malam ini, ditemani hening, di apartemen tempat tinggal kekasihnya itu, mingyu masih menunggu dengan perasaan hati yang tidak tenang. di ruang tamu, bersama para furnitur yang seakan menatapnya tanpa arti, mingyu terduduk sembari terus melihat ponsel pintarnya menanti-nati pesan dari jeonghan—seseorang yang ia tunggu kehadirannya saat ini.
satu jam, dua jam, tiga jam…
belum juga ada tanda dari kepulangan jeonghan.
masih bersama sunyi, mingyu sedikit terhempas kepada masa-masa kali pertama ia bertemu jeonghan, berbagai hal ia lakukan untuk lebih dekat dengannya, bagaimana akhirnya mingyu meluluhkan hati jeonghan yang sama sekali tidak peka akan kehadirannya, dan saat indah ketika tempat dimana ia berada sekarang ini diisi dengan obrolan ringan keduanya, senda gurau, bahkan berbagi kecupan hangat.
sangat berbeda dengan malam ini, dimana hanya ada suara jarum jam yang terus berdentang menemani berisik di kepala mingyu.
terlepas dari kenangan manisnya itu, ada sedikit rasa hampir putus asa tentang bagaimana kelanjutan kisahnya dengan jeonghan. hampir menyerah untuk mengembalikan semua kenangan indah itu seperti semula. sebab apa yang terjadi pun mingyu tidak pernah mengerti. harus apa dan bagaimana lagi menghadapi yang tersayangnya itu.
namun menurut mingyu, ceritanya belum boleh selesai sampai disini. masih ada banyak yang ingin ia tulis bersama.
tetapi entah menurut jeonghan.
lalu semuanya buyar sesaat mingyu mendengar suara dari pintu masuk, yang ia yakini bahwa sang pemilik tempat tinggal ini sudah kembali. penantian panjangnya telah usai—setidaknya untuk saat ini.
“kamu harusnya bilang dulu kalau mau kesini,” sambutan pertama dari yoon jeonghan seraya ia memasuki huniannya dan mendapati mingyu sudah bersiap diri untuk menjalani maksud dan tujuannya menunggu jeonghan sedari tadi.
mingyu berdiri dari duduknya, berusaha untuk tetap tenang menghadapi kekasihnya itu. “kita ngobrol ya, han.”
jeonghan sedikit terkejut karena mingyu tidak seperti biasanya. langkahnya terhenti dan sedikit terpaku. bingung kemana ia harus menempatkan dirinya. pun untuk menatap mingyu jeonghan tidak sanggup.
“mingyu… aku gak tau—“
“yaudah, aku yang ngomong duluan,”
ada cukup jarak diantara keduanya sekarang. mingyu yang masih berdiri tepat di depan sofa tempatnya menunggu tadi, menatap jeonghan yang kini bersandar pada dinding ruang tamunya dengan tangan yang terlipat dan terus menatap ke seisi ruangan, kecuali mingyu.
“han, aku bingung sama kamu. bingung banget… gak ngerti aku, mau kamu apaan. kamu tiba-tiba marah sama aku, tau juga enggak permasalahannya apa. tiba-tiba juga kamu gak mau ketemu, segala macem...”
ada jeda yang diambil mingyu, paham kalau sedikit lagi dirinya akan meledak.
sementara jeonghan masih terdiam berusaha mencerna apa yang mingyu ucapkan. merenungi perilakunya selama beberapa waktu belakangan ini.
“aku udah berusaha, han, buat tanya kamu kenapa. kamu jawabnya ‘gapapa, gapapa’ terus, tapi aku tetep dicuekin. aku gimana bisa ngerti? tolong, han, coba kamu ngertiin aku sekali aja. bilang aja ke aku, kenapa? aku ada salah apa? aku tanya karena wonwoo juga kamu bilang ‘enggak’ tapi tiba-tiba minta pulang. aku harus gimana, sih, han? kasih tau aku.”
“mingyu, ini bukan tentang wonwoo, gak usah bawa-bawa dia di setiap permasalahan kita lagi.”
“iya, oke. terus jadinya karena apa? han, bunda khawatir sama kamu. aku setiap ditanya bunda, tuh, bingung mau jawab apa. aku gak tau kamu ngapain, dimana, sama siapa. aku jadi kaya gak tanggung jawab sama omongan aku ke bunda, han. padahal kamu yang terus menghindar.”
“hmm...”
“han, aku gak mau kaya gini terus. ngomong ya, han? kasih tau aku harus gimana…”
untuk mingyu, tentu apa yang terjadi di antara dirinya dan jeonghan ini sangat melelahkan. mungkin itu juga yang menyebabkan ia hampir menyerah.
dan tanpa disadari, air mata jeonghan sudah tidak lagi bisa terbendung. mau seberapa cepat disapu pun mingyu tahu kalau kekasihnya menangis.
ini kali pertama bagi mingyu melihat jeonghan menangis. ada keinginan untuk segera membawanya ke dalam pelukan, menghapus air matanya, dan berharap agar semuanya segera menemukan titik terang.
