What Kind of Future
malam itu, di hari ulang tahun jisoo, ada beberapa keluarganya yang turut hadir untuk merayakan. mereka datang dengan utuh, dalam artian keluarga yang sesungguhnya—ayah, ibu, dan anak-anaknya.
setelah selesai dengan prosesi potong kue serta nyanyian-nyanyian untuk menyelamati hari lahir laki-laki dengan senyum manis itu, kini mereka memutuskan untuk bernyanyi-nyanyi ria. setiap keluarga yang hadir dengan kompak menyanyikan lagu yang mereka pilih. saling merangkul seakan memamerkan ke seluruh dunia bahwa keluarga mereka lah yang paling kompak malam itu.
lalu sampai pada giliran jisoo dan maminya. lagu yang dipilih sedikit lebih syahdu dibanding dengan lagu-lagu yang dipilih keluarga sebelumnya. mereka dengan khidmat saling berpandang, dan melafalkan setiap lirik seakan saling mengucap rasa sayang satu sama lain.
sementara itu, ada seokmin yang sedari tadi ikut memandangi dari kejauhan. sengaja memutuskan untuk menyendiri sejenak untuk membiarkan acara keluarga ini berjalan dengan sebagaimana mestinya. atau dengan kata lain, ada hal-hal yang mengganggu pikirannya saat itu.
ada perasaan perih ketika seokmin menyaksikan penampilan jisoo dan maminya. merasa bahwa kekasihnya itu berhak merasakan kehangatan keluarga seutuhnya, terlebih lagi malam itu adalah hari paling bahagianya.
tepukan dan sorai bersambutan ketika ibu dan anak laki-laki tersebut selesai dengan penampilannya. dan mungkin semua sudah terlampau lelah, sebab selanjutnya mereka berhamburan kesana-kemari. ada yang kembali duduk di sofa, pergi ke kamar mandi, mengisi ulang gelas minumannya, atau kembali menyantap makanan yang sudah disajikan di meja.
detik selanjutnya, jisoo mengambil langkah untuk menghampiri seokmin. baru menyadari ada yang kurang di dalam ruangan tamu tadi.
“kok sendirian?” tanya jisoo.
“seru banget kamu. aku liatin aja dari sini.” jawabnya sambil menegak gelas yang sedari tadi hanya dipegang tangan kanannya.
jisoo lantas tertawa kecil mendengar jawaban kekasihnya itu. ia tahu kalau seokmin memang masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan keluarga besarnya, “sepi ya pas aku nyanyi tadi? cuma berdua sama mami.”
deg
dadanya serasa dipukul saat itu juga, “enggak, ah. serasi gitu kamu sama mami… top lah pokoknya.”
seokmin memang selalu juara satu dalam hal berucap kata-kata yang menenangkan. meskipun jisoo tahu betul kalau perkataannya tersebut hanya untuk membuatnya tidak merasa kecil di tengah keluarga besar yang hadir lengkap dengan seluruh anggota keluarganya.
keduanya berbalik badan untuk kemudian memandangi hamparan langit malam. sepi sekali, tidak ada bintang yang turut meramaikan malam ulang tahun jisoo kali ini. seperti keramaian satu-satunya hari ini hanya ada di ruang tengah lantai 2 rumah jisoo.
lalu mereka pun tenggelam dengan pikirannya masing-masing. seokmin yang masih berkutat dengan keraguan-keraguan yang mengusiknya beberapa waktu belakangan ini. ragu akan masa depan ya bersama jisoo yang akan berakhir seperti apa. ada atau tidaknya masa depan mereka saja, seokmin masih belum yakin sepenuhnya.
sementara jisoo yang akhir-akhir ini mulai mempertanyakan ada apa dengan hubungan mereka. setiap percakapan terdengar hampa, bahkan sosok yang disebelahnya kini tidak terasa nyata. diam-diam ia selalu berharap kalau lebih baik ada pertengkaran, dari pada harus merasa kosong seperti yang ia rasakan kini.
“bisa gak ya?” tanya jisoo yang membuyarkan semua pikiran tidak baik, yang seharusnya tidak mengganggu, khususnya hari ini.
“hm?” seokmin lalu menoleh.
“punya keluarga utuh lagi? maunya cuma itu, kok.” katanya jisoo dengan penuh harap.
seokmin tersenyum miris. dalam hatinya berbisik, ‘ada aku, jisoo. aku sudah menawarkan itu sejak lama. aku pernah gak, ya? kamu pertimbangkan untuk bantu mewujudkan mimpinya kamu itu? kenapa masih bertanya-tanya…”
tanpa menjawab, seokmin hanya menawarkan telapak tangannya, dengan maksud untuk meminta disambut oleh milik jisoo. dan tentu saja jisoo membalas permintaan genggaman tangannya. sesekali dipandangi dan dirasa lagi hangatnya.
jisoo tentu tahu, ajakannya ini bukan sekedar untuk saling menggenggam, tetapi juga tawaran dari seokmin untuk mewujudkan mimpinya itu bersama. memang tidak diungkapkan, ia hanya merasa sudah terlalu banyak menuntut kekasihnya itu. padahal, seokminnya hadir di hari lahir dan di antara keluarga besarnya saja sudah dirasa lebih dari cukup.
“kamu jadi gak bisa, ya? ikut aku? udah lama banget gak ketemu papi. aku kangen.”
satu lagi permasalahan mereka.
“belum aku pikirin kalau itu, sayang. nanti, yah… aku ngobrol dulu sama atasan. abis gitu, baru aku kasih tauin kamu, yah?”
“jerman, ya?
“iyaa… jauh, ya?”
jisoo mengangguk pelan. menggenggam lebih erat lagi tangan yang mungkin beberapa waktu lagi akan sulit digapai. berusaha sekuat hati menahan apa yang ia punya untuk tidak pergi meninggalkannya apapun yang terjadi, lagi.
berat juga untuk seokmin memutuskan pergi ditengah hubungan mereka yang terasa sedang tidak baik-baik saja. sebab itu pula, ia tidak bercanda ketika ditanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini, adalah ‘sibuk mempertahankan hubungan’.
dan malam hampir habis. hampir selesai juga perayaan hari ulang tahun jisoo.
“udah mau selesai, deh, ulang tahunnya.” kata seokmin sambil menengok jam tangannya.
jisoo masih belum bisa mengeluarkan bahkan satu kata pun. satu sisi, ia sangat bersyukur dengan semua orang yang masih turut memeriahkan hari lahirnya dengan bahagia, tetapi jisoo juga tidak pernah tahu kapan itu semua akan hilang, dan lagi.
seokmin menghadapkan jisoo kepada dirinya, menangkup wajah cantik itu, kemudian satu hadiah diberikan di keningnya. kecupan yang sedikit panjang untuk menutup hari bahagia ini. “selamat ulang tahun, yah, yang paaaling aku sayang... aku mau nya kamu bahagia terus, sama mami, sama papi, nanti ketemu, yah? jangan sedih-sedih. aku nanti sama, sedih juga. sehat-sehat jangan sakit. semoga selalu dikelilingi orang-orang baik, karena kamu baiiik sekali. yah?”
jisoo mengangguk paham dan kini berlabuh ke dalam pelukan seokmin. “aku bahagianya kalau sama kamu.”
“iya sama aku. kita sama-sama terus, sayang. jangan khawatir pokoknya.”
terlepas dari segala risau, hanya satu permintaan mereka malam ini.
untuk selalu bersama.
dimanapun mereka berada, dan apapun kondisinya.
maunya untuk tetap saling memiliki satu sama lain.
-