5 menit

hanya sepersekian detik dari masuknya pesan dari seokmin, laki-laki yang sebelumnya terlihat suntuk bersama dengan kertas tugasnya langsung dengan sigap bangkit dari duduknya dan mengambil langkah cepat menuju balkon rumahnya untuk memastikan keberadaan seokmin.

dengan gegabah jisoo lantas membuka pintu berwarna putih yang sebagian tengahnya diisi dengan kaca bertekstur. satu tangannya meraih tepian balkon untuk menjaga tubuhnya tidak melewati batas dan cukup kepalanya yang memandang keluar.

and there he is. bersandar disamping motor sambil terus mengecek ponselnya, sedikit risau karena tanda dua centangnya belum juga berubah menjadi biru.

jisoo sedikit tersenyum setelah melihat seokmin dibawah sana. lagi-lagi dengan cepat ia bergegas untuk menghampiri seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

“sebentar,” ucap jisoo meninggalkan jeonghan yang masih sibuk dengan tugasnya, “lima menit.”

jeonghan bahkan tidak sempat bertanya saking cepatnya jisoo berlari menuruni anak tangga di rumahnya itu, terheran ada apa dengan temannya itu tiba-tiba.

sangat cepat jisoo lalu membuka pintu rumahnya, mendapati seokmin yang juga menoleh ke arahnya. keduanya saling melempar senyum, seakan sangat menanti kehadiran satu sama lain.

“hai” ucap jisoo dengan napasnya yang masih belum teratur.

seokmin lalu membenarkan posisi berdirinya menjadi lebih tegak dihadapan jisoo, “kenapa ngos-ngosan gitu? lari-larian ya?”

“hm?” tanya jisoo dengan matanya yang membulat menatap seokmin, “enggak”

sudah tidak tahu kali ke berapa seokmin mendapati jisoo ini sangat lucu. terdengar jelas napasnya yang saling memburu, pelipisnya yang sedikit bercucuran keringat, tetapi masih saja mengelak. gemas.

dan karena tidak ingin menjadi menyebalkan, seokmin mengangguk tanda ia menyetujui pernyataan jisoo barusan.

“ini aku ada beli cendol di jalan,” ucap seokmin sambil memberikan jisoo satu plastik es cendolnya. tidak ada alasan khusus mengapa es cendol. hanya karena di jalan tadi ia berpapasan dengan pedagang es cendol, maka dibelinya untuk jisoo, “mau?”

dengan senang hati jisoo menerimanya, “thank you,”

“sini aku bantu bukain, ini mau diminum sekarang?”

jisoo mengangguk.

“seger, ya? malem-malem minum es cendol.”

jisoo mengambil kembali plastik es cendol yang sudah dibantu seokmin untuk dibuka ikatan karetnya dan mengangguk lagi karena benar kata seokmin, segar sekali rasanya setelah suntuk yang dihadapi jisoo ketika mengerjakan tugasnya tadi.

“seokmin,” ucap jisoo yang kini di samping seokmin ikut bersandar dengan sepeda motornya, “emang gapapa kamu kesini?”

yang ditanya tadi sebelumnya hanya memandang lurus kedepan menikmati dalam diam kehadiran seseorang di sebelahnya, sesekali melirik dia yang sibuk sekali berusaha meraih cendol dengan sedotan plastik yang sama sekali tidak sekuat itu untuk menampung beberapa cendol untuk bisa sampai ke mulutnya. menambah lagi momen lucu hong jisoo dalam memorinya.

“ya gapapa, emangnya kenapa?”

“katanya jeonghan, kamu lagi main sama mingyu.”

“iya, betul. tapi kata aku kan apa coba?”

“apa?”

“aku mah gak kaya si mingyu-mingyu itu atuh. aku inget kamu terus, makanya kesini.”

“gombal.”

“ih bener. kan katanya jisoo gak enak tadi, sekarang udah enak belum?”

“hmm,” jisoo diam sejenak dan tatapannya berpindah ke arah seokmin, “gak tau, sih. harusnya udah.”

senyumnya seokmin kembali merekah, sedikit lega mendengar ucapan jisoo. meskipun masih menyisakan kejanggalan.

“kapan-kapan, ya? aku mampir lagi. gak malem-malem gini, gangguin jisoo lagi ngerjain tugas.”

“iya. lain kali semoga gak batal lagi, ya?”

“iya, semoga yah.”

kemudian keduanya hanyut merasakan hembusan angin malam. suara yang terdengar hanya bising dari jalan raya yang padahal cukup jauh dari dalam perumahan jisoo. diterangi cahaya dari beberapa rumah yang masih menyala terang, lampu jalan, dan sorot bulan yang malam itu hanya setengah lingkaran terlihat keberadaannya.

tiba-tiba ada pertanyaan-pertanyaan yang mengusik mereka;

apa sebenarnya tujuan seokmin malam ini berada di depan rumah jisoo membawa satu plastik es cendol?

mengapa jisoo merasa terganggu karena hampir batal pertemuannya dengan seokmin?

dan sebenarnya mereka ini apa?

“udah abis lima menitnya!!! hong jisoo, kerjain tugasnya lagi!!” jeonghan memecah keheningan diantara keduanya dengan berteriak dari atas balkon rumah jisoo.

keduanya terkekeh, tidak sadar kalau lima menitnya sudah berlalu.

“makasih ya es cendolnya. seger!”

“sama-sama, jisoo. semangat ngerjain tugasnya, ya!”

“iya.”

“pulang ya, aku?”

take care!”

“pasti, dong.”

“seokmin,”

“iya?”

“kabarin aku kalau udah di kost-an, ya.”

“siap!”