tentang mimpi | jisoo
ada kaki-kaki yang berlarian di halaman dengan rumput yang belum kering pasca diguyur hujan tadi. tidak kenal lelah mereka mengejar satu sama lain. gelak tawanya menggelegar, menyerukan rasa bahagia.
“abah!” teriak anak laki-laki yang peluhnya bercucuran di pelipis. dengan binar matanya yang berkilauan, ia masih gigih mengejar yang ia panggil dengan sebutan abah itu.
“tangkep sini kalau bisa!!!” pria yang sudah tidak muda lagi ini pun tidak mau kalah dengan si kecilnya, buah hatinya. berusaha untuk tidak tertangkap, ia berlari-lari mengitari halaman rumah mereka yang bisa dibilang cukup luas untuk keduanya sering menghabiskan waktu sebagai ayah dan anak.
bahagia turut menyelimuti satu lagi anak adam yang saat ini hanya terduduk di teras yang berhadapan langsung dengan halaman rumah mereka. senyumnya merekah seraya dengan damai menyaksikan ayah dan anak itu berkejar-kejaran. sambil menghirup aroma hujan yang masih segar terasa di indra penciumnya.
dibalut dengan cardigan rajut dan celana panjang, cukup untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin setelah hujan. sementara kehangatan hati dan jiwanya ada di depan sana, sedang bermain-main, saling menggelitik, berlarian sambil tersenyum dan tertawa.
selanjutnya, sang anak yang sudah terlampau lelah mengitari halaman rumah itu kini semakin melemah langkah kakinya. sehingga dengan mudah sang ayah dapat mengejar untuk kemudian dipeluk hangat anaknya itu, disambut pula dengan tawa geli dari keduanya. tangan yang lebih besar menggenggam penuh anak semata wayangnya, membuat mereka tergeletak diatas rumput dan tanah yang basah, akibatnya, pakaian mereka sedikit basah dan kotor.
“hahaha, seru banget ya, bah. papuy gak mau ikutan, sih.” anaknya menggerutu.
“iya, ya.” kata si abah yang kemudian menoleh kepada yang sedari tadi hanya duduk menyaksikan mereka dari teras, “atuh sini, sayang.. ini ada pelangi, nih, bagus banget.”
samar-samar memang terlihat pelangi yang baru saja muncul dari sembunyinya itu. sangat jarang mereka dapat melihat warna-warni menghiasi langit yang perlahan-lahan mulai kembali cerah.
lantas yang dipanggil menjawab, “iya, dari sini aku bisa liat, kok, pelanginya.”
bahagia dan hangat.
persis seperti ini kebahagiaan yang ia mau.
menghabiskan hidup bersama pria pilihannya. lalu kemudian dihadiahi titipan dari Tuhan berupa wujud seorang anak laki-laki, yang tawanya membuat perasaan cukup untuk tidak lagi mengemis kebahagiaan lebih dari apa yang sudah ia miliki saat ini.
semuanya terasa sangat indah, terasa seperti nyata terjadi dikehidupannya.
sampai ia terbangun dari mimpinya.
sampai ia tersadar, kalau bahagianya semu.
sampai yang tersisa hanya air mata.
—