suara tertawa abang pun terdengar sampai ke lantai 2 rumah mereka, kamar papa dan daddynya—jeonghan dan mingyu. secara tidak langsung memanggil mingyu untuk mencari tahu apa yang membuat anaknya itu tertawa begitu lepas.

“apaan, sih, bang? pagi-pagi rame amat.” ucap mingyu ketika ia mendapati kedua anaknya sedang mengamati sebuah kotak yang berisi kue.

good morning, daddy. ini, beli kue tapi tulisannya salah.” adek menjelaskan apa yang membuat abang tertawa.

kemudian abang yang masih tertawa memperlihatkan tulisan yang tertera di kue yang ia beli tadi, “happy birthday father’s day, dad”

“lah, gimana, sih,” mingyu lalu ikut tertawa melihat tulisannya, “bang, besok les bahasa inggris, dah.”

“bukan salah abang, dad. ini.. ah gimana ya jelasinnya. ngakak banget, sih, asli.” abang seperti sudah tidak sanggup lagi menjelaskan yang terjadi sebenarnya. masih terasa sangat menggelitik perutnya kejadian ini.

“ini ceritanya buat siapa?” tanya mingyu yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

“ya buat daddy sama papa. happy father’s day. maaf adek sama abang cuma kasih ini.” ujar adek yang langsung disambut peluk dan kecup dipuncak kepalanya oleh mingyu.

tidak peduli hadiah apa yang diberikan, mingyu sudah merasa lebih dari cukup akan kehadiran kedua anaknya ini. bagaimana mereka turut melengkapi dan menemani perjalanan hidupnya bersama jeonghan. sebelumnya tidak pernah terlintas dibenaknya sedikitpun, the idea of being a father of two, a husband. life is just full of surprises yet so beautiful. he's so thankful for that.

kemudian abang menyadari kalau ayahnya yang satu belum ada diantara mereka, “mana papanya, ini masa daddy doang jadinya.”

“sini dulu, bang,” mingyu menghampiri anak laki-lakinya yang sedang berada disisi lain meja makan tempat mereka berada sekarang, untuk dipeluk dan dihadiahi cium ditempat yang sama seperti adiknya, “makasih, ya, bang.”

“sama-sama, dad.”

yang dibicarakan pun muncul dari kamarnya. masih dengan piyamanya yang berupa kaus kebesaran, celana warna-warni yang entah sejak kapan jeonghan mulai mengoleksinya—pagi ini warnanya kuning terang.

happy father’s day, papa. ini tulisan kuenya gak usah dibaca, soalnya gak jelas.” anak perempuan satu-satunya di rumah itu langsung menyambut hangat kehadiran jeonghan.

“waah, thank you.” ucap jeonghan yang sama sekali tidak peduli dengan kesalahan tulisan disana.

“dicium papanya, bang, dek.” perintah si daddy mingyu kepada kedua anaknya.

salah satu privilege menjadi jeonghan di keluarga ini adalah ia akan selalu dihujani banyak cinta, kasih sayang, dan juga cium, baik dari anak kembarnya, maupun suaminya. tidak terhitung sudah kebahagiaannya dan seberapa sering ia mengucap syukur setiap kali hak istimewanya sedang dipergunakan.

thank you, ini kapan belinya? papa gak tau,” tanya jeonghan yang saat ini sedang mencicipi dekorasi kue yang ada dihadapannya.

“baru, abang yang pesan, pa. makanya tulisannya gak jelas.” lagi-lagi adek masih belum bisa membiarkan begitu saja perihal kesalahan tulisan pada kue untuk kedua ayahnya itu.

“kan, terus aja abang lagi disalahin.” abang mengelak.

“emang abang yang salah.”

“yang nulisnya!”

“abang juga!”

“berantem teruusss... masih pagi, ini juga baru romantis dikit,”

“duduk, abang sama adek. kita potong kuenya ya.”

“yah, sarapannya masa kue. bubur ayam kali enak.”

“beli dah sendiri, gih. keluar komplek.”

“males.”