first love never dies

yoon jeonghan tidak pernah tahu apa itu cinta. tidak ada satu orang pun yang mengenalkan cinta kepadanya, tidak terkecuali ayah dan bunda. tidak pernah juga ada rasa ingin tahu tentang apa itu cinta. rumah yang ditinggali hanya sebagai tempatnya berlindung dari panas dan hujan. tidak pernah ada cinta yang terucap, terlihat, dan terasa olehnya.

terus begitu sampai ia dipersatukan semesta bersama jisoo dan hyungwon sebagai sebuah kelompok belajar. awalnya memang pertemuan mereka adalah untuk menyelesaikan tugas salah satu mata pelajaran, tetapi seiring berjalannya waktu, justru mereka lebih nyaman berada di rumah jeonghan dibanding jeonghan sendiri.

bahkan sudah bukan sesuatu hal yang aneh lagi ketika jeonghan mendapati jisoo tiba-tiba sedang menangis tersedu-sedu di pelukan bundanya. tentu teman perempuannya itu akan lebih memilih untuk mencurahkan perasaannya kepada bunda setiap kali ia dihadapi dengan permasalahan percintaan, dibanding kepada yoon jeonghan yang sering kali tidak mengerti tentang perasaannya sendiri.

terkadang juga ia mendapati hyungwon yang membahas bisnis dengan kedua orang tuanya. menurut jeonghan, sungguh bukan pembahasan yang seharusnya dibicarakan dengan anak sma.

dan tentu saja jeonghan takjub dengan kedua temannya itu. bagaimana bisa mereka lebih dekat dengan orang tuanya dibanding ia sendiri, bagaimana mereka bisa menjadi teman bicara yang baik sementara dirinya butuh keberanian lebih untuk sekedar bilang tidak atas segala permintaan ayah dan bundanya.

satu lagi, yoon jeonghan tidak pernah punya kuasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. semua nya sudah diatur berdasarkan ingin dan ambisi kedua orang tuanya.

kehadiran jisoo dan hyungwon setidaknya sedikit memberi warna di kehidupannya. banyak sekali hal yang akhirnya jeonghan tahu dan pelajari dari mereka. terlebih tentang cinta.

jisoo yang berkali-kali terluka karena ia selalu saja salah dalam memilih seseorang untuk dikencaninya, tidak henti-hentinya ia memberi pesan kepada jeonghan, “han, pokoknya, lo gak boleh pacaran sama orang yang mulutnya manis gini, biasanya di awal doang. abis itu lo pasti dibuang, dicuekin.”

jeonghan catat dalam benaknya; tidak boleh pacaran dengan orang yang bermulut manis.

lalu hyungwon yang berbeda dengan jisoo. hyungwon mengajari jeonghan bagaimana menjadi jujur dengan diri sendiri. apa yang ia mau, tujuan hidupnya, mimpinya, yang membuatnya senang, apapun itu.

“han, gue pengen jadi arsitek. nanti, gue bikinin lo sama jisoo rumah yang bagus.” begitu kata hyungwon di suatu hari ketika mereka telah selesai dengan tugas sekolahnya dan dilanjut dengan obrolan asal ketiganya.

hyungwon selalu membantu jeonghan untuk berbicara terlebih tentang apa yang mengganggu pikirannya, “tapi menurut aku sendiri ya, bun, kalo kitanya gak seneng, nanti malah gak enak kedepannya. iya, kan, bun? jadi mendingan bunda tanya dulu aja, han mau atau enggak, bun. ” jawabnya ketika bunda menyampaikan keinginannya terhadap jeonghan untuk melanjutkan bisnis keluarga.

dengan begitu jeonghan telah jatuh cinta.

ia merasa resah ketika tidak bertemu hyungwon meski satu detik. ia tersenyum lebih banyak karena hyungwon selalu meyakinkan jeonghan kalau suatu hari nanti ia pasti punya mimpi untuk diwujudkan. jeonghan tidak lagi terlalu khawatir karena hyungwon percaya bahwa ia akan baik-baik saja meskipun dihadapkan dengan ekspektasi tinggi dari kedua orang tuanya.

namun yoon jeonghan tetaplah yoon jeonghan yang terlalu naif untuk mempercayai perasaannya sendiri. masih terlalu muda juga untuk memahami kalau itu cinta. terlebih lagi, jeonghan terlalu takut kehilangan apa yang ia punya saat ini, pertemanannya dengan hyungwon lebih berharga dari perasaan yang ia sendiri tidak mau mengakuinya. dan akhirnya memilih orang lain untuk menjadi kekasihnya.

semua baik-baik saja, tidak ada satu pun yang berubah. sampai tiba saat dimana mereka merayakan hari kelulusan dengan usia yang sudah legal.

dengan baik hati, bunda mengizinkan mereka memakai salah satu villa milik keluarga untuk merayakan hari bahagianya. saat itu juga, bertepatan dengan hari patah hati jisoo yang kesekian kali, dan jeonghan yang juga baru putus cinta.

dua insan itu sudah melayang tinggi akibat minuman beralkohol yang terus mereka tegak.