“kamu pergi aja, mingyu. maaf. aku juga gak mau kaya gini. tapi aku gak tau harus gimana.”
“han, ini bukan soal kamu aja, jangan egois.”
“iya, maaf.”
mingyu lantas menghampiri jeonghan untuk sedikit memohon agar tidak begitu saja menyudahi pembicaraan mereka, “aku bisa dengerin kamu, han. jangan kaya gini lagi, tolong...”
sayangnya, jeonghan memilih untuk berlalu menuju kamar tidurnya meninggalkan mingyu, lagi-lagi seorang diri diruang tamunya.
harapan terakhir untuk mengembalikan semuanya hampir pupus.
dan disini lah mingyu, sekali lagi berteman sepi. memijat dahinya yang sudah terasa penat yang teramat sangat, seraya menenangkan dirinya dengan bersandar di sofa.
memikirkan lagi, apa yang sebaiknya ia lakukan.
harus kah benar-benar pergi, dan membiarkan kisah mereka berakhir seperti ini.
—
bagi jeonghan, kepergiannya dengan jisoo tadi, merupakan persiapan yang ia lakukan untuk memberanikan diri menjadi lebih jujur tentang apa yang ia rasakan, setidaknya kepada dirinya sendiri. sementara apa yang terjadi beberapa menit lalu, sangat menguras segala energinya.
awalnya, jeonghan merasa bahwa mengungkapkan kegundahannya kepada mingyu, akan sama mudahnya ketika ia banyak bercerita kepada jisoo sebelumnya. tetapi setelah mendengar rintihan yang diucapkan mingyu tadi, meruntuhkan pertahanannya. yang jeonghan rasa setelah itu adalah kecewa terhadap dirinya sendiri. fakta bahwa ia melukai mingyu, membuatnya hanya bisa menangis dan memintanya pergi.
ada rasa kecewa kembali menjalar ke sekujur tubuhnya, setelah ia membaca kembali pesan dari bundanya. tentang permintaan bunda untuk selalu menghargai dan menjaga orang-orang yang tulus menyayanginya. tetapi nyatanya, yang jeonghan lakukan adalah yang sebaliknya.
kini ia terduduk di pinggir tempat tidurnya, berusaha mengusir air matanya yang tidak juga berhenti mengalir. jeonghan berulang kali mengatur napasnya agar lebih tenang dan bisa berpikiran jernih.
hingga perlahan hujan air matanya reda. kini tersisa keheningan dan redup cahaya dikamar tidurnya, seakan membantu jeonghan menemukan jawaban dari setiap rasa yang hilang itu.
namun, ketika saat ini jeonghan sudah mulai memahami yang terjadi, merasa jauh lebih tenang, dan sedikit bisa menata apa yang ingin ia ungkapkan, semuanya terasa seperti terlambat.
adalah penyesalan terbesar jeonghan meminta mingyu pergi begitu saja tanpa mendengar tentang kegundahannya.
—
belum selesai.
bagi mingyu belum selesai.
selama ia masih belum melangkahkan kakinya keluar dari apartemen jeonghan, kisahnya belum bisa dibilang tamat.
mingyu masih menginginkan jeonghan untuk menemaninya, bersama-sama menulis cerita-cerita baru setiap hari. sampai akhir yang ia inginkan, dan bukan seperti ini mingyu menginginkan ceritanya berakhir.
lalu ia mengetuk perlahan pintu kamar tidur jeonghan, sebagai tanda keberanian diri untuk mencoba kembali memperbaiki yang rusak dan mencari jawaban dari segala tanya.
“jeonghan, aku masuk ya?” tanya mingyu perlahan dari balik pintu.
tidak ada jawaban dari dalam sana.
mingyu lalu memilih untuk membuka sendiri pintu yang menghalangi dirinya dengan jeonghan saat ini dan membawa dirinya memasuki ruangan tersebut.
berjalan perlahan untuk lebih dekat dengan kekasihnya yang ia dapati sedang terlelap. ada senyum tipis terlukis di wajah mingyu, seakan sudah lama sekali tidak menyaksikan jeonghan yang sedang berada di dunia mimpinya itu.
melihat jeonghan tertidur dengan damai, ada perasaan hangat menyelimutinya setelah dingin yang menjadi teman sunyinya selama beberapa waktu lalu. ada butiran air mata yang tersisa di antara paras indahnya. belum sempat mingyu menghapusnya, kekasihnya itu lebih dulu tersadar akan kehadiran mingyu dan terbangun dari tidurnya.
