malam itu mingyu akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. pulang kepada kekasihnya, yoon jeonghan. setelah malam-malam sebelumnya ia memilih untuk mengasingkan diri sementara di rumah sahabat kecilnya, seokmin.

“a, pulang aja kali, ya.” gelisah mingyu sepanjang malam.

seokmin sudah lelah sekali terus-menerus mendengar keluhan mingyu, “terserah kamu, lah, ming. jujur, aing capek banget denger kamu uring-uringan gini. sok, sana pulang.”

“iya, dah. balik aja, gua. makasih udah nampung.”

“iyah, sama-sama. balik lagi, gapapa, kalau diusir.”

“kaga, lah. anjir, masa gua diusir.”

“siapa tau, ming.”

———

apabila jeonghan adalah sebuah buku, maka mingyu adalah seorang pembaca yang mempelajari setiap kata nya. semakin dibaca, semakin mingyu bisa memahami makna tersembunyi yang tertulis didalamnya.

melebihi siapapun, mingyu lah yang paling mengerti jeonghan. setidaknya menurut dirinya sendiri dan ia percaya diri akan hal itu.

mingyu tahu betul kalau saat ini jeonghannya sedang tidak mengerti tentang dirinya sendiri—untuk kesekian kali. jeonghannya dihadirkan seseorang dari masa lalu, yang mungkin sebelum ada mingyu, seseorang ini lah yang paling mengerti jeonghan lebih dari siapapun.

bohong apabila mingyu bilang ia tidak marah ketika dengan sengaja mengamati percakapan antara jeonghan dan si masa lalunya. merelakan hatinya terus terluka dengan memilih diam dan membiarkan kedua insan itu terus mengenang cerita lamanya.

bahkan ketika secara tiba-tiba dengan mudah jeonghan mengucap kata ‘sayang’. tidak seperti biasanya. sejuta tanya dalam benaknya, apakah memang diucapkan tulus atau hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya mingyu menjadi tidak percaya diri.

selalu, mingyu berusaha untuk memahami apa yang terjadi dan bukan tanpa alasan mingyu memilih untuk mengasingkan diri sementara dari jeonghan. keputusannya untuk tidak mengganggu jeonghan beberapa hari belakangan pun atas dasar usahanya membantu jeonghan menyusun pikiran-pikirannya dengan rapi terlebih dahulu, seperti pintanya setiap kali mereka sedang menghadapi suatu masalah.

tetapi yang terjadi malah semakin gundah saja hatinya ketika membiarkan jeonghan harus menghadapi semuanya seorang diri. tidak sampai hati membayangkan jeonghan menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti, bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan.

apalagi ketika jeonghan berusaha memberi tahu hal kecil seperti yang ia bilang pada percakapan terakhirnya di whatsapp, “ga makan mie dua hari.” ada senyum bangga merekah dibibir mingyu namun sesak dalam hatinya.

mingyu tahu, jeonghan juga sedang berusaha sebisanya.

lalu, diambilnya langkah-langkah kecil ketika ia sampai, di sebuah unit apartemen yang sudah ia tinggali bersama jeonghan dalam kurun waktu belakangan. sampai-sampai mingyu merasa rindu ketika jauh, sebab yang ia tahu, setiap pulangnya adalah selalu ke tempat ini.

rencana-rencananya sirna begitu yang pertama ia lihat adalah jeonghan sedang tertidur di sofa ruang tamu mereka yang berwarna putih. dibalut luaran berbahan rajut warna soft pink kesayangannya, tubuhnya mengecil karena tidurnya yang meringkuk menyesuaikan dengan panjang sofa. di salah satu tangannya, jeonghan masih menggenggam handphone miliknya. mingyu menyimpulkan bahwa mungkin jeonghan sedang menunggunya pulang, kembali kepadanya.

mungkin juga sebaiknya, untuk kali ini mingyu tidak boleh egois dan membiarkan rasa cemburu mengambil alih dirinya.

mungkin sebaiknya, mingyu harus mengalah. dengan berat hati.

mingyu mengusap lembut wajah kekasihnya yang masih tertidur lelap, tidak menyadari kehadirannya. dalam hatinya berteriak, “aku sayang kamu” sekencang-kencangnya. bukan karena ragu dan semata hanya untuk meyakinkan dirinya, mingyu tulus. dan ia berharap didengar, berharap tersampaikan, berharap dapat dirasa.

perlahan jeonghan membuka matanya setelah merasakan sentuhan di wajahnya. lalu senyum manis menyambut mingyu yang masih fokus memandangi jeonghan.

“tidur nya di kamar, jangan disini.” ucap mingyu ketika yakin jeonghan sudah benar-benar tersadar dari tidurnya.

