, ulang lagi.”
jeonghan hanya menggeleng dan malah semakin menyembunyikan diri di pelukan mingyu nya.
“gimana, dah. gak bertanggung jawab ini.”
“tidur, mingyu. udah pagi.”
“ciuman dulu, dah. gimana?”
“nope.”
tidak mau memaksa, mingyu memilih untuk membalas pelukan lalu mengecup pucuk kepala si sayang nya itu, “yaudah tidur, dah. yang tadi di dengerin, tuh.”
jeonghan mengangguk.
“i love you..”
masih dibalas dengan mengangguk.
“aduh, patah hati banget gua, dah. masa gak dijawab i love you nya. udah gak sayang ini, mah.” mingyu melepas pelukan nya.
jeonghan nya malah seperti bayi yang tidak mau lepas dari ibu nya. merengek karena peluknya dilepas.
“gak, gak mau gua dipeluk. jawab dulu itu i love you nya.”
si gengsi ini berucap i love you secara langsung mungkin hanya satu kali dalam satu purnama. i love you nya selalu dalam bentuk lain. tetapi mingyu terlalu frustasi untuk mendengar tiga kata itu. sudah lama sekali dirinya tidak dibikin salah tingkah dengan kata-kata manis dari mulut jeonghan. bila diingat terakhir kali nya adalah sehari setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
dan kali ini pun sepertinya belum saatnya. jeonghan malah membalas nya dengan satu kecupan lagi. kali ini dipipi kiri mingyu.
“au amat, dah. bisa kaga tidur nungguin i love you doang.” lalu dipeluk lagi jeonghan nya dan berbagi kehangatan.
—
gapapa mingyu, besok coba lagi ya...