“aku minta kamu pergi, mingyu.” ucap jeonghan dengan suara paraunya.
“aku gak bakal ninggalin kamu, han.” jawab mingyu yang kini menyamakan posisinya dengan jeonghan yang sudah terduduk lagi di pinggir tempat tidurnya.
“han, maaf tadi aku bilang kamu—”
“mingyu, sekarang boleh aku yang ngomong duluan, gak?”
mingyu menatap dalam benih indah jeonghan sembari menghapus air mata yang tersisa. pikirnya, mungkin jeonghan tertidur setelah lelah menangis tadi. “boleh, sayang.”
“oke..” jeonghan tersenyum tipis mendengar jawaban mingyu barusan, atau mungkin untuk menutupi fakta bahwa saat ini ia sangat gugup di hadapan kekasihnya itu.
“pelan-pelan, gapapa. aku dengerin…”
“hmm… aku minta maaf. aku bikin kamu bingung, aku nyebelin, rese, apalagi? semuanya ya?” keduanya terkekeh mendengar ucapan jeonghan, “aku gak bisa ngerti diri aku sendiri, mingyu. aku gak bisa jelasin apa yang aku pikirin dan yang aku rasa. aku gak tau gimana caranya bilang ke kamu.”
mingyu mengangguk tanda ia mendengar setiap kata yang jeonghan ungkapkan saat ini. tangannya saling menggenggam erat, sesekali diusap perlahan dengan ibu jarinya untuk memberikan ketenangan kepada jeonghan.
“aku suka kamu ada disini. aku juga nyaman sama kamu. aku merasa disayang. sama kamu, setiap harinya berharga buat aku. tapi, ada waktu dimana aku gak mau ditemenin. aku butuh sendiri…”
“oke,” mingyu berusaha untuk memahami.
“makanya aku kaya gitu ke kamu. maaf, sekali lagi, ya…”
yang mingyu rasakan justru adalah perasaan lega. karena selama ini, yang ia tunggu adalah apa yang baru saja jeonghan ucapkan. senyumnya kembali merekah. matanya belum bisa lepas dari keindahan di depannya, terlalu rindu untuk melepas bahkan satu detik pun.
“mingyu, jangan diem aja. aku telat, ya?”
“kangen.”
“aku juga.”
ditariknya jeonghan kedalam pelukan mingyu. dibiarkan sebentar untuk merasakan lagi kehangatan yang sangat keduanya rindukan.
“maaf, aku tadi bilang kamu egois. maaf aku selalu marah sama kamu, harusnya aku lebih sabar buat dengerin kamu. maaf ya, han.”
“yang kamu bilang semuanya bener, mingyu. aku yang gak ngerti diri sendiri.”
mingyu lalu mengecup puncak kepala jeonghan, lalu keningnya, sedikit lebih lama.
“kita coba lagi, ya, mingyu?”
mingyu mengangguk setuju.
senyum pun tidak dapat dibendung lagi untuk mekar di wajah jeonghan. ada kupu-kupu dalam perutnya kembali berterbangan selama mingyu berada di depannya berlutut, terus menatapnya tanpa henti. tanpa disadari, jeonghan jatuh cinta lagi, untuk yang kesekian kali..
“aku udah kabarin bunda.” ucap jeonghan bangga.
mingyu hanya mengangguk, ia tahu jeonghan masih berusaha untuk membagikan apapun yang sebelumnya terasa sangat sulit. maka saat ini akan mingyu jadikan sebagai kesempatan untuk mendengar lebih banyak.
“aku pergi sama jisoo, buat cerita,” ada jeda yang diambilnya sejenak untuk mengingat apa yang ia lakukan bersama jisoo tadi, “dia kasih tau banyak, dengerin aku. kamu juga… makasih ya, kamu gak pergi. meskipun tadi aku usir.”
dan tidak ada yang bisa mingyu ucapkan, selain ia pun bersyukur karena tidak benar-benar pergi meninggalkan jeonghan begitu saja. tanpa kejelasan dan akhir yang ia inginkan.
“aku sayang banget sama kamu, jeonghan.”
di pelukan mingyu lagi kini jeonghan berlabuh. “aku nyebelin banget, ya?”
“lumayan,”
“lumayan apa banget?”
“banget, deh.”
memang tidak bisa dibantah, jeonghan pun setuju.
“yang,”
“hmm?”
“i love you.”
“i love you too, mingyu.”
ada peluk yang panjang—dan kegiatan lainnya—menjadi penutup untuk cerita tidak menyenangkan mereka. tidak ada lagi sunyi yang dingin disana, hanya ada dua manusia berbagi kehangatan dan rasa sayang yang lama hilang.