“jeonghan, kan udah gue bilang, lo.. jangan pacaran… sama yang… gak baik… liat sekarang… lo… kita… jadi sedih… harusnya kita happy, party…” ucap jisoo susah payah.

“gue juga gak tau… kalo dia putusin gue… ya.” jeonghan masih bisa menjawab meskipun saat ini matanya sudah berat sekali.

“lagian… lo… harusnya… cari pacar, tuh… yang baik… yang kaya hyungwon…”

hyungwon yang masih dalam keadaan sadar hanya terkekeh melihat kedua temannya yang sedang patah hati itu.

jeonghan yang duduk disebelah hyungwon mulai meracau, “iya… hyungwon… lo… harusnya… lo… yang jadi pacar gue… kalo lo… yang jadi pacar gue… lo pasti bakal perlakuin gue lebih baik kan? lo… pasti… gak bakal ninggalin gue, kan, hyungwon? jawab, dong… jangan diem aja…”

kemudian hyungwon membawa jeonghan mendekat, sampai kemudian ia bersandar padanya, “iya jeonghan, harusnya kita pacaran, ya?”

“iyaaa….lo… gak tau, ya? gue tuh…. suka… sama lo, hyungwon. tapi… kayanya bertepuk sebelah tangan…”

lucu sekali pikir hyungwon. pipinya merah merona akibat terlalu mabuk, tak kuasa untuk tidak diusapnya perlahan, “yaudah sekarang kita pacaran aja, deh. biar gak bertepuk sebelah tangan. mau gak?”

“hmm… mau, hyungwon…”

“sekarang pacaran, ya, kita? hm?”

“iya…” jeonghan semakin merapatkan tubuhnya kepada hyungwon. mencari kehangatan karena angin malam terus menyapa mereka yang masih di halaman belakang villa.

jisoo ikut bersuara setelah kehilangan kesadaran beberapa menit lalu, “iya, pacaran aja… lo berdua.”

“hyungwon… cium…”

sontak membuat hyungwon terkejut, “hm?”

“cium, hyungwon..”

karena hyungwon adalah teman yang baik, ia selalu menuruti apa pinta jeonghan. dan dengan begitu keduanya kini bergulat dalam sebuah ciuman.

“yah… mau difoto… lagi, ciumannya…” jisoo yang bersusah payah mencari ponsel genggamnya harus kecewa karena melewatkan yang baru saja terjadi.

“hyungwon…” jeonghan bersuara lagi, “jangan pergi, hyungwon…”

“iya, gak pergi, han.”

“disini… ya…”

“iya”

“hyungwon… nanti… bikinin gue rumah…”

“iya, han. nanti gue bikinin.”

“hyungwon… janji ya?”

“janji apa, han?”

“janji… dulu… selamanya kita… ya… hyungwon”

“iya, han. selamanya.”

“sampe mati”

“hahaha, iya, sampe mati.”

“janji… hyungwon”

“iya, janji, jeonghan”

kemudian satu kecupan mendarat dikepala jeonghan seraya membawanya ke alam mimpi. tanpa menyadari kalau hyungwon bisa saja bersungguh-sungguh atas apa yang ia katakan.

kemudian, yang jeonghan ingat hanya ketika ia berdiri di bandara untuk mengantar hyungwon. temannya, cinta pertamanya, akan pergi ke benua lain, jauh darinya. ia tidak pernah siap akan ini.

di sebelahnya, jisoo sudah menangis tersedu-sedu menanti gilirannya untuk berpamitan dengan hyungwon. sementara jeonghan masih mematung dan berusaha mencerna apa yang terjadi beberapa hari belakangan.

sampai giliran jeonghan, “hyungwon.”

“nanti gue pulang, han.” satu dua pat pat mendarat di kepala jeonghan, “baik-baik di bandung.”

ah, bandung.

diantara ketiganya, jeonghan adalah orang terakhir yang kemudian memutuskan untuk mendaftar ulang di kampus yang sudah menerimanya, di bandung. tentu bukan pilihannya sendiri untuk melanjutkan kuliah disana. berat langkahnya untuk pergi dari rumah, tetapi alasannya untuk bertahan pun sudah tidak ada disana lagi.

hyungwon yang mengajarinya tentang cinta pun tidak pernah benar-benar memberinya cinta yang nyata.

so, is it true that first love never dies?