“baru sampe?” tanya jeonghan yang sama sekali tidak mengindahkan perkataan mingyu. ia sendiri pun tidak ingat mengapa bisa ia tertidur di sofa.

mingyu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan jeonghan, “aku mandi dulu, abis itu packing. kamu lanjutin lagi aja tidurnya.”

bagaimana bisa?

justru jeonghan kembali bertanya-tanya, mengapa sampai saat ini mingyu belum bertanya, mengapa seolah menghindarinya, dan bertingkah seperti semuanya baik-baik saja.

di dalam kamar mereka, kini jeonghan duduk bersila dengan satu koper cukup besar yang terbuka di depannya, yang sebagian sisinya sudah terisi beberapa baju dan kebutuhan-kebutuhan yang akan mereka bawa pergi ke lombok nanti untuk menghadiri pernikahan jisoo, sahabat lama jeonghan.

salah satu pakaian yang sudah terlipat rapi itu, yang sengaja ia taruh paling terakhir, adalah pakaian yang jeonghan beli dengan segala pertimbangan. berkali-kali mingyu dipusingkan karena pakaian itu.

“batik, atau kemeja, ya? apa suit?”

“terserah, yang.” selalu begitu jawab mingyu.

“celananya mau apa?”

“sepatunya yang mana?”

“ini cocok, gak?”

“atau yang ini aja?”

segala isi lemarinya dikeluarkan, dipasangkan dibadannya satu-persatu, mencari yang cocok dan terlihat bagus.

setelah diputuskan, akhirnya terpilih satu kemeja, yang saat ini sedang ia seka perlahan. membayangkan bagaimana kekasihnya dibalut kemeja ini. tidak sulit bagi jeonghan untuk memahami selera pakaian mingyu setelah bersama cukup lama.

yang seharusnya mingyu tahu, adalah bukan tentang untuk siapa dan karena siapa jeonghan begitu serius perihal mencari sepasang pakaian.

jeonghan terlalu bersemangat membayangkan ia menghadiri hari bahagia sahabatnya yang dikenal tidak pernah serius setiap menjalin hubungan dengan seseorang, membayangkan memperkenalkan mingyu yang selama ini membuatnya merasa dicintai kepada kedua sahabat lamanya, membayangkan dirinya kembali ke rumah yang sebenarnya sudah lama ia rindukan.

jeonghan tidak pernah sebahagia itu akhir-akhir ini. sebelum cerita-cerita masa lalu yang tidak pernah diketahui akhirnya terungkap. sebelum perasaan yang tidak pernah terbalas itu kembali menyeruak. sebelum orang yang dulu selalu menemaninya mencari jati diri itu kembali setelah pergi begitu saja.

sampai akhirnya, ada hati yang terluka disini.

“kamu udah?” mingyu kembali setelah mandi, dengan masih menyeka rambutnya yang basah dengan handuk, “segini doang yang mau dibawa?”

jeonghan mengangguk, “iya.”

masih dalam diam, mingyu melanjutkan gilirannya untuk mengemas barang-barang yang akan dibawa.

sesak sekali bagi jeonghan. kalau boleh memilih, lebih baik sekarang mingyu berteriak, menyumpah serapahi dirinya, apapun itu, asal tidak diam.

mengapa tidak bertanya, tentang hyungwon, tentang bunda, apa saja. jangan diam seperti ini.

meskipun jeonghan sendiri tidak pernah tahu, apakah ia sudah menyiapkan segala jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.

“mingyu.” ucap jeonghan lirih.

“hm?” jawab mingyu yang masih sibuk merapikan pakaian dan barang keperluannya.

“beneran gapapa?” sekali lagi jeonghan memastikan untuk kesediaan mingyu pergi menemaninya pulang ke lombok.

ada senyum pahit di wajah mingyu, “gapapa, sayang tiket pesawatnya.”

atau dengan kata lain, mingyu memang senang menantang diri. ingin sekali lagi menguji dirinya sendiri, sejauh mana batas kepercayaan dirinya itu dan seberapa kuat cintanya kepada jeonghan.

seketika pun semuanya telah siap.

tetapi tidak dengan setengah hati mingyu dan jeonghan yang dipenuhi dengan ragu dan takut.

masih ragu, apakah harus benar-benar pergi?

takut, tidak sekuat yang diperkirakan untuk menghadapi yang akan terjadi.

dan untuk malam ini saja, biarkan jeonghan yang memeluk mingyu dalam tidurnya. tidak apa kalau mau dibilang—sekali lagi—untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau benar-benar yakin bahwa ia sangat mencintai mingyu.

untuk malam ini saja, biarkan mingyu merasakan hangat peluk jeonghan dan merasa dicintai meski dalam perasaan yang sedang bimbang. mungkin ini cukup untuk memberinya sedikit kekuatan.

terakhir, do’a mingyu malam ini adalah; semoga malam ini sedikit lebih panjang.